Ibadah Haji : Antara Gelar “Haji atau Hajjah” dan Tradisi “Kupiah Haji atau Bulang”

0
15

Para Jama’ah Haji sekarang sudah menyelesaikan “rukun haji” dan di media sosial sudah banyak jama’ah haji yang melepaskan pakaian ihramnnya dan memakai pakaian sehari-hari dan juga terlihat ada yang memakai “bulang” bagi ibu-ibu

Kegiatan Naik haji ini sudah menjadi tradisi yang mengakar pada masyarakat khususnya masyarakat Banjar. Dapat menunaikan ibadah haji menjadi kebanggaan tersendiri bagai masyarakat. Karena apabila seseorang sudah mampu menunaikan ibadah haji maka sekembalinya dari tanah suci akan merubah kedudukan orang tersebut dalam masyarakat.

Tidak hanya mendapat gelar baru yaitu Haji atau Hajjah tapi juga mendapat penghargaan dan kedudukan yang lebih disegani dalam masyarakat. Orang yang sudah naik haji akan dianggap lebih tebal rasa keimanannya sehingga dalam masyarakat Banjar para haji/hajjah ini sering dimintai pendapat untuk mengambil suatu keputusan dalam masyarakat.

Karena, naik haji sudah menjadi tradisi tahunan tak heran banyak hal yang menarik dari tradisi naik haji ini terutama pada masyarakat Banjar. Dimulai dari sebelum keberangkatan sampai kedatangan para haji kembali ke kampung halaman. Biasanya, apalagi calon haji yang berasal dari Hulu Sungai selalu memanfaatkan tradisi mengantar/mengiringi calon haji sebelum keberangkatan dengan seluruh anggota keluarga layaknya mengantar pengantin baru. Setelah tiba dari tanah suci di kampung halaman sudah disiapkan sambutan besar-besaran, mereka menganggap bahwa penyambutan haji ini sebagai penyambutan layaknya menyambut Nabi SAW. Dan para haji pun biasanya ingin dikenal sebagai Haji/Hajjah oleh masyarakat dengan menggunakan identitas tertentu. Seperti pemakaian Bulang dan Kupiah haji

Bulang adalah penutup kepala perempuan berbentuk oval dan mirip sanggul yang dihiasi dengan sulaman dan manic-manik sedangkan kupiah haji merupakn penutup kepala laki-laki berbentuk bulat dan berwarna putih. Bulang dan Kupiah Haji ini mungkin berasal dari tanah suci karena biasanya calon haji/hajjah membawa bulang dan kupiah haji tersebut setelah pulang dari tanah suci. Pemakaian bulang dan kupiah haji ini menjadi ciri khas bagi haji/hajjah. Tak lengkap rasanya jika belum memakai bulang atau kupiah haji karena akan terasa tak nampak status kehajiannya.

Dahulu ketika pemakaian jilbab belum menjadi trend seperti sekarang, maka ibu-ibu atau bapak-bapak yang sudah menunaikan ibadah haji akan menampakkan status agamanya dengan memakai bulang atau kupiah haji. Dari situ orang akan menilai bahwa beliau itu adalah islam dan sudah haji. Namun sekarang ini, pemakaian bulang dan kupiah haji tidak terlalu trend seperti dahulu, hanya di sekitar daerah Hulu Sungai dan Martapura yang masih banyak mempertahankan pemakaian bulang dan kupiah haji tersebut. Di Kota-kota seperti di Banjarmasin sekarang ibu-ibu yang sudah hajjah sudah jarang memakai bulang entah karena tidak trend lagi atau tidak ingin menampakkan status kehajiannya.

Namun daerah hulu sungai masih banyak wanita yang memakai bulang, karena bulang tetap menjadi simbol yang ingin ditunjukkan tentang status kehajiannya. Baik tua atau muda bila dia sudah menunaikan ibadah haji wajib kiranya memiliki dan memakai bulang. Begitu pun dengan kupiah haji para lelaki.

Intinya, ibadah haji bukan hanya sekedar untuk menunaikan kewajiban rukun islam tapi juga bisa memberi prestisius dan penghargaan yang besar bagi orang yang menunaikannya. Karena tidak hanya dianggap mampu tapi juga akan merubah kedudukan orang itu dalam masyarakat menjadi seseorang yang dihargai dan dibanggakan. Salah satu cara untuk menampakkan status tersebut adalah dengan pemakaian Bulang dan Kupiah Haji sebagai simbol kehajian urang banjar. 

Fenomena semacam ini sudah menjadi trend masa lalu dan sekarang ini walaupun sekarang dikenal dengan zaman revolusi industri 4.0 tradisi memakai kupiah haji dan bulang di kalangan umat Islam Banjar khususnya masih ada. Akan tetapi yang sangat disayangkan khususnya ibu-ibu yang memakai bulang saat ini masih banyak yang tidak mengindahkan norma-norma agama dalam berpakaian terutama dalam menutup aurat.

Kita berharap boleh memakai kopiah haji dan bulang akan tetapi aurat tetap menjadi perhatian dan tidak ada dibenak “sang Haji dan Sang hajjah” terbetik kesombongan dalam hatinya.

#opini_153#

Views All Time
Views All Time
15
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY