Kenali Sekitar 2: Kembali pada Zaman Anak Now atau Orang Tua Now (Sekarang)!

0
231

Tiba-tiba telepon genggam berbunyi, nada dering aplikasi whats app. Isinya
—ugghhhh Kawanya piaaann 🙁
Kesian am Guru di Bacok2 🙁
Heh, hnyr mendgr kisah.. Ledehh
=========================
#Copas
Info RC 113 TALA

tgl : 04-10-2017
Jam : 09.11 wita
Telah terjadi pembacokan/penganiayaan.tkp SD N PELAIHARI.,seberang kantor DUKCAPIL atau di seberang kantor PLN
Korban
Nama : S
Alamat : Guru SDN Pelaihari (disamarkan)
Pelaku 1
Nama : Mama org tua murid
Alamat : Datu Daim
Pelaku II
Nama : Saudara ibu ortu murid
Alamat : Datu Daim
orang tua murid menganiaya salah satu guru di SD N pelaihari..yang melukai tangan kanan & kiri guru tersebut. Untuk pelaku perempuan 2 orang
Dan pelaku sudah di aman kan oleh pihak yg berwajib..
Kronologis
Karena guru menegur murid tidak memakai sepatu
# untuk keadaan sekolah saat ini aman terkendali
INFO..
– Hafis bpk palam RC 113 tala
– pak parit RC 113 tala
Editor/penulis :
team response cepat 113 TALA.
Mohon maaf apa bila ad salah dlm penulisan info di atas.. Yg lebih mengetahui silahkan di tambah untuk infonya.

Disertai gambar pendukung di mana guru tersebut terbaring di rumah sakit.
****
Penuh layar membahas masalah di atas, dari pihak rekan kerja sesama dunia pendidikan, grup alumni, dan bahkan langsung dari keluarga sendiri.
Imbas pekerjaan yang dilakoni menjadi “sebuah pabrik” pencetak generasi penerus bangsa. Tidak menyalahkan diberi info dan tidak membenarkan hal tersebut selalu terjadi sampai ke ranah hukum kembali.

kejadian di wilayah luar

 

kronologi masalah

Ketika mata tertuju hal-hal yg selalu dan bahkan “KEMBALI” terulang,  ada sudut hati yang begitu bertubi sedih dan pilu sekian kalinya. Miris dunia pendidikan kembali terulang dengan pola pendidikan di sekolah yang “tidak  sesuai dengan orang tua” kah?  atau “Cara didikan kami sebagai tenaga pendidik yang sesuai prosedur ‘sangat’ lah salah?” .

Sebelum kejadian di atas ada beberapa fenomena yang menjadikan gambaran dunia pendidikan momok bagi “tenaga pendidik”, memang masih ada yang berpikiran positif ketika melihat kejadian yang telah terjadi. Pihak yang benar salah selalu merasa dibenarkan dan sebaliknya.
Kembali kita renungkan! ¹
Apa yang Anda rasakan ketika keterlibatan orang tua begitu berpengaruh besar di sudut pandang anak?
Ketika anak di usia beranjak masa keingintahuan yang begitu sangat besar dan dapat dikatakan beranjak remaja bahkan bisa jadi dewasa di mata orang lain tetapi masih belum dapat dikatakan menyelesaikan masalah dengan baik apalagi jika konsep dalam keluarga inti memiliki keeratan emosional baik.
Pendidikan yang terbaik dan utama yang tertanam dari awal berasal dari keluarga inti. Keluarga inti adalah kelompok terkecil yang terdiri dari orang tua lelaki, orang tua wanita, dan anak tentunya.

Pemberian pemahaman konsep keluarga akan menjadikan bekal terhadap karakter ciri khas tersendiri bagi anak.
Begitu besar peran orang tua bagi anak tidak sekedar keberhasilan yang diperoleh anak namun keberhasilan yang tertunda yang diterimanya pula. Faktor keberhasilan anak dalam mencapai sesuatu hal yang dibanggakan dan membanggakan menjadikan konsep kepuasan yang dirasakan oleh lingkup keluarga inti telah berhasil. Namun bagaimana jika anak mengalami keberhasilan tertunda?
Penilaian yang diterima anak terkadang dengan cara menyudutkan kesalahan mengapa anak mengalami kegagalan tersebut.

Apakah kita pernah memahami dan menyadari faktor penyebabnya pada si anak secara langsung dari hati ke hati?

Pernahkah pula kita mengalami ketidakberhasilan secara spontan dan lambat dalam hidup?

Jika Anda tidak pernah mengalami ketidakberhasilan berarti belum mengenal arti kehidupan. Benar?

Kembali bertanya kepada orang tua,

Apakah pernah kami sebagai tenaga pendidik pernah “selalu” langsung mengeluh dan bahkan kasar kepada anak didik ketika “selalu” berbuat tidak benar?

Apakah Kami akan membiarkan anak didik kami tidak patuh terhadap aturan?

Apakah teguran kami selalu ditangkap sekali langsung ditindak?

Jangan!

Dari setiap kejadian jarang kami langsung main hakim sendiri,  bahkan tenaga pendidik “masih”  mendoakan hal yang terbaik untuk anak didik yang melakukan hal yang cukup saya anggap tidak benar.

postingan dari guru ybs

Namun permasalahan yang dihadapi hal di atas pada di zaman sekarang cukup jauh berbeda dengan waktu lalu. Kemungkinan adanya Permasalahan ekonomi dan teknologi yang mengejar satu dengan lain berlomba-lomba untuk menjadi lebih baik serta kurangnya konsep Pemahaman dari pembinaan cara keluarga inti . Terdapat kesulitan dalam menghadapi hal tersebut. Contoh terdekat saja saat ini begitu terlihat dan miris mengetahuinya, dimana Anak tidak mau sekolah atau tidak masuk mengikuti pembelajaran beralasan tidak diberi uang saku jajan; tidak dibelikan alat transportasi; tidak dibelikan telepon genggam terbaru mirip dengan teman sebaya; tidak dibelikan laptop/keperluan sekolah sedangkan pemenuhan begitu minim ketika penghasilan orang tua sedikit bahkan tidak ada.

Hal-hal itu sungguh menjadi beban orang tua. Lain cerita ada saja ketika orang tua menyerahkan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan untuk mendidik anak sepenuhnya dikarenakan orang tua tidak dapat mendidik karena ada alasan yang tidak sanggup dengan tingkah laku anak serta kesibukan oleh pekerjaan. Sedangkan ada beberapa kasus yang menjadikan lembaga pendidikan yang katakan “salah” mendidik anak sampai diperkarakan dan akhirnya kejadian seperti tersebut.

Pihak sekolah manapun tentu dan “wajib” memiliki aturan baik tertulis dan lisan karena menjadikan sebuah pabrik yang bermutu tidaklah tanpa alat, bangunan, pelaku, dan hal yang mengekang /aturan.
Kembali lagi diingatkan negera kita adalah negara hukum. Jika sekolah memilki  peraturan bolehkah aturan tersebut disalahkan ketika terjadi kealpaan.  Ketika sebuah lembaga mengetahui ada kesalahan dan membiarkan?

Ketika salah seorang peserta didik melakukan kealpaan tidak ditegur malahan diberi umpan balik naik kelas sedangkan anak tersebut tidak mumpuni.  Barulah hal itu dapat kita luruskan. Tuntutan agar anak pintar akhirnya di masukan ke lembaga pendidikan. Namun, ketika perlindungan orang tua salah. Maka janganlah main hakim sendiri. Kenali apa yang telah dilakukan si anak. kembalikan kepada sila keempat, lakukan secara musyawarah mufakat.
Tapi kembali kejadian demi kejadian terulang lagi. Apakah ini hanya sebagai simbolis akan adanya norma hukum yang mengikat namun kalah oleh hukum rimba? Jika anak kalian tidak ingin disalahkan, tidak ingin didik dengan aturan lembaga. Maka buatlah lembaga anda sendiri. Buatlah lembaga anda sendiri. Apakah harus kembali ke zaman jahiliyah? Tidak, bukan? Mari orang tua dan dunia pendidikan saling mendukung kearah lebih baik dan positif karena hebatnya arus modernisasi terhadap anak lebih dan sangat besar mempengaruhi mereka. Terpenting dan utama didikan keluarga intilah adalah bekal untuk anak. Apalagi bangsa kita dikenal sebagai warga yang ramah tamah. Perlukah Bapak/Ibu memerlukan otot suara untuk menyelesaikan masalah?

Jika orang tua paham mengenai cara mendidik yang tepat untuk anak-anak mereka. Mengapa kita harus main hakim sendiri?  Kita bukan di hukum rimba ataupun di Zaman jahiliyah!

catatan : ¹

ORANG TUA : RENUNGKAN NIAT AWAL KITA !

Views All Time
Views All Time
368
Views Today
Views Today
1
Previous articlePembiasaan Senyum, Sapa dan Salam
Next articleREFLEKSI 29 TAHUN MENGABDI MENJADI GURU : MASA DI SMPN 1 PELAIHARI –Bagian 6 (2017)
EL Bara Rahma nama pena dari Lilis Suryani, kelahiran Lumajang 28 April. Telah Menyelesaikan S1 FKIP UNLAM Banjarmasin jurusan Bahasa Indonesia, Sastra dan Daerah (2010). Tenaga Pendidik di MTsN 1 Kintap (2011), SMAN 1 KINTAP (2011-2018),SMAN 2 JORONG (2014-sampai sekarang), SMAS AL HIDAYAH (2011-2017). Beberapa karya puisi pernah dimuat di media lokal Banjarmasin Post (2008), Pernah memerankan salah satu tokoh di pementasan Teater Islam, Nur Rasulullah (Adjim Ariyadi,2007). Kembali berkarya lagi, antara lain Antalogi Puisi Penyair Nusantara oleh Tuas media berjudul Simbolik Diafragma Hati (2016), Bias Setitik Harapan Hati(Peserta Lomba Cipta Puisi Ruas ke-3 Indonesia-Malaysia 2016), Antalogi Puisi Pelita Tanpa Cahaya berjudul Jadi Hati Abu (Aksara Aurora Media,2016) , Antalogi Puisi Warna judul Enkripsi Warna Duniaku(WAP,2017), Karya artikel opini ' Orang Tua Hebat adalah Orang tua Terlibat' ( Radarbanjarmasin, 2017)

LEAVE A REPLY