KENAIKAN PANGKAT GURU dan PAJAK PENGHASILAN

0
38

Melanjutkan pembahasan tentang 2,900 guru SD dab SMP di Kota Banjarmasin ternyata belum dapat membuat karya tulis ilmiah, baik internal maupun eksternal. Padahal karya ilmiah sebagai persyaratan kenaikan pangkat,.sehingga membuat  kenaikan pangkat  ribuan guru itu terpaksa tertunda. Permasalahan yang belum banyak terungkap dan dibahas, untuk dicarikan solusi yang tepat dalam masalah pembinaan guru, sebagai pengembangan karir dan profesionalisme guru, adalah semakin banyaknya guru yang tidak dapat naik pangkat gara-gara terhambat ketidakmampuan menulis karta tulis ilmiah tersebut.

Dari hasil perbincangan ringan penulis dengan seorang kawan,  bahwa ada kawannya di sekolah tidak mau mengurus naik pangkat dari golongan III ke golongan IV. Alasannya,  potongan pajak yang cukup besar antara guru PNS golongan III dan IV. Potongan pajak pada golongan III hanya 5%, sedangkan glongan IV sebanyak 15 %. Selesih 10%, sedangkan perbedaan banyaknya gaji yang diterima oleh golongan III dan IV tidak seberapa jauh, tidak sampai 10% lebihnya

Memang, cukup masuk akal dan rasional dengan pernyataan kawannya Maulidia hayati tersebut, karena ketika guru menerima tunjangan sertifikasi yang cair per 3 (tiga) bulan sekali, guru golongan III hanya dipotong pajak 5%, sementara guru golongan IV dipotong 15%. Sedangkan besaran dana yang diterima tidak jauh berbeda, tetapi potongan pajaknya 10% bedanya. Lumayan jauh bedanya. Inilah salah satu alasan kawan Maulidia Hayati tidak mau mengurus naik pangkatnya, dari golongan III ke golongan IV dan seterusnya.

Penulis mencoba merenungi pernyataan yang disampaikan oleh Maulidia Hayati tersebut. Kondisi tersebut,  mungkin  saja menjadi salah satu alasan bagi banyak guru yang tidak mau mengurus kenaikan pangkat selama ini, selain faktor atau alasan yang lainnya. Faktanya memang demikian, karena potongan pajak yang berbeda cukup jauh antara golongan III dengan IV ini akan mempengaruhi nilai uang diterima.

Sementara itu, faktanya juga menunjukkan bahwa gaji guru PNS atau ASN  golongan III dan IV tidak signifikan bedanya. Lain dengan PNS atau ASN yang bukan guru, mungkin saja perbedaan pangkat dan golongan, seperti III dan IV, akan berpengaruh besar dengan jabatan dan juga pendapatannya. Bagi guru, perbedaan gaji antara golongan III dengan IV itu tidak jauh beda atau tidak signifikan, sehingga ketika mendapat tunjangan sertifikasi guru yang berdasarkan gaji pokoknya, juga tidak jauh bedanya. Namun, saat pembayaran pajak, golongan III hanya dipotong 5%, sedangkan golongan IV sebanyak 15%.

Pembicaran penulis dengan Maulidia Hayati yang bercerita tentang ketidakmauan kawannya yang juga seorang guru, dan yang bersangkutan tidak mau mengurus naik pangkat dari golongan III ke IV, menjadi sesuatu informasi ringan tetapi sangat patut untuk dipelajari oleh pihak berwenang. Dari sebuah cerita tentang salah seorang guru yang enggan untuk mengurus naik pangkat dan glongannya tersebut, penulis kemudian terinspirasi untuk menulis opini atau artikel terkiat dengan banyaknya guru yang tidak naik pangkat hingga lebih dari puluhan tahun lamanya.

Selain makin ketatnya prosedur dan aturan yang berkaitan dengan proses pengajuan naik pangkat guru selama ini dengan menggunakan sistem Angka Kredit atau AK, tentunya juga ‘reward’ atau imbalan gaji yang diterima pasca naik pangkat juga kurang menjanjikan bagi seorang guru. Kenaikan pangkat ke pangkat dan golongan yang lebih tinggi bagi guru sebagai tenaga fungsional selama ini hanya bersifat prestasi dan ‘prestise’ belaka, karena besaran gaji yang diperoleh tidak signifikan jumlahnya dibandingkan dengan pangkat atau golongan yang rendah sebelumnya.

Perlu dikaji ulang tentang pajak yang dibebankan kepada guru ASN , khususnya terhadap pajak penghasilan yang diterima dari gaji, tunjangan sertifikasi, dan sebagainya bagi guru golongan IV. Tidak salah memang Pemerintah membebani pajak penghasilan kepada guru ASN, tetapi yang menjadi masalahnya terkait prosentase antara golongan III dan IV yang cukup besar perbedaannya, sementara perbedaan gaji dan tunjangan sertifikasi guru antara golongan III dan IV tersebut tidak begitu signifikan besarnya.

Permasalahan banyaknya guru yang tidak atau tertundanya naik pangkat dengan besaran prosentase pajak penghasilan memang tidak memiliki keterkaitan secara langsung. Namun, dalam faktanya ada guru yang melihat dan membandingkan pendapatan  gaji, sertifikasi, atau pendapatan lainnya yang kena pajak penghasilan antara golongan III dan IV, sehingga berasumsi untuk tidak perlu naik pangkat atau golongan IV. Semoga ada kebijakan dan pertimbangan terkait pajak tersebut, sehingga dapat lebih memotivasi dan memicu guru untuk naik pangkat ke tingkat yang lebih tinggi lagi, dan seterusnya. Semoga.

####

Views All Time
Views All Time
195
Views Today
Views Today
1
Previous articleCATATAN PERJALANAN PELAIHARI-ANGKINANG –HSS (Bagian 7. Menjenguk ‘ Julak Masran’ di Sungai Raya)
Next articlePRINSIP-PRINSIP DESAIN GRAFIS
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY