Implementasi Gerakan Literasi di Sekolah Dasar

0
43

Oleh : Milasari, S.Kom
Guru TIK SMP Negeri 1 Astambul
Kab Banjar Kal-Sel

Gerakan literasi sekolah memiliki pengertian sebagai upaya pemerintah yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, agar sebuah sekolah menjadi organisasi literat dan berjalan sepanjang hayat, serta mampu membawa kebaikan dunia dan akhirat. Lalu, seperti apa organisasi sekolah yang literat dalam pembelajaran? Sekolah literat dalam pembelajaran, dimana seluruh warga sekolah dapat menunjukkan empati dan kepedulian terhadap anak yang ingin tahu dan cinta pengetahuan, cakap berkomunikasi, serta dapat berkontribusi kepada lingkungan.

Menurut hasil survei internasional PIRLS 2011, PISA 2009 dan 2012, yang mengukur keterampilan membaca peserta didik di beberapa sekolah, Indonesia menjadi salah satu peringkat terbawah, memang belum terlalu parah, dan semua masih dapat dirubah, tetapi harus kita perbaiki secara terarah, dimulai dari kegiatan membaca di rumah sampai membaca di lingkungan masyarakat dan sekolah.

Pada abad 21 ini, keterampilan membaca informasi harus lebih kreatif, karena dituntut untuk memahami secara analitis, kritis, dan reflektif.  Semua itu akan terlaksana dengan efektif apabila ada kerjasama yang aktif dan mendapat dukungan dari pihak yang terkait secara kolektif.

Membangun gerakan literasi sejak dini,  dimulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Gerakan literasi harus kita sadari dan pahami, karena dengan gerakan ini, diharapkan mampu membawa masa depan negeri lebih baik lagi. Bagaimana tidak, membaca membuat anak-anak pintar karena budaya membaca yang sudah berakar akan menjadikan pengetahuan mereka kekar sehingga bangsa akan setara dengan bangsa luar.

Kita bisa mencontoh negara lain, yang pendidikannya dahulu cukup memprihatinkan, seperti negara Jepang yang bangkit dengan membangun sekolah dan perpustakaan, sekarang negara mereka maju dengan kecanggihan dan teknologi yang membanggakan. Semua itu kita dapat  juga wujudkan dengan ketekunan dan kegigihan. Mari, kita dukung program pemerintah yang sudah berjalan. Melalui Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 tentang menumbuhkan karakter peserta didik melalui gerakan, membaca 15 menit buku non pelajaran. Pada kenyataannya di lapangan, program ini masih belum berjalan sesuai yang diharapkan.  Budaya membaca peserta didik, atau bahkan juga guru, masih sangat memprihatinkan. Padahal 20% dari dana BOS dapat dianggarkan, untuk membeli buku bacaan dan di pajang di perpustakaan.

Sekarang, bagaimana trik-trik guru, khusunya di sekolah dasar agar siswa suka membaca? Meskipun tidak dapat dijadikan sebagai hobi siswa. Namun,  ibarat pepatah lama, banyak jalan menuju Roma, maka setiap masalah pasti ada solusinya,  dan mari kita coba menerapkannya bersama.

Pertama, sediakan pojok baca disetiap kelas, letakkan buku-buku yang gambarnya jelas, agar membaca tidak jadi malas,  karena berisi cerita menarik serta pengetahuan yang luas, sehingga anak-anak menjadi cerdas. Contohnya buku kisah Abu Nawas atau aneka ragam ikan hias.

Kedua, sesuai dengan peraturan yang sudah ada, menumbuhkan karakter peserta didik melalui gerakan membaca, selama 15 menit sebelum pelajaran dibuka. Apabila kegiatan ini dapat terlaksana, gerakan literasi akan membudaya dan peserta didik pun pasti membaca disetiap pagi mereka.

Ketiga, setiap siswa yang telat datangnya, berikan sanksi dengan membaca, cukup beberapa halaman saja, tetapi ceritakan kembali isinya di hadapan teman-teman mereka. Dengan tujuan,  kelak nantinya, mereka terbiasa tampil di muka umum.

Keempat, seringlah diberi tugas yang berhubungan dengan menulis dan membaca. Bagaimana contoh penerapannya, hal ini tergantung kreatifitas gurunya. Salah satu contohnya,  pelajaran Bahasa Indonesia, siswa menulis pengalaman dan menceritakannya, Contoh lainnya,  pelajaran IPA, siswa  mencari buku tentang lingkungan sekitar mereka. Membuat PR resuman dan dikumpulkan tugasnya, karena sudah tugas, maka suka tidak suka, mau tidak mau, siswa harus mengerjakan juga. Sederhana kelihatannya, tetapi hal ini sangat berguna. Tanpa kita sadari manfaatnya, kita sudah menyuruh mereka membaca.

Kelima, buat program budaya berkunjung ke perpustakaan, agar jam istirahat dimanfaatkan, untuk membaca buku yang dipajang perpustakaan. Jangan lupa,  isi buku tamu yang disediakan pustakawan, karena peserta didik yang paling aktif melaksanakan kunjungan, akan diberi penghargaan atau hadiah setiap akhir semester,  dan kalau perlu dapat dijadikan duta baca perpustakaan.

Keenam, buatlah ekstrakurikuler mading di sekolah. Tidak perlu sebuah mading yang mewah, cukup dengan biaya murah meriah. Buatlah mading yang berbahan dasar sampah, kalau sudah dihias pasti terlihat indah. Apalagi baru tingkat sekolah dasar, buatlah mading yang cukup standar, yang penting terkelola dengan pintar.  Setiap bulan berganti isi cerita maupun gambar.

Ketujuh, adakan lomba menulis cerita, baik berupa cerpen, puisi, pantun, dan prosa. Setiap sekolah dasar perlu mengadakannya, setahun sekali paling tidak pelaksanaannya. Dengan lomba tersebut, diharapkan dapat memancing minat baca dan bakat menulis siswa, karena untuk dapat membuat sebuah karya, siswa  harus membaca dulu contoh dari buku yang ada. Tujuan lain yang tidak kalah pentingnya, siswa  pasti penasaran untuk membaca karya sang juara, yang sudah dihias indah dalam mading sekolah mereka. Tentu saja,  siswa yang menang sangat bangga saat pembagian raport yang dihadiri orang tuanya.  Nama mereka disebut sebagai juara, dan tampil ke depan untuk mengambil hadiahnya, sedangkan siswa lain yang melihatnya, semoga tergerak hatinya untuk menjadi pemenang tahun berikutnya.

Kedelapan, sebaiknya setiap tahun pihak sekolah, membuat Nota Kesepahaman dengan perpustakaan daerah, agar sekolah dapat selalu dikunjungi. minimal enam bulan sekali. Dengan demikian, minat siswa dalam membaca lebih termotivasi lagi, karena datang buku-buku yang lebih bervariasi, baik dari segi gambar maupun isi.

Kesembilan, setiap siswa yang akan naik kelas, wajib membaca buku dengan jumlah yang sudah dibahas oleh orang tua dan wali kelas. Tujuannya,  agar  minat baca siswa semakin berkualitas dan berkuantitas, serta mampu mempresentasikannya di depan kelas. Kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik, dengan kerjasama yang apik, antara pihak sekolah dengan orang tua didik.

Kesepuluh, implementasi terakhir pada artikel ini, yaitu gerakan literasi di sekolah dasar yang terkini. Kegiatan ini ditujukan bagi sekolah memiliki fasilitas memadai, karena ada sarana yang harus dimiliki, yaitu perangkat komputer dan perangkat lunak yang terinstalasi. Program ini,  bernama Perpustakaan Digital atau disebut Digital Library, yaitu perpustakaan yang memiliki koleksi, buku-buku berformat digital dan bervariasi. Setiap siswa yang ingin menikmati, harus membuka komputer itu sendiri atau meminta pustakawan mendampingi, membacapun jadi lebih menyenangkan hati.

Implementasi yang sudah dipaparkan, hanya sebagian kecil dari implementasi yang bisa diterapkan. Masih banyak cara lain yang belum tersampaikan. Mudah-mudahan meski sedikit yang dituliskan, tetapi terwakilkan dari gerakan literasi yang harus dilaksanakan dan harus mendapatkan dukungan dari semua pihak yang memegang kepentingan, baik orang tua, sekolah, maupun dinas pendidikan. Mari semua kita rapatkan barisan, apalagi sebagai pendidik yang jadi contoh dan panutan, agar gerakan literasi yang sudah diprogramkan dapat membawa perubahan, dan kelak negeri ini memiliki generasi yang berkarakter dan berkepribadian, serta mampu menjadikan negara Indonesia lebih baik lagi di masa depan.

Views All Time
Views All Time
43
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY