Ahmad Tafsir menyebutkan bahwa proses pengintegrasian pendidikan agama (karakter) dalam pembelajaran bisa dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya:[4] (1) pengintegrasian materi pelajaran; (2) pengintegrasian proses; (3) pengintegrasian dalam memilih bahan ajar, dan (4) pengintegrasian dalam memilih media pembelajaran.

Pengintegrasian materi maksudnya adalah mengintegrasikan konsep atau ajaran agama (karakter) ke dalam materi (teori, konsep) yang sedang diajarkan. Pengintegrasian dalam proses belajar mengajar maksudnya bahwa guru perlu menanamkan nilai-nilai dalam proses pembelajaran dengan cara memberikan teladan kepada peserta didik dengan nilai-nilai karakter tersebut. Pengintegrasian dalam memilih bahan ajar, misalnya guru ilmu pengetahuan memilih materi-materi bahan ajar yang mencantumkan nilai-nilai ajaran Islam sehingga peserta didik dapat meneladaninya. Dalam memilih media belajar, kita dapat mengintegrasikan nilai-nilai. Ketika guru memilih media pembelajaran tentang miniatur bangunan, guru lebih memilih miniatur masjid dari pada memilih miniatur rumah.[5]

Menurut Brooks dan Goble, untuk mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah, terdapat tiga elemen penting untuk diperhatikan, yaitu prinsip, proses, dan praktiknya.[6] Dalam menjalankan prinsip, nilai-nilai yang diajarkan harus termanifestasikan dalam kurikulum sehingga semua siswa di suatu sekolah faham benar tentang nilai-nilai tersebut dan mampu menerjemahkannya dalam perilaku nyata. Untuk itu  diperlukan sebuah pendekatan yang harus diterapkan di seluruh komponen sekolah (school wide approach), yaitu:[7]

  1. Sekolah atau madrasah harus dipandang sebagai lingkungan yang diibaratkan seperti pulau dengan bahasa dan budayanya sendiri. Namun, sekolah juga harus memperluas pendidikan karakter bukan saja kepada guru, staf, dan siswa, tetapi juga kepada keluarga, lingkungan masyarakat;
  2. Dalam menjalankan kurikulum karakter sebaiknya: a) pengajaran nilai-nilai berhubungan dengan sistem sekolah secara keseluruhan; b) diajarkan sebagai subyek dan tidak berdiri sendiri (sparated stand alone subject), namun diintegrasikan dalam kurikulum sekolah secara keseluruhan; c) seluruh komponen sekolah atau madrasah menyadari dan mendukung tema nilai yang diajarkan;
  3. Penekanan ditempatkan untuk merangsang bagaimana peserta didik menerjemahkan prinsip nilai ke dalam bentuk perilaku pro-sosial.
Views All Time
Views All Time
290
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY