KETIKA CINTA HARUS BERBAGI

0
6

KETIKA CINTA HARUS BERBAGI
Part 3

Part sebelumnya
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2568355599892982

Bambang juga membalas erat pelukan Tina dengan haru. Ayah yang kini sedang berada di Mekkah dalam keadaan sehat dan bugar tiba-tiba meninggal dunia. Beliau menunaikan rukun islam kelima sendirian karena Ibunya Tina sudah pergi menghadap Sang Pencipta sepuluh tahun yang lalu. Ayah meninggal di dalam Masjidil Haram, usai beliau sholat subuh. Kini para petugas di sana masih mengurus jenazah beliau agar segera dikubur.

“Ikhlaskan, Bu. Insya Allah beliau husnul khotimah.” Bambang menguatkan Tina meski dia juga tak mampu membendung airmata. Bagaimana tidak, Ayah mertualah orang yang paling berjasa dalam hidup Bambang. Tak kan sukses hidup mereka tanpa tangan Ayah.

“Tapi aku masih butuh beliau, Pak. Ayah selalu membantuku menjaga anak kita saat aku sibuk di dapur,” tatap Tina kepada Bambang setelah melepas pelukannya dengan mata merah karena sudah lama menangis.

“Beliau dengan sabar selalu menarik tali ayunan saat Fahirah tidur berjam-jam. Bermain bersama Fahran tanpa kenal lelah. Aku masih butuh Ayah, Pak.” lanjut Tina menyandarkan wajah muram ke dada Bambang dengan isak tangis.

Tina menerima kabar dari pegawai KUA kecamatan yang datang langsung. Memastikan nama orang tua dan binnya, ternyata cocok. Memang Ayah Tina yang meninggal di tanah suci. Semua saudara Tina sudah berkumpul di rumah yang baru 4 tahun mereka huni. Ayah ikut dengan Tina karena semua saudara Tina laki-laki semua. Tina anak paling bungsu dari 5 bersaudara.

“Gak enak kalau tinggal dengan mantu, kurang bebas,” kata Ayah kala itu padahal menantu beliau baik semua. Kakak-kakak Tina juga orang berkelas. 3 PNS dan 1 polisi. Masalah ekonomi tak jadi masalah, tapi Ayah memilih tinggal dengan anak perempuan semata wayangnya. Biar lebih bebas kalau ada keperluan, dan tak sungkan jika minta selera makan.

Bambang pamit sebentar untuk memindahkan mobil dari tepi jalan depan rumah. Dia bermaksud menitip mobil di rumah orang tua Bambang di kampung sebelah karena di rumah tersebut akan mengadakan takziah hingga hari ketujuh meninggalnya Ayah. Tina percaya saja, tanpa ada curiga dan buruk sangka. Padahal, sedari tadi sepasang mata indah selalu menatap ke dalam rumahnya meski terhalang para pelayat.

Bambang mulai menstarter mobil, dan mencium kening Leni. “Kayaknya bukan sekarang waktunya, dek,” bisik Bambang.

Leni mengerti. Bila dipaksakan pasti Tina akan bertambah terpukul. Hati wanita, sama-sama selalu bermain perasaan walau ego tak bisa dikalahkan.

“Sekarang kita mau kemana, Kak? tanya Leni, wanita yang selisih tiga tahun dari Bambang. Saat mereka berpacaran di bangku SMA, Bambang kelas 3 dan Leni kelas 1. Mereka berkenalan pada saat masa penataran P4 di sekolah. Bambang sebagai panitia, dan Leni menjadi siswa baru. Sejak itulah, rasa ingin saling memiliki timbul. Setahun pacaran cukup memberi kesan tak terlupakan bagi mereka berdua. Hingga akhirnya terpisah jarak juga terkendala biaya.

“Kamu tinggal di rumah Ibuku dulu, ya. Nanti setelah acara tujuh hari, baru kita menghadap Tina,” pinta Bambang agar Leni memberi pengertian dan faham akan situasi yang kini tengah melanda.

Leni tak keberatan, dia sudah kenal Ibu mertua. Orangnya baik, dia tahu saat hari pernikahannya beberapa saat yang lalu. Belum genap 2 x 24 jam.

Bu Mida baru saja mengunci pintu, ia hendak ke rumah Bambang setelah tahu kabar duka dari tetangga di warung sebelah. Mobil Bambang berhenti tepat di depan rumah. Bu Mida kaget bukan kepalang melihat sepasang pengantin baru keluar dari mobil. Beliau heran, tega-teganya Bambang membawa madu disaat duka bersama Tina. Mau marah tapi tak enak sama menantu baru.

“Anak tak tahu diri. Sudah dikasih kemewahan malah berbuat macam-macam,” gerutuh Bu Mida dalam hati. Beliau sudah mencegah pernikahan kedua Bambang tanpa sepengetahuan Leni, tapi Bambang keras kepala. Hanya mementingkan diri sendiri. Alasan cinta, cinta, dan cinta. Persetan dengan cinta.

“Kapan nyampenya? Kok gak ngasih kabar dulu?” ucap Bu Mida memasang senyum semanis mungkin untuk menenangkan diri sendiri. Sesungguhnya, ia gelisah menahan amarah.

“Bu, Leni tinggal disini dulu, ya. Tadinya mau kubawa bertemu Tina tapi rupanya ada musibah di rumah. Boleh ya, Bu?” pinta Bambang memotong pertanyaan Bu Mida.

Mau tak mau Bu Mida harus meng-iya-kan. Kemana lagi Leni mau bermalam kalau bukan disana.

“Ayo Bu masuk mobil. Kita ke rumah,” ajak Bambang tergesa-gesa membukakan pintu mobil.

Bu Mida menyerahkan kunci rumah kepada Leni dan segera memasuki mobil untuk menuju ke rumah duka.

Bambang meraih tangan Leni. “Kamu tenang-tenang disini ya sayang, ya. Aku pasti merindukanmu,” mesra Bambang mengecup dahi istri kedua.

“Ibu heran sama pikiran kamu, nak. Kok bisa kamu berbuat serong dari Tina. Kurang apa dia? Saleha iya, baik iya, kaya apalagi. Apa maumu, nak?” marah Bu Mida kala mobil melaju. Ia menumpahkan perasaan yang dipendam sedari tadi.

Bambang hanya diam. Sadar kalau dirinya salah. Namun, cinta yang begitu besar kepada Leni mampu mengalahkan segalanya. Cinta yang begitu lama tertahan karena jarak. Beruntung Leni tak menikah dengan lelaki lain. Dia sangat setia dan begitu percaya kepada janji yang dulu diucapkan Bambang.

“Aku pasti kembali menemuimu bila aku sukses. Percaya dan yakinlah, cintaku hanya untukmu,” rayu Bambang saat perpisahan sekolah. Bambang mengutarakannya di perpustakaan ketika para siswa lain sibuk bersama acara masing-masing.

“Janjiku juga seperti itu, aku akan setia menantimu. Datanglah, aku tak kan menikah sebelum kau datang,” janji Leni sambil menitikkan butir bening setelah melepas kecupan mesra di bibir tipisnya yang masih terasa.

“Jawab, nak!” Bu Mida meninggikan volume suaranya membuyarkan lamunan Bambang.

“Aku tak bisa untuk berhenti mencintai Leni, Bu. Maafkan aku. Mungkin diantara anak Ibu yang lain, akulah yang paling bejat. Maafkan aku, Bu…” Bambang sadar akan kesalahannya hingga berkali-kali memohon maaf kepada Bu Mida.

“Mohon maaflah kepada Tina, aku tak sanggup untuk menjadi penengah di antara kalian. Ibu juga wanita, nak. Perasaan kami sama. Selesaikan masalahmu ini secara bijak dan dewasa,” kata Bu Mida berkaca-kaca.

Next

Part selanjutnya
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2572139832847892

Views All Time
Views All Time
11
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY