Jodoh Pilihan Ibuku

0
28

Pagi ini udara cerah hangatnya sinar pagi membuat semangat Fadil untuk berjalan-jalan di sekitar kampung yang lama dia tinggalikan. Hangatnya mentari tak sehangat perasaan Fadil karena ada seonggok ganjalan hati yang mengiringi langkahnya. Kemarin ketemu dengan teman SD, yang sudah 10 tahun tidak bertemu. Fatimah adalah nama gadis itu yang membuat Fadil tidak bisa tidur semalaman. Perkataannya sangat mengganggu pikiran Fadil.

“Dil, kamu sudah punya pacar apa belum?” kata Fatimah dengan tiba-tiba.

“Ada apa kamu tanya?” balas Fadil.

“Nggak kok, nggak apa-apa” jawab Fatimah pendek.

Fadil adalah salah satu teman SD Fatimah yang paling suka usil dengan para siswi. Ada-ada saja tingkahnya yang membuat jengkel para cewek di kelas. Karena seringnya mengganggu membuat kami para siswi protes dengan guru kelas waktu itu. Sudah pasti Fadil menjadi tokoh tunggal di kelas. Sering ditegur gurupun tidak membuatnya jera. Pernah suatu hari mendekati bangkuku, belum ngomong sudah kubentak.

“Hayo mau ngapain?” bentak Fatimah. Ada rasa kecewa Fadil memandangnya. Fatimah terkesiap saat mata kami beradu pandang. Rasa debar di dada ini dia biarkan dan dinikmati dengan menahan diri untuk tidak berbicara.

Setelah lulus sekolah dasar mereka sama-sama sekolah di luar desanya, Fatimah di Pondok pesantren dan Fadil lebih memilih sekolah di MTS. Lama tidak berjuma dan sekarang sudah sama-sama dewasa. Kini Fadil sudah bekerja dan Fatimah kembali ke desanya menjadi seorang guru mengaji.

Masih terngiang-ngiang pertanyaan Fatimah tadi pagi, kenapa tanya pacar? mungkinkah dia belum punya pacar dan mengharapkannya? pikirnya penuh percaya diri. Dengan hati tulus dan tekad bulat berangkat ke rumah Fatimah. Tujuan utama adalah bertanya apa Fatimah belum punya pacar.

Sampai di rumah Fatimah dia terheran-heran kenapa suasana ramai sekali. Terlihat mobil Ayah dan Ibunya diparkir di pelataran rumah Fatimah. Dengan ragu-ragu Fadil berjalan menuju pintu ruang tamu dan disambut dengan senyuman lebar mereka yang duduk di ruang tamu. Ini anak saya Fadil tinggal rencana hari dan tanggal pernikahannya Jeng, kata Ibu disambut dengan tawa lebar mereka. Ya Allah, Ibu benar-benar mengerti perasaanku, pikir Fadil.

 

Malang, Desember 2020

Views All Time
Views All Time
27
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY