Kekasih Seorang Penulis

0
16

Pagi yang cerah, semua bersiap-siap dengan kegiatannya masing-masing. Demikian pula dengan Galih seorang mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang tekun sedang menyiapkan laptopnya. Galih menulis kata demi kata sehingga terangkum kalimat indah yang penuh makna. Bukan hal yang mustahil jika dia menjadi penulis yang produktif karena kepiawaian dan tekunnya dalam belajar.

Sore ini langit gelap gulita, mendung hitam tebal berjajar-jajar di angkara, bersiap-siap menjatuhkan isinya. Suasana mencekam ketika petir menyambar bersahut-sahutan. Suasana tersebut  memberi bahan tulisan Galih dalam novelnya. Galih masih tetap menulis dalam diam, masih asyik dalam irama kibor laptopnya. Tangannya terhenti sejenak ketika terdengar ibunya memanggil. Galih membuka kamar dan terlihat ibunya membawa nampan berisi kopi hitam pahit kegemarannya dan beberapa buah pisang goreng. Ibunya masuk kamar Galih dan meletakkan nampan di sebelah meja kerja Galih. Kemudian ibunya duduk di kursi kosong yang biasa dipakai duduk adiknya untuk bertanya ketika kesulitan belajar. Dengan hati-hati ibunya berkata bahwa beliau mendengar bahwa Galih berpacaran dengan putri Kepala Desa. Galih mengiyakan, sambil memberikan keyakinan bahwa Ibunya tidak usah kawatir. Semua diserahkan kepada Allah yang menguasai segala makhluk.

Kekawatiran Ibunya juga beralasan karena Galih tumbuh dan dibesarkan dalam kesederhanaan. Ayahnya hanya seorang petani biasa yang mempunyai lahan persawahan yang tidak seberapa luas. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, ibunya membuat kue dan dititipkan di warung-warung sekolah dan tetangga dekat yang berjualan. Bagi Galih yang penting bisa menyelesaikan kuliahnya dan mengajar di sekolah pada sore harinya. Baginya putri kepala desa maupun menteripun jika sudah ditakdirkan untuk berjodoh, akan terlaksana juga.

 

Malang, Februari 2021

Views All Time
Views All Time
24
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY