KETIKA CINTA HARUS BERBAGI part 2

0
6

KETIKA CINTA HARUS BERBAGI
Part 2

Part sebelumnya
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2565538113508064

Leni sumringah mendengar janji dari Bambang. Rasa senang tiada banding dalam pelukan hangat suami tercinta. Terasa melayang di udara dan berdiam di awan sambil mereguk manisnya cinta di cawan asmara. Ditindihnya badan kekar itu, kembali ia ingin menikmati dan mengulangi lagi candu surga dunia walau baru saja terasa. Bambang pun merasa tergoda atas gerakan dan kecupan manja dari istri kedua tersebut. Birahinya bangkit. Berdua, kembali merengkuh puncak cinta yang menggelora. Sungguh, tak ada banding rasa yang mereka nikmati saat ini.

Bambang lupa akan anak istri yang menunggu di rumah. Tina tak mampu memejamkan mata. Meski berkali-kali ia memaksakan diri tapi tetap tak bisa. Ada perasaan mengganjal di hatinya. Namun, dia tak tahu itu rasa apa. Gelisah, serba salah. Miring salah, tengkurap apalagi. Sedangkan ketiga anaknya begitu lelap.

“Yaa Tuhan, rasa apa sebenarnya yang hadir dalam diri ini?” gumam Tina bertanya dalam hati.

***

Usai sholat subuh, pagi menyapa. Mentari mulai menghangatkan segala penjuru belahan bumi. Tina mulai memandikan Farhan, bayi kecil lucu dan menggemaskan. Fahran dan Fahira menyantap sarapan yang dihidangkan Tina. Mulut kedua anak itu dipenuhi nasi goreng. Tak jarang mereka saling rebut kemplang renyah dalam toples. Fahran tak mau kalah, Fahira pun harus mendapat kemplang tersebut. Fahira nangis. Tina segera menyelesaikan mandi Farhan. Dia agak kewalahan menghadapi pola tingkah laku darah dagingnya. Sesekali suara telepon rumah Tina berdering, tapi diacuhkan karena harus memenuhi tanggung jawab merawat anak-anak. Dengan alasan repot, dia tak peduli siapa yang menghubungi, paling juga para anak buah suaminya yang mau menghantar barang bisnis mereka.

***

Leni mulai berdandan di depan kaca. Jilbab pink panta yang ia pakai sangatlah pantas dengan wajah kearab-arabannya. Karena dia memang keturunan Arab Palembang. Bambang merupakan cinta pertamanya kala SMA dulu, tapi setelah tamat Bambang kembali ke kampung halamannya karena terganjal rupiah untuk melanjutkan bangku kuliah.

Menghias diri supaya tetap cantik di depan suami. Gamis yang dikenakan pun menambah anggun wanita yang berusia 25 tahun itu. Dengan tas pemberian Bambang saat mereka cuci mata di Internasional Plaza, ia telah siap untuk menemui Tina, istri pertama suaminya. Gugup dan takut pastilah ada, tapi semua rasa itu ditepis karena janji Bambang selalu ada di samping untuk selalu menjaganya.

Isuzu Panther melaju dengan lamban meninggalkan pekarangan rumah orang tua Leni, Abah Muslih. Bambang menyetir dengan hati-hati. Butuh waktu 2 jam untuk menuju Desa Pedamaran dari Kota Palembang. Bambang merasa was-was. Dia takut, Tina pasti marah melihat dia membawa wanita idamannya. Wanita yang telah lama dicinta, jauh sebelum memiliki Tina. Dia pasti hancur walau nanti Bambang akan berbuat adil.

Di simpang 32 Indralaya, Bambang berhenti di halaman parkir sebuah warung. Dia memesan dua mi instant yang langsung diseduh air panas. Tak lupa juga meminta kopi panas untuk dirinya dan teh hangat buat Leni. Duduk di dalam warung pinggir jalan sambil menyantap makanan kesukaan mayoritas orang Indonesia bersama Leni. Tujuannya tak lain, hanya untuk menghilangkan rasa gugup. Apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Bambang harus berani menanggung segalanya. Dia terlanjur berjanji kepada Leni agar menemukan dia kepada istri tua. Susah sebenarnya, tapi inilah fakta. Jujur memang pahit, karena Bambang bukanlah orang yang pandai besilat lidah, dia berterus terang kepada Leni saat menikah kalau dia sudah beristri dan memiliki tiga anak. Leni menerima Bambang apa adanya. Bagi Leni, tak ada laki-laki di dunia ini yang dia cintai selain Bambang. Leni juga menerima kalau harus nikah secara siri dulu. Orang tua Leni pun menyetujui dan merestui hubungan mereka berdua.

“Yang penting Bambang bisa berbuat adil. Dan ingat, jangan sekali-kali membuat kebohongan. Karena sekali berbohong akan terus berbohong,” restu Abah Muslih kala Bambang ditemani keluarganya menemui keluarga Leni.

Bambang dan Leni melanjutkan perjalanan. Jalan yang mulus dan masih sepi membuat mereka lebih leluasa untuk bercengkerama. Gurauan dan canda tawa memenuhi ruang mobil berwarna hijau lumut. Bambang memang humoris dan romantis. Pandai bergaul serta ulet dalam bekerja. Tak terasa, mereka telah tiba di desa.

Di tepi jalan depan rumah, Bambang kaget. Orang-orang begitu ramai di rumahnya. Dia turun dari mobil sambil memberi isyarat kepada Leni agar tetap menunggu di dalam mobil karena dia harus melihat keadaan di rumah. Apa sebenarnya yang sedang terjadi. Leni pun mengangguk tanda mengerti. Apalagi dia masih takut. Rasanya belum sanggup untuk menerima segala cercah dan kata-kata kasar dari istri suaminya.

Bambang kian penasaran saat memasuki pagar rumah. Dari halaman, sayup-sayup dia mendengar jeritan histeris dari suara Tina. Dia makin kalut, lari menerobos keramaian yang memenuhi muara pintu.

“Bapaakkkk…!” teriak Tina bangkit saat Bambang datang dan langsung memeluknya.

“Ayah meninggal…” lanjut Tina dalam isak tangis dipelukan Bambang.

Next

Part selanjutnya
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2570206439707898

Views All Time
Views All Time
12
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY