Hubungan Sedekah dengan Etos kerja (Tinjauan dari Hadis Rasulullah saw)

0
48

Oleh : Jumardi

Dari Ibnu Umar r.a. Bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda, ketika beliau sedang di atas Mimbar, Rasulullah saw. Bercerita tentang Shadaqah, memberi maaf, dan tentang orang yang meminta. Nabi saw. Bersabda;” Tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah”.(HR. Bukhari, kitab zakat:18)
Dari Hakim bin Hizam r.a. Nabi saw. Bersabda;” Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, dan mulailah dari orang yang terdekat (kerabat), dan sebaik-baik sedekah adalah dari orang yang kaya, dan siapa yang meminta maaf Allah swt. Akan memaafkannya, dan siapa yang meminta kaya Allah akan memberi kekayaan kepadanya”.(HR. Bukhari, Kitab zakat:18, )[1]
Hadis ini juga terdapat dalam shahih Muslim pada kitab zakat hadis yang ke 2382, 2383, 2385, 2398. Dalam Sunan Abu Daud hadis yang ke 1648, Sunan Turmuzi hadis yang ke 680, Sunan An-Nasa’i bab AL-Yadul ’Ulya, Sunan Ad-Darami dalam bab fadhilah Al-Yadul ’Ulya, Al-Muwatha’ Imam Malik halaman 661 atau hadis yang ke 1881, dan Imam Ahmad bin Hanbal hadis yang ke 15.326
Periwayatan Hadis
Di tinjau dari banyaknya yang meriwayatkan hadis ini dengan redaksi matan hadis yang sama. Ini menandakan bahwa periwayatan hadis ini secara Ma’nawi atau redaksi hadis tidak sama dengan redaksi yang disampaikan Rasulullah saw. Tetapi para sahabat dapat memahaminya kemudian menyampaikannya dengan bahasa atau redaksi sendiri dengan tidak menjauhi apa yang disampikan Rasulullah saw. Hadis ini juga diriwayatakan secara mutawatir oleh para sahabat yaitu; Abdullah bin Umar, Hakim bin Hizam, Syaddad, Abu Hurairah, Thariq al-Muharibi.
Kualitas Hadis
Dari tinjauan periwayatan hadis jelaslah bahwa hadis ini shahih dengan sanad mutawatir.
Makna Hadis
Dalam kitab AL-Lu’Lu’ wal Marjan di jelaskan bahwa yang dimaksud dengan tangan di atas adalah orang yang memberikan sesuatu (Shadaqah), sedang tangan yang di bawah adalah orang yang menerima.
Kemudian yang dimaksud dengan ”Mulailah dengan memberikan kepada orang yang terdekat(kerabat)” adalah agar kita lebih mengutamakan memberikan sesuatu kepada orang yang mempunyai hubungan terdekat kepada kita. Hubungan nasab seperti Ibu, Ayah, Abang, dan Adik kita. Setelah itu baru kepada saudara-saudara Ibu atau Ayah kita. Baru setelah itu kita memberikannya kepada orang yang mempunyai hubungan yang jauh dari kita. Hal ini sesuai dengan apa yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 177:
”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”
Sedekah
Dalam ayat Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 29
“Dan Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya(Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.
Ayat ini turun karena Rasullulah memberikan pakaiannya kepada seorang anak kecil yang beliau jumpai di jalan sehingga Rasulullah sendiri tidak lagi mempunyai pakaian. Ayat ini merupakan teguran bagi Rasulullah agar tidak mengabaikan dirinya atau terlalu mengulurkan hartanya.
Allah menjelaskan bahwa Janganlah kikir dalam bersedekah dan jangan pula boros dalam mengeluarkan harta sehingga tidak ada lagi investasi untuk masa depan. Memang ada hadis yang mengatakan bahwa Abu Bakar Ash_Shidiq dan Abdurahman bin Auf mensedekahkan seluruh hartanya untuk dakwah Islam, tapi itu bukanlah berarti harus mengeluarkan seluruh harta yang kita miliki sehingga kita hidup melarat karena tidak mempunyai apa-apa itulah sebabnya Rasulullah menanyakan kepada Abu Bakar apa yang yang dia tinggalkan untuk keluarganya. Namun Abu Bakar yakin akan rezeki yang Allah berikan sehingga ia sanggup mengatakan bahwa ia tinggalkan Allah dan Rasulnya untuk keluarganya karena ia yakin Allah dan Rasulnya merupakan sumber rezeki baginya dan keluarganya. Namun juga Abu Bakar tidak hanya tinggal diam menunggu rezeki dari Allah dia tetap berusaha dan bekerja untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Karena itu tidak heran saat tiba perintah untuk mensedekahkan harta untuk perang Abu Bakar merupakan orang yang pertama menumpukkan hartanya di antara tumpukan harta sahabat lainya untuk di berikan kepada Rasululah dalam menegakkan Islam.
Hubungan Sedekah dengan Etos Kerja
Coba kita perhatikan perkataan Rasulullah” dan sebaik-baik sedekah adalah dari orang yang kaya” . Hal ini menandakan bahwa jika ingin bersedekah tentunya harus mempunyai harta yang harus disedekahkan sebagaimana Abu Bakar bersedekah. Karena tidak mungkin kita bisa bersedekah jika tidak mempunyai harta yang disedekahkan. Rasulullah juga mengatakan bahwa orang miskin boleh bersedekah tapi lebih baik lagi jika orang kaya yang bersedekah. Hal ini karena orang yang kaya mempunyai harta yang banyak untuk disedekahkan sehingga ia lebih nampak kemaslahatannya bagi umat dibanding orang miskin yang tidak sebanyak apa yang disedekahkan orang yang kaya. Pantaslah sahabat iri ketika melihat sahabat yang kaya yang mereka lebih leluasa mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Namun Rasulullah menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa senyum, membuang duri di jalan, mengucapkan Tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil juga merupakan sedekah.
Mengapa para sahabat iri melihat sahabatnya memiliki harta lebih, Abdurrahman bekerja keras jadi pedagang, Usman bin Affan yang berprofesi sebagai pengusaha, dan sahabat-sahabat lain yang beternak domba, bahkan Rasulullah yang juga pedagang dan pengembala domba? Tidak lain karena tujuan mereka agar bisa bersedekah sebanyak-banyaknya untuk kebangkitan Islam dan kesejahteraan rakyat.
Itulah etos kerja mereka, sedekah, dan memberikan yang terbaik buat Islam. Agar tidak ada lagi yang tak terbantukan oleh mereka dengan harta itu.
Bekerja sebagai profesi apapun seharusnya itu karena keinginan yang kuat untuk bersedekah. Bekerja keras untuk mendapatkan uang sebanyak-sebanyaknya yang akhirnya disedekahkan kepada yang membutuhkan.

Jumardi, S. Ud.
Alumni Fakultas Ushuluddin UIN suska Riau
Guru Pondok Pesantren YASIN Tembilahan

Views All Time
Views All Time
118
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY