Kering

0
11

Sudah sekian lama tak berjumpa, terasa sunyi dan sepi hidup dalam kesendirian. Rasa rindu dalam bisu, memapah pilu dalam kalbu. Hati Tari seakan membeku tetapi terasa kering. Setiap malam hanya terdengar jengkerik dan belalang. Terlanjur disepakati bahwa menikah dahulu sebelum suami merantau ke luar negeri, berharap mendapatkan pundi-pundi ringgit sebagai modal usaha. Tak urung juga Tari yang lebih menyesalinya. Hujan emas tetapi di negeri orang. Nasi sudah menjadi bubur tak baik disesalinya. Dia selalu berdoa memohon agar diberi keselamatan bagi keluarganya.

Sore ini langit bersiap-siap memberi warna jingga perak keemasan. Warna seram dan kelam karena sebentar lagi menjadi hitam berjelaga. Tari yang sudah empat tahun ditinggal suami mengais rejeki di Negeri Jiran. Selalu berkabar setiap hari namun angan tetap menjadi keinginan untuk segera bertemu. Menjadi istri yang setia adalah idaman semua orang. Hari-harinya diisi dengan mengajar di sekolah dasar tak jauh dari rumahnya. Sedikit terhibur karena setiap hari bertemu siswa dengan berbagai karakter.  Bu Tari hari ini mengajar menggambar. Pada saat dia memberi contoh anak-anak membuat garis lengkung untuk dibuat bayangan suatu benda, tak terasa air mata hampir menetes. Nyaris saja mengenai kertas di meja, untung segera ditahan dan langsung dilap dengan tisu.

Setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung, Tari menengok perpustakaan yang letaknya di sebelah Ruang Guru. Buku-buku yang sudah tertata rapi dicek ulang dan diperhatikan tata letaknya agar tetap berurutan. Setelah dirasa cukup Tari segera menutup kembali perpustakaan yang dikelolanya. Sambil melirik tumpukan buku yang baru diterbitkan Hikmah Sebuah Kesabaran. Buku yang baru saja dikarangnya itu kini sudah berkumpul dengan buku populer lainnya. Ada rasa bangga karena sudah bisa menulis buku yang berisi kumpulan pantun tersebut. Perlahan Tari berjalan pulang tak lupa membuka payung untuk melindungi kulitnya. Setelah hampir sampai di kediamannya, dia tertegun ketika dilihatnya sesosok laki-laki yang berperawakan tinggi berdiri di pintu pagar. Lelaki itu tersenyum sambil terus memandangi dirinya. MasyaAllah, suamiku pulang… suamiku pulang sambil menangis dan memeluk laki-laki yang dirindukannya itu. Kini langit cerah, secerah sinar harapan dan kerinduan Tari terhadap suaminya.

 

Malang, Maret 2021

Views All Time
Views All Time
20
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY