JANGAN LUPAKAN AKU. Oleh Ajian Astagina, Siswa SMPN 1 Lampihong, Balangan, Kalsel.

0
12

Hari ini adalah hari pertama aku memasuki awal sekolah di salah satu SMP yang terletak di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, yakni SMP Muhammadiyah. Pertama kali aku sempat berpikir bahwa sekolah tersebut merupakan SMP yang membosankan, ternyata perkiraanku salah. Di sekolah ini, tidak hanya terus-terusan menghafal ayat-ayat Al Quran, tetapi juga mengajarkanku arti kebersamaan dan kekeluargaan. Disinilah aku bertemu dengan sahabat yang sangat baik hatinya yakni Rhisma Noviyaningsih.

Saat itu hari Senin, hari pertama siswa-siswi baru turun sekolah. Tidak ada satu siswa pun yang ku kenal di sekolah ini. Hal itu pulalah yang mungkin menjadi salah satu  penyebab aku agak susah bersosialisasi dan beradaptasi.   ‘Ting!Ting!Ting!’ terdengar keras dari kantor sekolah. “Wah, udah bel pulang tuh,” ujarku dalam hati. “Oke, sekarang silakan kalian semua beres-beres dan bersiap-siap untuk pulang. “Oh, ya, jangan lupa untuk membuat bet atau papan nama pakai kardus dan kertas karton untuk dipakai besok, hal ini untuk memudahkan teman-teman lain dalam mengenal kalian,” ujar guru BK di sekolahku waktu itu.

Saat aku keluar melewati gerbang sekolah, seseorang menepuk pundakku dari arah belakang. “Hei!!!”, ujarnya,” Astagfirullah ucapku sambil terkaget-kaget. Ternyata disitulah awal perkenalanku dengan sahabatku itu.

“Rumahmu dimana?”, ujarnya, “. “Rumahku di ujung jalan sana”, ujarku dengan senyum.

Lalu ia berkata “siapa namamu?” Namaku Ajian, kalau kamu?”. “Perkenalkan, namaku  Rhisma”. Ayo Ajian, kita pulang sama-sama yuk.” Ayooo, sahutku. Kami pun pulang bersama sambil sesekali bercengkerama bercerita tentang kehidupan keseharian kami.  Sesampainya di rumah aku menceritakan pengalamanku tadi kepada ibuku. Aku juga menceritakan bahwa besok aku disuruh membuat bet atau papan nama dari kardus dan kertas karton. Aku pun langsung ke gudang untuk mencari kardus dan menyeberang jalan untuk membeli kertas karton. Kebetulan di seberang rumahku terdapat toko perlengkapan alat tulis.

Keesokan harinya, sang mentari cerah menyapa dari ufuk timur. “Jian!,” panggil seseorang padaku. “Eh, Rhisma, baru datang?,” sembari senyum kecilku, ku lontarkan padanya. “Iya nih, Oh, iya Jian, Papan namamu mana?,” Ada, ini kusimpan di dalam tas. Sebenarnya aku mau pakai, tapi aku masih rasa malu, memakai kalung papan nama ini kemana-mana?,” Ia kembali berkata dengan alis berkerut, “Iihh, nggak papa kok, pakai aja nih, kayak aku,”. Ia berkata sambil memakai papan nama yang diletakkan di lehernya. “Hmmm, ya udah deh, ku nurut”, ujarku dengan senyum kecilku.

Bel masuk kelas pun berbunyi nyaring. Semua siswa sudah berada di kelasnya masing-masing. “Anak anak, hari ini ibu akan membuat sebuah permainan, yaitu dalam waktu sepuluh detik, kalian harus menuliskan nama teman-teman kalian dengan bertanya padanya”. Jika nama yang kalian tuliskan kurang dari lima orang, kalian harus maju ke depan untuk memperkenalkan diri, bagaimana?, setuju?,” Ucap Bu Fatimah berbicara dari depan kelas. “setuju!!,” sahut murid-murid yang lain serempak. Aku masih malu dan ragu untuk menjawab pertanyaan dari Bu Fatimah tadi.

“Hai, kamu masih ada ikatan keluarga dengan aku kan?,” tiba-tiba ada anak perempuan bertubuh mungil itu menyapaku. “Emm, kamu siapa?,”  aku terus terang merasa tak kenal dengannya. “Aku Ambar, sepupunya Gina.” Meski aku tak kenal tetapi aku mengangguk kecil antara ragu dan bingung. Waktu yang diberikan pun habis, terpaksa aku, Ambar dan Rhisma maju ke depan untuk memperkenalkan diri. Dan dari situlah awal persahabatan kami mulai berlanjut.

Sejak perkenalan itu, kami selalu bertiga. Sampai-sampai anak kelas delapan dan juga anak kelas sembilan lebih kenal dengan kami dibanding anak lainnya karena kebiasaan kami yang selalu jalan bertiga. Persahabatan kami berjalan lumayan lama sampai kami akan memasuki kelas delapan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, beberapa minggu ini, aku merasa Ambar selalu berdua dengan Rhisma. Mereka seakan melupakan diriku. Aku tidak tahu mengapa mereka bersikap demikian. Aku merasa persahabatan kami agak semakin merenggang dan saat itu kebetulan ayahku juga mau pindah kerjaan serta mau memboyong kami sekeluarga ke tempat baru yakni ke Balangan, Kalimantan Selatan.

“Ambar!, Rhisma!, sini deh!,” ujarku sambil berlari lari kecil menghampiri mereka. Terlihat raut muka Ambar berubah menjadi rona tak senang. “Kenapa?” Rhisma tersenyum padaku, “Eh..,ada yang mau ku bicarakan dengan kalian. Rencananya aku akan pindah sekolah, jangan pernah lupain aku ya. Kapan-kapan aku main kesini deh,” aku berkata dengan lirih. “Yahhh, kenapa, ada masalah atau gimana? Cerita aja sama aku,” Ia berkata sambil menggenggam satu tanganku. “Enggak kok, gak ada masalah, ayahku mau pindah kerjaan aja ke Kalimantan Selatan,” Aku berusaha agar tetap tersenyum. “Ohh, ya udah, kalau itu memang keputusan keluargamu, Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Jaga diri baikbaik nanti ya, jangan lupain aku juga,” Wajah Rhisma kembali tersenyum dan ada rasa sedih menggelayut di wajah ayu nya. Kami semua berpelukan dan tak terasa bulir-bulir air mata menetes di sudut pipi kami bertiga.

“Baiklah Pak, mulai hari ini anak bapak sudah dapat bersekolah disini,” ujar Kepala Sekolah SMPN 2 Batumandi. Dari tadi aku melihat ada tiga orang anak perempuan yang memperhatikanku sejak di ruang kantor. Sepertinya mereka ingin mengajakku berkenalan. “Syifa, Latifah, Dayah!!, nih ajak teman baru kalian ke kelas,” ucap kepala sekolah dari dalam kantor, mereka bertiga pun mengajak ku untuk memasuki kelas. Dari pertemuan ini lah, mereka bertiga pun menjadi sahabat baruku.

“Aku Syifa, ini Latifah dan ini Dayah,” ia berkata dengan manis. Aku suka senyumnya Syifa, anak perempuan ini terlihat cantik. “Oh, ya, aku Ajian, panggil aja Jian,” balasku dengan senyum.

Setelah beberapa hari disini, aku kembali merasakan kenyamanan bersekolah di SMP ini. Teman-teman baruku hangat, asyik, suka bercanda dan peduli kepadaku. Syifa yang cantik, Latifah yang lucu, dan Dayah yang rada tomboy. Terimaksih Yaa Allah, Kau pertemukan aku kembali dengan teman-teman baru yang baik hati. Aku kembali merasakan kehangatan di sini, di sekolah ini, gumamku di hati.

“Ajian!,” seseorang memanggilku ketika aku hendak memasuki gerbang sekolah. “Eh, Dayah, baru datang? Panggil aku Jian aja, gak usah Ajian, aku gak biasa,” ujarku sambil menunjukkan lengkungan di bibirku. “Hahaha, iya, Jian, iya, yuk sama-sama masuk ke kelas yuk,” Ia menggenggam tanganku sembari mengajkku menuju ke ruang kelas.  “Wah, cewek-cewek cantik ini tambah akrab aja nih,” Latifah berkata setelah aku dan Dayah memasuki ruang kelas. “Iya dong, heee..Eh, gimana kalau hari minggu ini kita ajak Jian jalan-jalan sekitar Batumandi? “Hmm, aku sih mau, tapi kita tunggu Syifa dulu ya, dia bisa ikut atau enggak, soalnya kan dia biasanya bantuin ibunya jualan setiap hari minggu,” Latifah semakin tak sabar menunggu Syifa datang.

“Nah!, tuh orangnya”, Latifah berbicara sambil menunjuk ke arah pintu kelas. “Apaan sih, santai aja kali Fah,” Syifa terkejut”. Haha, iya, iya, maaf, “Eh, Syif, kamu bisa gak ikut kita hari minggu jalan-jalan?” “Hmmm, aku sih belum bisa memastikan, nanti deh aku kabarin kamu kalau aku di izinin, aku langsung ke rumahmu aja Fah hari minggu nanti”.  Terang Syifa dengan penuh ceria di pagi itu.

Hari minggu pun tiba, aku, Syifa, Latifah, dan Dayah jalan-jalan di sekitar Batumandi. “Akhirnya kamu di izinin ya Syifa buat jalan-jalan. Aku kira kamu enggak akan di izinin,” ujarku. “Iya, syukur deh, hari minggu ini di aku izinin,” ujarnya sambil menatap alam sekitar.

Setelah selesai jalan-jalan, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Tak terasa, sudah sembilan bulan aku bersekolah disini. Bulan depan kami akan kembali mengikuti ulangan semester 1. Aku berharap prestasiku bisa lebih baik lagi. Meskipun terkadang  aku kurang mengerti ucapan yang disampaikan oleh guru di sekolah ku. Bahasa yang mereka gunakan terkadang menggunakan bahasa daerah yang kurang aku pahami.

Pengumuman hasil belajar semester ini pun tiba. Aku dan teman-teman sudah menempuh ulangan semester. Hari pembagian raport dan pengumuman juara kelas pun tiba. “Hari ini kami akan mengumumkan hasil belajar kalian selama 1 semester ini. Semoga apa yang sudah kalian usahakan sesuai dengan apa yang kalian dapatkan”. “Langsung saja Bapak bacakan ya. Sebagai peringkat tiga, atas nama Syifa Salsabela Mardhathillah, peringkat dua, atas nama Siti Nurhalifah, dan peringkat pertama, atas nama…….,”. Suara kepala sekolah terhenti sejenak, sedangkan aku berharap agar namaku yang sebentar lagi dipanggil, dan ternyata, “Riki Rinaldi!” sambung kepala sekolah. Ada rasa kecewa dalam diriku, aku sedih tak bisa mempertahankan prestasiku, mungkin juga ini karena aku terkadang kurang paham dengan apa yang diucapkan guru saat di sekolah, karena guru terkadang menggunakan bahasa daerah atau Bahasa Banjar saat pembelajaran.

Aku  harus terus beradaptasi dalam mengatasi kendala bahasa tersebut, dan akhirnya, setelah juara 3 di umumkan, semua siswa masuk kelas masing-masing untuk menerima rapot. Setelah aku membuka rapot, ternyata aku menduduki peringkat keempat. Dari informasi yang beredar dengar, bahwa Riki mendapat peringkat pertama. Aku tidak heran, karena Riki  murid yang berprestasi.

Selain hebat dalam prestasi akademik, Riki  juga hebat dalam bermain sepak bola. Ia tergabung dalam SSB Batu Agung yang pernah menjadi juara Danone Cup Indonesia 2017. Ia juga pernah mendapat kesempatan ke berbagai kota seperti Jakarta dan Bandung beberapa negara seperti Malaysia, bahkan ke Eropa untuk mewakili Indonesia bermain sepak bola.  “Yahhh, Jian. Aku sempat berpikir kamu yang dapat peringkat pertama tadi,” “iya nih, mungkin aku kurang giat belajarnya, Fiq. Aku janji bakal belajar lebih rajin lagi deh.” Ternyata Riki mendengar pembicaraan kami sambil tertawa mengejek. Rafiqa pun tiba-tiba berkata, “Eh Riki, jangan senang dulu ya, nanti kita tunggu semester 2 nanti, pasti Jian yang bakal juara 1,” sindirnya dengan nada kesal. Riki pura-pura tak mendengar, sambil berlalu di depan kami. “Udahlah Fiq, jangan kayak gitu sama teman sendiri, mari kita berkompetesi secara sehat dan sportif”, ucapku lirih.

Sejak hari itu, aku lebih giat belajar di sekolah maupun di rumah. Sedikit demi sedikit aku mulai paham apa yang diucapkan guru di sekolah. Sampai saat ujian yang berikutnya pun tiba. Kertas soal ujian pun mulai dibagikan. Aku dengan mudah melahap pertanyaan-pertanyaan yang disodorkan, karena soal-soal itu adalah soal yang pernah aku pelajari.  Akhirnya,  hari yang ditunggu pun tiba ,yakni pengumuman hasil belajar dan pengumuman peringkat kelas. “Baiklah, disini Bapak akan mengumumkan hasil belajar dan peringkat kelas di semester ini. Para juara kelas akan masing-masing akan mendapatkan piala dan hadiah. Baiklah, untuk peringkat ke-3, atas nama Siti Nurhalifah, peringkat ke-2, atas nama Syifa Salsabela Mardhatillah dan peringkat pertama, atas nama……..”. Lagi-lagi ucapan kepala sekolah terhenti sejenak, aku pun sempat berpikir “pasti Riki lagi,” dalam batinku. “Ajian Astagina!” sambung kepala sekolah.

“Astaga!!!! Astaga!!! ini nggak mimpi kan?,” batinku setengah berteriak. Aku melihat raut sedih di wajah Riki. “Sepertinya semester ini ada beberapa siswa yang prestasinya rada menurun,” Ucap kepala sekolah. “Tapi jangan patah semangat, tetap berusaha dan tetap berdoa, karena masing-masing orang memiliki bakat dan potensi yang berbeda-beda”.  Lanjut Bapak Kepala Sekolah.

“Selamat ya Jian, tuh kan, apa aku bilang, kamu pasti bisa dapetin peringkat itu,” ujar Afiqa sambil memelukku. “Iya, makasih ya, Fiq. “Oh, iya, Riki peringkat berapa Fiq?” tanyaku kepadanya, “Oh, si Riki, ia peringkat 4, tadi aku sempat bercakap-cakap dengannya. “Kamu tau gak, si Riki tadi nangis loh Jian,” sambil wajah tertawa dia memandangku. “Masa sih?” sambil dahiku berkerut. “Ya, namanya juga kita berusaha, untuk meraih keberhasilan itu kan harus berusaha maksinal”. Kalau kita kurang maksimal, ya bakal ketinggalan dengan yang lain,” ujarku panjang lebar. “Iya, bener juga katamu itu”. Kasihan juga aku dengan dia, soalnya dia itu kan selalu peringkat satu di kelas,” masih dengan raut wajah yang sama dari ,”bingung dan ‘. Sebelum pulang sekolah, kusempatkan mendekati Riki. Aku terus mencoba memotivasinya agar tidak  terlalu kecewa dengan hasil pengumuman pemabagian raport tadi. Kehidupan itu seperti roda, kadang di atas dan kadang di bawah, kita harus tetap bersyukur,” ujarku menutup pembicaraan.

Setelah beberapa minggu, sebuah kabar yang kurang enak menghampiri keluargaku lagi. Ayahku terpaksa pindah kerjaan lagi,  karena masa kontrak kerja disini juga sudah habis.  “Jian, nanti bantuin ibumu beres-beres ya, kita mau pindah lagi, besok baru kita akan ngurus surat pindah sekolahmu,” Ayahku berkata sambil menuang air minum dalam gelas kosong. Aku pun menuruti perkataan ayahku, aku sempat berkata dalam hati, “Mengapa setelah aku mendapatkan sahabat yang baik, prestasi yang bagus, dan sudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah, kenapa aku harus pindah lagi sih. Aku sangat sayang sama sahabatku, aku masih membatin dengan sedih. Dan akupun harus kembali berpisah dengan teman-temanku.

Hari itu, tanggl 14 Agustus 2018, disinilah lembaran baru, awal perjalananku mulai kutempuh kembali. Saat aku pertama kali memasuki sekolah ini, aku merasa sekolah ini sangat terawat, bersih dan Indah. Terlihat dari papan nama dan tulisan di dinding sekolah yakni sekolah “Adiwiyata” dan Go Green School. Sekolah ini juga memprogramkan BBM& BTM (Bawa Botol Minum dan Bawa Tempat Makan). Sehingga para siswa tidak ada yang memakai kantong plastik saat jajan di warung dan kantin sekolah.

Lagi lagi aku merasa gugup saat perkenalan dengan teman-teman baruku. Aku duduk di barisan ujung sebelah kiri, baris ke dua dari depan. Dari tadi mataku tertuju pada seorang siswa perempuan, kalau nggak salah, “Selvia”, namanya.

Aku bingung saat jam pelajaran berakhir dan waktu istirahat pun tiba. Tak ada satu pun orang yang ku kenal di sekolah ini. Tiba-tiba ada suara yang terasa asing di telingaku. “Heiii, ayo kita ke warung yuk,” ajak seorang perempuan yang dari tadi aku perhatikan. Aku pun mengangguk dan mulai menuju warung. “Namaku Selvia, kamu pindahan dari SMPN 2 Batumandi ya?” tanyanya. “Iya,” setelah pergi ke warung, tiba-tiba mobil perpustakaan keliling datang dan berhenti tepat di depan kantor sekolah kami.

Selvia pun berlari meninggalkanku, kemudian dia pun berhenti sebentar dan berkata, “sebentar ya, aku mau ke situ dulu,” ujarnya sambil setengah berlari. “Aduh, keliatan banget kesan awal tuh orang nggak asyik kayaknya, gak perhatian lagi, mudah-mudahan aku nggak dapat teman kayak gitu,” ujarku dalam hati. Setelah beberapa menit, Selvia datang dan mengajakku kembali ke kelas. Tiba-tiba seorang perempuan datang menghampiri kami. “Sel, ini siapa?,” ujar perempuan tersebut. “Murid baru,” tambah Selvia. “Masa? di kelas kalian ya? Siapa namanya? Tanya perempuan itu lagi dengan penuh tanda tanya. “Ajian,” Selvia berkata kepada siswa perempuan itu. Lalu Selvia berkata lagi, “Selva, ayo kita kembali ke kelas bareng-bareng yuk!,” ajaknya. “Ayoo, sahutnya ceria”. “Ohh, namanya Selva,” gumamku dalam hati.

Setelah berhari-hari dan berbulan-bulan, ternyata Selvia dan Selva orangnya asyik juga, tidak seperti dugaan awalku. Kami selalu bersama-sama ke mana-mana. Sampai pada akhirnya, kejadian kerenggangan persahabatan antara aku, Ambar dan Rhisma dulu terulang kembali pada persahabatanku dengan Selvia dan Selva. Pada akhirnya, aku dan Selvia berdua saja yang tetap akrab dan tetap jalan bersama. “Sel, kenapa kamu gak gabung aja sama teman-teman lain seperti Indah dan yang lain?,” aku bertanya padanya. “Dulu aku sering kok ngumpul bareng mereka, tapi sekarang udah jarang,” ia berkata sambil membuka tasnya dan mengambil sebuah buku. Aku pun bertanya lagi, “semester kemarin kamu peringkat berapa Sel?” ujarku. Dia pun membalas menatapku dan mulai ngomong serius. “Aku peringkat tiga, kalau peringkat duanya Fuzah, nama lengkapnya Mahfuzah.

Fuzah itu sahabatku dulu, tapi sayangnya dia pindah sekolah, terus sekarang peringkat pertamanya adalah Rijal atau nama lengkapnya Yusrijal. Dulu sih aku bertekad untuk belajar lebiah giat agar bisa menempati peringkat pertama yang ditinggalkan waktu Mahfuzah pindah dari sekolah kami. Tapi kayaknya gak mudah deh nyaingin Rijal,” tegasnya panjang lebar. “Ohh, gitu ya…,” aku mengangguk tanda mengerti.

Setelah aku mendengar kata-kata Selvia waktu itu, tekadku untuk berusaha menjadi peringkat pertama sedikit memudar, tetapi dalam hati kecilku, aku masih berharap dan berusaha untuk itu.

Ulangan semester pun tiba, berhari-hari aku dan murid-murid lain menghadapi ulangan tersebut baik ulangan tertulis maupun praktik. Akhirnya pembagian rapot dan pengumuman peringkat kelas pun tiba. Semua siswa berkumpul di depan kantor untuk mengikuti acara pembagian rapot serta pengumuman juara. “Peringkat ketiga dari kelas IX B atas nama, Ajian Astagina. Peringkat kedua atas nama, Selvia dan peringkat pertama atas nama, Yusrijal,”. Terdengar salah seorang guru membacakan hasil ulangan semester ini.  Pihak sekolah pun juga memberikan hadiah untuk para juara agar lebih termotivasi lagi dalam belajar.

“Alhamdulillah, aku masih masuk tiga besar. Semoga prestasiku dapat lebih baik nantinya dari semester ini,” gumamku dalam hati setengah tersenyum. Beberapa bulan berikutnya, kami disibukkan dengan berbagai kegiatan. Dimulai ulangan harian, simulasi UNBK, les tambahan di sekolah serta persiapan USBN. Tidak dirasa, tiga bulan lagi kami lulus dari sekolah ini. Kami berfoto bersama di sekolah untuk foto kenang-kenangan dan untuk pas foto di SKHU dan ijazah nantinya. Aku janji pada diriku, aku tidak akan melupakan kenanganku yang cukup unik ini, yakni berpindah-pindah dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Terimaksih untuk semua teman-teman ku yang sudah mewarnai hidupku. Syifa yang baik dan cantik, Dayah yang gaul dan rada tomboy. Latifah yang lucu serta Selvia yang aneh tapi seru. “Dont forget me my friends, always remember me, always and forever”.

 

Views All Time
Views All Time
20
Views Today
Views Today
1
Previous articleHASIL ‘SURVEI’ MEMBUKTIKAN
Next articleppc company bangalore
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY