KE PUNCAK NYATNYONO

0
10

KE PUNCAK NYATNYONO

Oleh: Ida Rusmiyati

 

Hari ini, Senin tanggal 3 Mei 2021, aku dan keempat teman guru menuju ke Nyatnyono dengan tujuan ziarah ke makam Waliyulloh Hasan Munadi dan Hasan Dipura. Hari sebelumnya memang kami merencanakan akan pergi ke sana pada malam selikuran (malam ke-21) pada bulan Ramadhan. Rencana tersebut baru bisa kami laksanakan  pada hari ini, setelah pulang dari sekolah, yaitu pukul 13.15.

Kami melakukan perjalanan ke Nyatyono dari sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Melewati RSUD Ungaran ke Genuk Barat lalu berakhir di Sendangrejo Nyatnyono.

Ziarah ke makam waliyulloh memang diperbolehkan, seperti Hadist berikut ini:

Ziarah kubur yang diperbolehkan ialah yang bertujuan untuk mengingatkan pada kematian.

 

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ

Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).” (HR. Muslim no. 976)

 

Tentang nama Nyatnyono sendiri berasal dari kepanjangan lagi menyat wis ana, artinya baru bangun sudah ada. Yang kemudian menjadi nama Nyatnyono. Konon Waliyulloh Mbah Hasan Munadi ketika berkhalwat (bertapa:istilah jawa) di Gunung Suralaya, memohon pada Allah agar dalam perjuangannya bisa sukses. Setelah kira-kira 100 (seratus) bertapa, ketika beliau akan meninggalkan tempatnya terdapat sebuah masjid (ada yang mengatakan kayu yang berlubang/calon bedug). Yang kemudian dari peristiwa itu beliau dikatakan dalam istilah jawa : lagi menyat wis ana, artinya baru bangun sudah ada. Yang kemudian menjadi nama Nyatnyono. Maka kemudian beliau menetap di tempat tersebut untuk membangun masjid, di mana dijadikan sebagai tempat/pusat kegiatan beliau menyampaikan ajaran-ajarannya hingga beliau wafat yang kemudian dimakamkan tidak jauh dari tempat tersebut (Trah Keluarga Besar Nyatnyono).

Saat tiba di tempat, kami berlima sempat berswafoto bersama. Setelah itu kami duduk-duduk  di masjid yang merupakan area makam, untuk melepas lelah sambil bercerita tentang sejarah perjuangan waliyulloh Hasan Munadi dan putranya Hasan Dipuro dalam menyebarkan ajaran Islam di daerah itu.

“ Wah, hawanya dingin dan sejuk ya Pak Hadi?”

Aku baru tahu kalau udara di sini dingin, maklum ini kali pertama aku ke sini.

“ Iya Bu! Saya sering ke sini, karena dingin saya jadi mengantuk.”

Pak Hadi dan Pak Sutris mencoba menjelaskan kepadaku udara dan suhu di sini.

“ Tuh, makamnya Kyai Hasan Munadi, yang di sana itu makam putra Kyai Hasan Munadi, yang bernama, Kyai Hasan Dipuro.” Pak Sutris melanjutkan keterangannnya.

Sesaat kemudian kami menuju tempat berwudhu, untuk wudhu, dan masuk ke salah satu ruangan yang tidak begitu besar di area makam Kyai Hasan Munadi. Kami mengambil posisi duduk dan area yang nyaman, lalu kami pun membaca doa untuk berziarah kubur sesuai ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ (وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَوَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Assalamu ‘alaikum ahlad diyaar minal mu’minin wal muslimin –wa yarhamullahul mustaqdimiin minna wal musta’khiriin- wa innaa insya Allah bikum laahiquun. As-alullaha lanaa wa lakumul ‘aafiyah

 

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, (semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan). Kami insya Allah akan bergabung bersama kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian.” (HR. Muslim no. 975)

 

Sesudah berdoa, kami berlima kemudian dengan khusuk melantunkan bacaan-bacaan Yasin dan Tahlil untuk Waliyulloh Hasan Munadi beserta putranya Kyai Hasan Dipuro, yang dipimpin oleh Pak Hadi Alanam.

Selesai berziarah, kami turun menuju tempat parkir menuju Sendang Kalimah Thoyyibah. Di sana kami sempatkan pula berswafoto bersama. Kami juga melihat suasana di sekitar sendang, baik sendang untuk pria, maupun wanita. Kebetulan saat itu masih sepi peziarah, sehingga kami bisa leluasa menikmati wisata ziarah tersebut.

“ Bu Ida kalau mau mandi di sendang, itu di sebelah sana.” Pak Hadi memberitahuku bak seorang Guide sebuah Tour Travel.

“ Nggak ah, saya nggak bawa ganti. Saya hanya pakai seragam keki ini aja kok.”

Aku menolak untuk mandi, karena tak biasa mandi di tempat umum.

“ Nggak apa-apa di sini di sediakan sarung untuk mandi, jadi bajunya masih selamat, jika tidak membawa ganti.” Pak Fariza dan pak Sutris berusaha menjelaskan kekhawatiranku, soal tidak membawa baju ganti.

‘ Tidak Pak, besok saja kapan-kapan lagi kalau ke sini.”

Aku tetap menolaknya, walau dalam hati sebenarnya ingin mandi di sendang. Tetapi aku takut juga karena suasana di sana saat itu masih sangat sepi.

Kami berlima hanya duduk-duduk lagi di Sendang Thoyyibah.

Saat itu sudah mulai sore, 15 menit sebelum pukul 15.00, kami pun segera beranjak dari tempat itu untuk pulang ke rumah mempersiapkan buka puasa. Pak Sutris dan Pak Fariza masih ingin tinggal di sana sejenak, mmereka berdua menikmati suasana sekitar dengan tidur yang nyenyak, sambil menanti saat berbuka puasa.

Akhirnya kami bertiga pamit pulang kepada pak Sutris dan Pak Fariza meninggalkan tempat itu. Aku harus segera pulang ke Semarang, sambil membeli makanan dan minuman untuk berbuka di rumah, sehingga tidak begitu capek atau pun lelah masak untuk buka puasa. Masakan dan lauk-pauknya sudah kubeli, sampai di rumah pukul 16.15, aku tinggal menanak nasi dan membuat minuman untuk berbuka puasa. Setelah itu, tak berapa lama azan magrib pun dikumandangkan. Kami sekeluarga berbuka bersama.

 

 

 

 

 

Ungaran, 3 Mei  2021

 

#30harimenulisramadhan

#gbmharike-22

 

ReplyForward
Views All Time
Views All Time
39
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY