KASIH IBU

0
7

KASIH IBU

Oleh: Ida Rusmiyati

 

Ibu adalah orang tua perempuan seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Ibu memiliki peranan yang sangat penting bagi anak, dan panggilan ibu dapat diberikan untuk perempuan yang bukan orang tua kandung (biologis) dari seseorang yang mengisi peranan ini. Contohnya adalah pada orang tua angkat (karena adopsi) atau ibu tiri (istri dari ayah biologis anak). Dalam bahasa Indonesia, panggilan “ibu” juga dapat ditujukan kepada perempuan asing yang relatif lebih tua dari si pemanggil atau sebagai panggilan hormat kepada seorang wanita tanpa memandang perbedaan usia (menurut Wikipedia).

Sungguh tak ternilai perjuangan seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan membesarkan kita selama ini, serta mendokan kita dalam kebaikan terus menerus tiada henti. Karena jasanya kita bisa hidup hingga kini. Kasih sayang seorang ibu tak terbatas dan tak mengenal dimensi waktu. Pepatah mengatakan kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Pepatah tersebut memiliki arti, kasih sayang ibu yang diberikan kepada kita akan ada seumur hidup, sementara kasih sayang yang kita berikan kepada mereka terukur, dan malah hanya sepanjang galah.

Jika mengingat akan kasih ibu, betapa sedih hatiku. Aku merasa belum bisa membalas semua jasa ibu, yang selama ini memberikan kasih dan sayangnya padaku dengan begitu tulus sampai akhir hayatnya.

“ Ida, sana ke dapur kalau belum makan, ajak anak-anakmu makan sekalian!”

Ibu selalu memperhatikan aku dan anak-anakku kalau aku bertandang ke rumah beliau. Selalu disempatkannya masak makanan kesukaan anak, menantu, dan cucunya.

“ Ibu masak apa?” kebiasaanku bertanya saat aku tiba di rumah ibu bersama kedua anakku.

Ibu memang seringkali menyuruhku bersama suami dan anak-anakku untuk main ke rumah beliau. Sekadar kumpul-kumpul di sana saja ibu sudah sangat senang. Kebetulan rumah kami dekat, hanya berbeda desa atau kampung walau masih dalam satu kota, yaitu kota Semarang.

Ibu dan ayahku memiliki tiga orang anak, pertama aku yang merupakan anak mbarep alias si Sulung, lalu urutan kedua adikku laki-laki, dan ketiga si  ragil atau Bungsu adikku perempuan. Aku hanya tiga bersaudara. Ya, ibu dan ayah sangat mematuhi anjuran pemerintah saat itu, yaitu jumlah batas maksimal memiliki anak hanya diperbolehkan tiga saja, kalau lebih maka anak keempat dan seterusnya, tidak masuk tunjangan dalam gaji.

Dahulu pernah aku merasa ibu membedakan kasih sayangnya padaku dan adik-adikku, aku merasa menjadi anak sulung yang berada dalam posisi selalu harus mengalah pada kedua adikku itu. Aku merasa kedua adikku adalah anak-anak yang paling disayang dan dimanja, terutama adikku, Si Bungsu. Apalagi jika aku dan adikku bertengkar atau berkelahi.

‘ Sudahlah Ida, kamu harus mengalah pada adikmu itu, kasihan dia masih kecl.”

Ibu selalu memberikan penjelasannya seperti itu

“ Masih kecil bagaimana Bu?” aku tidak terima pernyataan ibu bahwa adikku masih kecil. Beda usia anak pertama dengan anak kedua hanya dua tahun, begitu juga anak kedua dan ketiga juga hanya dua tahun. Jadi beda usia kami tidak jauh sekali. Tapi mengapa ibu masih menganggap adikku itu masih kecil dan akulah yang paling besar.

“ Anak-anakku,  yang tua harus mengalah pada yang muda, yang muda harus menghormati yang tua!” ibu dan ayahku selalu menasihati kami seperti itu.

“ Huh…nasihat yang sungguh tidak adil…!” batinku seakan berontak kepada nasihat kedua orang tuaku.

“ Masak aku disuruh mengalah terus menerus, dari dulu lagi, mau sampai kapan? Makin kurang ajar aja adik nanti.”

Ibu hanya tersenyum sambil membelaiku dan menenteramkan hatiku, “ Sudahlah, kamu yang sabar ya Ida!”

“ Jadilah Kakak yang baik, bisa melindungi, mengasihi, dan menjadi contoh adik-adikmu!” ibu melanjutkan perkataannya dengan lembut dan bijaksana.

Kini aku baru tahu bahwa sebenarnya ibu tidak pernah membedakan kasih sayangnya terhadap aku dan adik-adikku. Memang sebenarnya sebagai kakak tertua dan anak tertua aku harus selalu mengalah,menyayangi, dan memberikan contoh baik kepada kedua adikku. Sehingga pada akhirnya, kedua adikku juga menyayangi dan menghormatiku hingga saat ini. Anak tertua searusnya adalah anak yang kuat, siap menjadi panutan, bisa menolong semua adiknya, dan harus memiliki hati yang seluas samudera alias kesabaran tingkat tinggi. Inilah pelajaran hidup dari ibu dan ayahku yang bisa kupetik dan kupahami pada akhirnya.

Setelah aku dan adik-adikku tumbuh dewasa sekarang kami selalu hidup rukun. Saling menyayangi satu sama lain. Masing-masing kami sudah menikah dan berkeluarga. Kamipun melanjutkan nilai-nilai luhur yang telah diajarkan ibu dan ayah kepada kami. Tentang kasih sayang, tentang kebersamaan, kerukunan, saling tolong, menghormati dan tentang banyak hal yang baik.

Ibu kini telah tiada, sudah tiga kali Ramadhan tidak bersama kali lagi, hanya tinggal ayah. Namun, kasih sayangnya masih melekat erat di dalam hati kami anak-anaknya. Semua pelajaran hidup yang diberikan, akan kami taati, selanjutnya dteruskan kepada anak dan cucu kami kelak.

“Terima kasih Ibu dan Ayah, atas segala pelajaran yang amat berharga ini.”

Selalu kulantunkan doa untuk beliau berdua orang tua kami,

كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا

Rabbighfir lī wa li wālidayya warham humā kamā rabbayānī shaghīrā.

Artinya,

“Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil.”

 

Ungaran, 1 Mei 2021

#30harimenulisramadhan

#gbmharike-20

ReplyForward
Views All Time
Views All Time
43
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY