Implikasi pandangan konstruktivis terhadap pembelajaran Ekonomi

0
46

Implikasi pandangan konstruktivis terhadap pembelajaran Ekonomi, adalah mengupayakan lingkungan belajar yang konstruktif (Hudojo, 1998). Lingkungan belajar yang perlu diupayakan adalah sebagai berikut: (1) menyediakan lingkungan belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan, (2) menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, misalnya suatu masalah dapat diaelesaikan dengan berbagai cara, (3) mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret, misalnya untuk memahami suatu konsep Ekonomi melalui kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, (4) mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerjasama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, (5) memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif, dan (6) melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga Ekonomi menjadi menarik dan siswa mau belajar.

.           Perlu disadari bahwa lingkungan belajar konstruktif tidak secara otomatis menghasilkan belajar konstruktif. Siswa sendiri perlu mengembangkan keyakinannya dan gayanya dalam belajar sehingga keterampilan kognitif siswa berkembang. Disinilah letaknya pengajar harus menyiapkan bahan yang dipelajari siswa secara bermakna bagi kognitif siswa sehingga dapat melibatkan siswa secara emosional dan sosial.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini disajikan contoh strategi pembelajaran Ekonomi di Sekolah Menengah Atas berlandaskan konstruktivisme. Materi pelajaran yang akan disampaikan: “membandingkan luas daerah dua bangun datar”. Sedangkan tujuan pembelajaran khusus adalah siswa dapat membandingkan luas daerah dua bangun datar.

Langkah-langkah Pokok Kegiatan

  • Kegiatan awal

Siswa diingatkan kembali arti bangun datar. Kegiatan ini dilakukan dengan tanya jawab. Misalnya guru mengajukan pertanyaan, anak-anak apakah kalian masih ingat bangun datar? Kalau masih ingat, siapa yang dapat menyebutkan benda di dalam kelas yang mempunyai permukaan datar? Disebut apakah daerah permukaan benda datar?

  • Kegiatan inti

Langkah pertama. Guru membagikan lima puluh potongan kertas berbentuk persegi berukuran 1 cm x 1 cm kepada masing-masing siswa. Kemudian siswa diminta untuk memeriksa apakah potongan-potongan kertas menujukkan daerah-daerah yang luasnya sama? Kegiatan ini dilakukan dengan tanya jawab. Misalnya guru mengajukan pertanyaan, anak-anak apakah potongan-potongan kertas yang saya bagikan menunjukkan daerah-daerah yang luasnya sama? Senajutnya guru membagikan empat macam bangun datar terbuat dari karton seperti yang ditunjukkan Gambar 1 pada halaman lima. Kemudian guru mengajukan pertanyaan “bangun manakah yang mempunyai daerah paling luas?” Coba berikan alasan, mengapa bangun tersebut mempunyai daerah paling luas? Siswa diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan. Jawaban yang diberikan siswa akan beraneka ragam dan ada kemungkinan jawaban tersebut sama sekali tidak masuk akal. Hal tersebut menunjukkan konsepsi awal siswa tentang membandingkan luas daerah dua bangun.

Langkah kedua. Siswa diberi kegiatan menutup bangun datar yang telah dibagikan dengan menggunakan potongan kertas berbentuk persegi berukuran

1 cm x 1 cm. Kegiatan ini dilakukan dengan tanya jawab. Misalnya guru mengajukan pertanyaan, anak-anak berapa banyaknya potongan kertas yang diperlukan untuk menutup bangun A, B, C, dan D? Dari kegiatan ini, siswa menemukan banyaknya potongan kertas yang diperlukan untuk menutup bangun A, B, C, dan D. Untuk menutup bangun A diperlukan 13 potongan kertas, bangun B dan C diperlukan 12 potongan kertas, dan bangun D diperlukan 14 potongan kertas. Selanjutnya siswa diminta membandingkan luas daerahnya serta memberikan alasan mengapa suatu bangun datar mempunyai daerah lebih luas, sama luas, atau lebih sempit. Kegiatan ini dilakukan dengan tanya jawab.

Misalnya guru mengajukan pertanyaan, bangun manakah yang mempunyai daerah

paling luas? Mengapa bangun tersebut mempunyai daerah paling luas? Kegiatan

diakhiri sampai ditemukannya konsepsi yang paling masuk akal. Dalam hal ini

siswa dapat mengemukakan alasan mengapa suatu bangun datar mempunyai

daerah lebih luas, sama luas, atau lebih sempit.

  • Kegiatan akhir

Siswa diberikan soal-soal tentang membandingkan luas daerah dua bangun datar.

Pengembangan strategi pembelajaran Ekonomi di Sekolah Menengah Atas yang berlandaskan aliran konstruktivis akan lebih menarik bila dibandingkan dengan pembelajaran yang mengembangkan cara berpikir benar-salah. Di samping itu, karena proses pembelajarannya tidak lagi menyinggung istilah benar dan salah, pembelajarannya akan terasa lebih demokratis. Hal ini dapat mengurangi anggapan bahwa Ekonomi merupakan mata pelajaran yang sulit dan kurang diminati siswa Sekolah Menengah Atas.

Sedangkan contoh strategi pembelajaran berlandaskan aliran konstruktivis yang telah diuraikan pada halaman sebelumnya, dapat dijadikan salah satu alternatif strategi pembelajaran “membandingkan luas daerah dua bangun datar”.

Views All Time
Views All Time
46
Views Today
Views Today
1
BAGIKAN
Tulisan sebelumnyaKonstruktivisme dalam Pembelajaran Ekonomi. 2
Tulisan berikutnyaMALAM PERPISAHAN (puisi)
jadi pengawai negeri dengan pangkat II c Diploma 3, Kuliah S1 Geografi, Kuliah S2 Teknologi Pembelajaran. skrg pangkat IV-D dan Tahun ini 2017 ke IV-E Pensiun Tahun 2022

LEAVE A REPLY