Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan memiliki hak, kesempatan dan kewajiban yang sama untuk mendapatkan akses pendidikan. Meskipun demikian, masih banyak dijumpai praktik diskriminasi atas dasar gender yang sangat bertentangan dengan hak asasi manusia.

Dalam dunia pendidikan saat ini, prestasi perempuan masih dipandang rendah dibandingkan dengan kaum laki-laki. Hal itu menjadikan kaum perempuan tidak memiliki ruang dalam menyalurkan aspirasinya karena keterbatasan akses yang didirikan oleh masyarakat, yang melegitimasi perbedaan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Apalagi dalam sebagian masyarakat kita berasumsi bahwa secara alamiah laki-laki diciptakan dengan kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki pada kaum perempuan. Anggapan seperti ini dipengaruhi oleh faktor-faktor kultural masyarakat paternalistik yang cenderung memposisikan perempuan sebagai second gender (masyarakat kelas dua).

Secara psikologis, tidak ada satu pun teori yang menyebutkan bahwa laki-laki lebih cerdas ketimbang kaum perempuan. Tidak ada satu data alamiah yang menyatakan bahwa perempuan terlahir lebih bodoh dibandingkan dengan kaum laki-laki. Bahkan, hasil tes itelegensi menunjukkan bahwa perempuan mendapatkan skor yang relatif sama dengan para lelaki.

Bahkan hasil penelitian yang dilakukan Abdul Mukti (2001) menunjukkan bahwa mayoritas perempuan memiliki indeks prestasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini menunjukkan pula bahwa perempuan secara kodrati  bisa sama bahkan bisa lebih cerdas dibandingkan dengan kaum Adam. Namun, ironisnya kesempatan yang diberikan dan dimanfaatkan perempuan di negeri ini untuk mengikuti dan mendapatkan pendidikan masih sangat rendah.

 

 

Kendala Kultural

Lemahnya pendidikan kaum perempuan dibandingkan kaum laki-laki disebabkan oleh beberapa faktor kultural. Dalam pandangan masyarakat paternalistik, laki-laki dipandang memiliki ‘nilai ekonomi’ yang lebih tinggi, sehingga tidak heran bila mayoritas orang tua cenderung mementingkan pendidikan anak laki-laki. Apalagi ada asumsi yang kuat bahwa anak laki-laki akan menjadi kepala keluarga, penanggung-jawab keluarga, dan menjadi figur sentral dalam komunitas keluarga.

Selain itu, kodrat sistem reproduksi perempuan yang menjadikannya sebagai ibu seakan-akan melekatkan perempuan pada peran domestik kerumah-tanggaan. Kodratnya sebagai ibu sering menjadikan kaum Hawa ini mengalami ketidakadilan gender. Ketidakadilan ini, dengan sengaja atau tidak disuntikan pada anak-anak yang justru pada fase-fase awal yakni saat pendidikan orang tua di tingkat keluarga.

Dalam melakukan pendidikan di rumah, orang tua secara tidak sadar memposisikan anak perempuan hanya pada peran yang berkaitan dengan tugas-tugas domestik seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah dan mengasuh adik. Sedangkan anak laki-laki lebih banyak diarahkan pada kegiatan yang lebih bersifat kompetitif sehingga memiliki banyak pengalaman di sektor publik dibanding anak perempuan.

Pembagian kerja tersebut, melahirkan stereotip peran gender laki-laki dan perempuan. Pembagian inilah yang menjadi awal ketidakadilan gender yang amat merugikan kaum perempuan. Akibatnya, kaum perempuan terkungkung dan terjebak pada stereotip ‘pantas-tidaknya’ apa yang dilakukannya. Juga akan membatasi pengembangan potensi hanya pada bidang ilmu dan pekerjaan yang ‘khas perempuan’. Kesemuanya, telah meminimalkan peran kaum perempuan di sektor publik.

Kemudian dalam proses pendidikan di sekolah, faktor kultural masih menempatkan posisi perempuan pada posisi marjinal. Para pendidik cenderung memberikan kesempatan dan posisi yang lebih pada siswa laki-laki dibanding anak perempuan. Dampak yang terjadi kemudian akan menempatkan posisi dan peran siswa perempuan terpinggirkan.

 

Pendidikan berkeadilan gender

Bias gender dan ketidakadilan gender di dunia pendidikan, akan terus terjadi akibat kurang pekanya para birokrat pendidikan pada keadilan gender. Setidaknya, para birokrat pendidikan harus meningkatkan kesadaran dan kepekaan gender dalam setiap merumuskan kebijakan pendidikan di lapangan.

Keadilan gender bisa diwujudkan melalui pendidikan, baik pendidikan di rumah, maupun pendidikan formal di sekolah. Peran orang tua dalam pendidikan di rumah harus mengajarkan bahwa anak laki-laki maupun perempuan memiliki andil yang sama di sektor publik dan domestik. Orang tua sesering mungkin dengan menukar peran keduanya, dan juga anak laki-laki harus dibiasakan mampu mengerjakan tugas domestic dan sebaliknya.

Pendidikan di sekolah pun seyogianya tidak menekankan mana yang pantas dilakukan anak laki-laki dan mana yang cocok untuk perempuan, keduanya harus diberi akses yang sama sebagai sumber daya yang berpotensi. Peningkatan pemahaman gender, kesadaran, dan sensitivitas gender harus dilakukan oleh para praktisi pendidikan sehingga bisa mengubah persepsi gender yang lebih adil. Dengan demikian, kesadaran pada pemahaman gender melalui pendidikan baik formal maupun pendidikan keluarga yang mempertimbangkan kebutuhan gender untuk laki-laki dan perempuan secara seimbang akan mempercepat terwujudnya keadilan gender secara luas. Semoga. (***)

Views All Time
Views All Time
44
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY