JIKA ENGKAU JADI AKU

0
24

JIKA  ENGKAU JADI AKU

                Hujan turun seiring gelapnya malam yang tak berbintang.  Entah kenapa tak satupun ide yang timbul  dalam merangkai kata untuk dikisahkan. Memang benar kata orang mudah diucap tapi sulit untuk dituliskan. Aku coba kembali merenung  ketidak adilan yang pernah  kulakukan, aku merasa berdosa padamu nak. Hujan tak berhenti sampai aku tertidur di kursi depan rumahku melewati malam yang begitu sunyi sampai Suara azan subuh membangunkanku. Aku berjalan menuju tempat pemandian umum yang ada di kampungku. Sebuah pemandian dengan air pancuran yang berasal dari perbukitan yang ada di sekitarnya. Beberapaa ibu-ibu sudah ada di sana melakukan aktifitas biasa yang mereka lakukan setiap harinya. Mencuci kain, mencuci piring, mandi dan ada juga yang sholat subuh di mushola di samping pemandian umum itu. Suatu suasana pagi yang alami yang membuat pikiran dan hati menjadi tenang.

Kumulai lagi mengambil kertas untuk menuliskan pengakuan yang harusnya malu untuk diungkapkan. Berawal dari pelatihan menulis yang kuikuti, aku begitu santai menanggapi ketika dijelaskan tentang  kisah inspiratif, cerpen, dan puisi. Pikiranku berkata  apa sih susahnya untuk menulis toh setiap hari aku ajarkan pada siswaku. Apasih…apasih..apasih,  tapi dari kata itu aku mengakui ada kesombongan disitu sehingga Allah marah padaku. Tak satupun ide yang dapat kutulis, aku tak bisa merangkai kata-kata, tak bisa menuangkan asa kedalam aksara. Aku sempat berkata-kata dalam hati “Ibu itu hanya bisa bicara coba dia jadi aku” Ya Allah maafkan aku sudah sempat berpikiran jelek sama orang yang telah memberi inspirasi pada ku.

Hari ini aku berangkat kesekolah dengaan semangat yang lebih dari biasanya.  Aku rindu siswaku yang selama ini menanggapku super heronya mereka. Wajah lugu  dan ketulusan mereka menunggu aku menyampaikan pelajaran hari ini. Lima menit aku terdiam memandangi mereka aku ingin berkata” Ibu sebenarnya tak mampu nak” lama tak berkata sampai salah satu siswaku berkata” Bu! Kita belajar apa? Aku terkejut dan memandang siswaku yang semangat untuk belajar. Dengan perasaan hati yang yang resah dan pikiran yang kacau aku coba juga menyampaikan pelajaran hari ini.

Ternyata untuk mengakui sebuah kesalahan itu  tidak  mudah ada perasaan malu apalagi kepada orang yang selama ini mengganggap kita serba bisa , selama ini saya menyampaikan teori tentang cerpen dan puisi sementara 1 cerpen atau puisi itu sendiri belum pernah aku tulis. Aku takut siswaku juga berpikiran jika “Ibu jadi aku”.

Hari ini kucoba menyelesaikan cerita pertamaku sebelum mereka tau aku tidak mampu. Aku tetap ingin jadi super hero mereka yang sangat berharap bisa menulis kisah kelucuan, kecerian dan kehebatan mereka. Seiring waktu dengan cerpen dan puisiku rasa bersalah akan keegois itu bisa hilang dari pikiran ku. Siswaku maafkan Ibu.

Views All Time
Views All Time
23
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY