KENANGAN RAMADHAN  DI KOTA KELAHIRAN

0
2
KENANGAN RAMADHAN

DI KOTA KELAHIRAN

Oleh: Ida Rusmiyati

 

 

Aku dilahirkan di kota Gombong, Kabupaten Kebumen. Kota ini adalah kota yang  penuh dengan kenangan indah. Terutama saat bulan Ramadhan.

Saat remaja dahulu bila liburan puasa tiba aku selalu bergegas ke kota ini menuju rumah nenek dan kakek yang sangat aku sayangi. Ya, nenek dan kakek bagaikan orang tuaku sendiri, karena sejak kecil aku dirawat oleh mereka. Jadi tidaklah heran bila saat liburan puasa menjelang lebaran tiba kulampiaskan rasa kangenku kepada nenek dan kakek dengan datang ke kota Gombong.

Bagiku menghabiskan Ramadhan di kota ini sangatlah membahagiakan, selain bisa bermanja-manja dengan nenek dan kakek, aku bisa bermain-main dengan saudara-saudaraku.

Bau aroma khas rokok Sintren selalu menandai kota ini. Hidungku sudah terbiasa mencium aroma Sintren, manakala bus yang aku tumpangi memasuki wilayah kota Gombong. Bau yang mendamaikan kalbu. Entah mengapa hatiku merasa aman, tenteram, dan damai manakala mencium bau ini. Otak dalam kepalaku mengatakan bahwa itu tandanya aku sudah sampai dengan selamat di kota Gombong.

Semua saudaraku pasti tahu kalau aku tiba di Gombong, dan mereka sudah pasti mendatangi rumah nenek dan kakek. Untuk memastikan bahwa aku sudah hadir di kota ini.

“ Bu Gedhe… Bu Gedhe…, Mbak Ida apa wis teka seka Semarang?” begitu tanya semua saudaraku kepada nenek. ( Budhe…Budhe…apakah mbak Ida sudah datang dari Semarang?)

“ Iya bener, Ida wis teka!” jawab nenek sambil tersenyum dari dalam dapur. ( Iya benar, Ida sudah datang!)

“ Mbak Ida kepriben kabare?” tanya saudara-saudaraku yang segera aku sambut dengan jawaban , “ Aku baik-baik!”  ( Mbak Ida apa kabar?)

Ya memang aku tak bisa berbicara dengan bahasa ngapak, sehingga aku tak bisa pula menjawabnya….hehhehe…entahlah…aku sendiri heran dengan diriku. Perihal bahasa ngapak itu sendiri, aku hanya paham arti dan maksudnya. Aku memang numpang lahir di kota ini, tetapi aku dibesarkan di kota Balikpapan, kemudian kembali ke pangkuan orangtuaku di Semarang saat ku sudah beranjak remaja dewasa.

Tentang kota Gombong ini, aku hanya berada di sini sebentar-sebentar saja. Walau demikian kota ini membawa kenangan tersendiri bagiku.

Makanan kesukaanku selalu tersedia saat aku berada di Gombong, neneklah yang menyediakannya. Magleng, Moho, enting-enting,lanthing, dan rambag goreng hangat (lemak daging sapi yang digoreng garing dan dibungkus daun jati yang masih fresh keluar dari wajan biasanya dibeli di rumah pejagalan sapi), dan tidak ketinggalan mendoan hangat….duhh enak semua. Masakan nenek yang menjadi favoritku adalah sop balungan yang memasaknya menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu. Aromanya sangat khas, menambah kelezatan cita rasa sop. Tidak lupa sambal kecap. Biasanya kalau aku sedang menyantap sop balungan saudara-saudaraku akan mengeluarkan gurauannya, “Eling Mbak…eling…!” sambil tertawa, dan akupun ikut tertawa geli. (Ingat Mbak…ingat!)

Heheheheh… aku memang kalap kalau sudah makan sop, tak mau mengingat kalau aku makan sop sudah habis satu panci. Nenek hanya bisa tersenyum senang memandangku.

Di kota Gombong ini, aku dan saudara-saudaraku selalu giat melaksanakan ibadah puasa, kami sering shalat tarawih dan juga shalat subuh di Masjid Kauman yang terletak di Jl. Yos Sudarso. Kuingat kami sering berjalan sambil bercerita menuju ke Masjid untuk menunaikan shalat Tarawih ataupun shalat Subuh. Ya hanya berjalan-jalan dan bercerita sungguh sangat mengasyikkan. Biasanya sehabis shalat Subuh di Masjid kauman, kami berjalan-jalan kaki ke jalan Sempor. Sekadar jalan saja menikmati sejuknya udara dan pemandangan pagi. Setelah puas berjalan-jalan di jalan Sempor, kamipun pulang melewati Pasar Gombong, di sana kami sempatkan menengok Mbah Sumekar ( adik Mbah Putri )  yang sedang menata dagangannya, membantu kalau ada yang bisa kami bantu.

Kami keluarga besar sangatlah menjaga hubungan persaudaraan dengan saudara-saudara  kami. Saudara adalah segalanya bagi kami. Walau kami saat ini berjauhan, karena kami memiliki kehidupan masing-masing di berbagai kota di Indonesia, tali persaudaraan masih terjalin erat walau hanya melalui media sosial. Semoga tali persaudaraan keluarga kami selalu erat terjalin, seperti yang termaktub dalam sabda Rasulullah SAW

 

تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ، ذَرْهَ

Artinya: “Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orangtua dan saudara.” (HR Bukhari).

 

Rasulullah SAW juga menjelaskan yang dimaksud silaturahmi

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Artinya: “Silaturahmi bukanlah yang saling membalas kebaikan. Tetapi seorang yang berusaha menjalin hubungan baik meski lingkungan terdekat (relatives) merusak hubungan persaudaraan dengan dirinya.” (HR Bukhari).

 

Semoga Allah selalu memberikan berkah dan rahmatNya kepada kita semua yang selalu menjaga tali persaudaraan dengan semua saudara dan keluarga besar.

Selamat menjalankan ibada Puasa Ramadhan.

 

 

Ungaran, 24 April 2021

 

#30harimenulisramadhan

#gbmhari ke-12

 

 

ReplyForward
Views All Time
Views All Time
13
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY