Kenali Sekitar yang Lebih Dekat 1 : Yuk, Kenalkan Mereka dengan KBBI !

0
110

Belajar merupakan kegiatan yang dapat berkumpulnya ilmu-ilmu sehingga memperoleh pengetahuan baru dan menjadikan hal-hal kecil di sekitar serta tidak luput dapat dijadikan pembelajaran sederhana untuk pengalaman siswa itu sendiri. Perolehan ilmu tidak serta merta harus secara otodidak tetapi secara bersama dengan memecahkan masalah untuk mencati rekomendasinya.
Sekolah adalah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa/murid di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa kemajuan melalui serangkaian sekolah. [1]
Tetapi bagi pribadi sistem tersebut kadang masih belum terdapatnya kemajuan dari serangkaian kegiatan siswa yang dilakukan. Ketika dalam proses pembelajaran, siswa mengalami kesulitan memaknai kata sehingga dilakukan pencarian ke dalam kamus.
Jika secara singkat, tentulah kita mengenal apa itu kata?
Kata atau ayat adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya kata terdiri dari satu akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. [2]
Begitu mudah ketika siswa diminta untuk mencari makna dari kata yang kita lafalkan. Namun berbeda jika kata yang diminta berasal dari kata yang telah mengalami penambahan/afiks. Afiks atau imbuhan adalah bunyi yang ditambahkan pada sebuah kata – entah di awal, di akhir, di tengah, atau gabungan dari antara tiga itu – untuk membentuk kata baru yang artinya berhubungan dengan kata yang pertama.[4]
Kata berimbuhan adalah kata yang telah mengalami proses pengimbuhan atau (afiksasi). Imbuhan atau afiksasi adalah morfem terikat yang digunakan dalam bentuk dasar untuk membentuk kata. Hasil dari proses pengimbuhan itu disebut kata berimbuhan atau kata turunan.[5]
Mungkin hal ini sederhana dan sepele bagi kita tenaga pendidik. Namun, tahukah Bapak/Ibu hal ini menurut sampel yang pernah dilakukan penulis dari tahun 2011 sampai dengan tahun ini masih belum dikatakan dalam zona aman bagi peserta didik baru dari tingkat pertama dan menengah untuk menggunakan tata cara pembacaan kamus Indonesia ini.
Berbeda sekali dengan kecepatan mencari menggunakan kamus bahasa lain. Bukan hal sepele dan ini miris melihat kenyataan di lapangan. Gambaran yang ada kamus Bahasa Indonesia konsepnya sama dengan kamus pada umumnya. Akan tetapi, pengguna dalam mencari makna masih terlihat belum sepenuhnya paham cara membaca kamus -mencari makna- apalagi ketika kata yang dicari padanannya berupa kata yang telah mengalami penambahan melalui afiksasi.
Dari survey yang telah dilakukan di tahun ini -penulis mengharapkan tidak terjadi kembali ternyata tahun ini masih kembali- saja menggunakan sampel dengan jumlah siswa 120 siswa/i dari tiga lembaga diminta untuk mencari makna dari suatu kata pada kamus Besar Bahasa Indonesia.
Ketika kata “memahami” untuk dicari arti dari kata tersebut pada kamus. Maka anak didik dari sampel tidak sampai di atas 10 yang paham dan cepat mencari kata tersebut pada kamus. Kebanyakan siswa/i akan memulai dan mengawali menekan pada huruf “m” untuk mendapatkan makna kata dari kata memahami.

Jadi, pencarian makna kata “memahami” kita pisahkan dari afiks

memahami = me(N)+ paham + i

maka, kata yang kita cari berada pada huruf “p”.. paham.ditemukanlah arti šŸ˜„

Sungguh kenyataan di lapangan dalam pembelajaran begitu belum mendapatkan keberhasilan yang nyata. Terkadang masih saja segelintir verbal mengatakan, ” Untuk apa belajar membuka kamus tidak ada pula akan dites ketika bekerja”. “Hanya membaca kamus, anak tingkat dasar pun paham sekali”. Mohon sekali untuk saat ini hal ini masih dianggap sepele.
Namun tahukah dari hal sederhana ini, sistem telah mengubah sedikit perubahan dan kebermanfaatn akan sejenis buku rujukan yang menerangkan makna kata-kata. Ia berfungsi untuk membantu seseorang mengenal perkataan baru. Selain menerangkan maksud kata, kamus juga mungkin mempunyai pedoman sebutan, asal usul (etimologi) sesuatu perkataan dan juga contoh penggunaan bagi sesuatu perkataan. inilah arti kamus. [6]
Jangan anggap ini lelucon atau menggampangkan Bapak/Ibu. Coba tes anak didik saat ini juga Bapak/Ibu untuk melakukan hal ini. Jika yang dicari berasal dari kata dasar bolehlah mereka akan cepat mendapat makna. Terkendala jika kata yang dicari sudah mendapat proses penambahan. Maka dari itu, izinkan saya meminta Bapak/Ibu untuk dapat mengajari anak diberi kamus Besar Bahasa Indonesia. Beri mereka kata (mengalami penambahan/afiksasi) dan perintahkan untuk mencari makna dari kata tersebut. Lihat dari detik dan berapa menit mereka mendapatkan.eLBR.

 

 

Ā°NB :

[1,2,3,4,5,6] https://id.m.wikipedia.org/wiki

Views All Time
Views All Time
228
Views Today
Views Today
1
Previous articleLATIHAN KERJA CALON INSTRUKTUR GURU PPKn SLTP TINGKAT NASIONAL (biografi)
Next articleMini dan Mandiri Sebagai Strategi Menumbuhkan Minat Baca di SD
EL Bara Rahma nama pena dari Lilis Suryani, kelahiran Lumajang 28 April. Telah Menyelesaikan S1 FKIP UNLAM Banjarmasin jurusan Bahasa Indonesia, Sastra dan Daerah (2010). Tenaga Pendidik di MTsN 1 Kintap (2011), SMAN 1 KINTAP (2011-2018),SMAN 2 JORONG (2014-sampai sekarang), SMAS AL HIDAYAH (2011-2017). Beberapa karya puisi pernah dimuat di media lokal Banjarmasin Post (2008), Pernah memerankan salah satu tokoh di pementasan Teater Islam, Nur Rasulullah (Adjim Ariyadi,2007). Kembali berkarya lagi, antara lain Antalogi Puisi Penyair Nusantara oleh Tuas media berjudul Simbolik Diafragma Hati (2016), Bias Setitik Harapan Hati(Peserta Lomba Cipta Puisi Ruas ke-3 Indonesia-Malaysia 2016), Antalogi Puisi Pelita Tanpa Cahaya berjudul Jadi Hati Abu (Aksara Aurora Media,2016) , Antalogi Puisi Warna judul Enkripsi Warna Duniaku(WAP,2017), Karya artikel opini ' Orang Tua Hebat adalah Orang tua Terlibat' ( Radarbanjarmasin, 2017)

LEAVE A REPLY