KELOMPOK TARI KUDA LUMPING DESA TANJUNG-BAJUIN (2017)

0
114

Desa Tanjung Bajuin berada sekitar 18 km dari Pelaihari, ibukota Kabupatan Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Secara geografis, desa Tanjung berada di daerah pegunungan dengan suasana alam yang masih sejuk dan indah dikelilingi oleh pegunungan Maratus. Luas desa Tanjung 1.664 ha/m2 dengan jumlah 3.965 jiwa.

Menurut data kependudukan desa Tanjung tahun 2016, masyarakat desa terdiri dari etnis  Banjar, Jawa, Banjar, Dayak, Sunda, Betawi, Bugis, Flores, Batak dan Ambon . Mayoritas masyaraknya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Kehadiran masyarakat dari etnis Jawa dan Bima (NTB)  berasal dari transmigrasi tahun 1988 dan 1989. Pada sisi agama, mayoritas beragama Islam, namun juga ada juga yang  beragama Kristen dan Katholik.

Kehidupan sosial budaya di desa Tanjung secara kultural dipengaruhi oleh budaya Jawa, karena kehadiran transmigrasi yang berasal dari etnis Jawa, khusunya Jawa Timur. Salah satu contohnya adalah tari kuda lumping.  Tari kuda lumping ini tumbuh dan berkembang dalam masyarakat desa Tanjung yang beragam etnis, sehingga memperkaya khazanah budaya masyarakatnya. Para transmigran yang berasal dari Jawa tidak melupakan akar budayanya  dan tetap menjaga seni budaya leluhur mereka, meskipun sudah tidak hidup di Pulau Jawa lagi. Demikian pula, warga masyarakat asli dari etnis  Banjar dan Dayak, dengan tangan terbuka dan persaudaraan menerima kehadiran etnis Jawa dan budayanya,  khususnya tari kuda lumping,  sebagai bagian dari budaya dan kehidupan mereka bermasyarakat.

Manggala Tribudaya merupakan nama kelompok tari kuda lumping yang hidup dan berkembang di desa Tanjung. Kelompok kesenian tersebut dipimpin Bapak Wiyono alias Gendon. Kelompok tari ini sudah cukup lama berdiri dan memiliki anggota yang terdiri dari penari dan pemain musik.  Jumlah penari laki-laki dewasa ada 12 orang, sedangkan penari anak-anak ada 13 orang. Sementara itu, jumlah penari perempuan sebanyak 4 orang.  Sedikitnya jumlah penari perempuan tersebut terkendala oleh kurangnya minat untuk mengikuti kesenian ini.  Disamping para penari, juga ada para pemain alat musik, seperti untuk alat musik barong, celeng, gong, kenong, saron, suling,  dan sebagainya.  Selanjutnya, yang juga harus ada dalam kelompok tari kuda lumping ini adalah  kuda kepang, pecut, dan  penyanyi atau sinden untuk mengiringi permainan tersebut. Alat kelengkapan lain yang juga diperlukan bagi kelompok tari kuda lumping ini adalah busana atau kostum dan tata rias yang sesuai dengan karakter peran oleh  pemain yang tampil. Busana yang  harus ada seperti biru putih untuk pemain Kuda Lumping, hitam merah bagi pemain barong.

Kelompok tarian kuda lumping, Manggala Tribudaya desa Tanjung, memiliki visi “ Menjadikan para tunas bangsa untuk mencintai, memiliki, dan melestarikan kesenian dan budaya “. Dalam rangka mewujudkan visi tersebut dikembangkan dalam bentuk Misi dan Tujuan sebagai berikut :

  1. Terjalinnya hubungan yang baik antara kita dengan masyarakat yang lain.
  2. Menumbuhkan bakat dan minat generasi muda terhadap kesenian tradisonal.
  3. Terciptanya kondisi yang harmonis dan indah melalui kegiatan pemberdayaan kesenian tradisional.
  4. Memberikan ruang yang lebih luas pada generasi muda dan peminat kesenian tradisional Kuda lumping dalam menyalurkan kemampuan dan bakatnya masing-masing.
  5. Mendidik pumuda dan pemudi agar mencintai seni dan budaya .
  6. Menanamkan rasa memiliki seni dan budaya.
  7. Melestarikan seni dan budaya khusunya kesenian kuda lumping.

                                                                               

Views All Time
Views All Time
201
Views Today
Views Today
1
Previous articleINTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH
Next articleBudi Pekerti di Lingkungan Sekolah
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY