KETIKA CINTA HARUS BERBAGI PART 4

0
9

KETIKA CINTA HARUS BERBAGI
Part 4

Part sebelumnya
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2570206439707898

Bu Mida pamit mau pulang setelah usai ikut melaksanakan serangkaian malam takziah pertama. Tanpa harus menunggu Bu Mida yang minta, Tina langsung menyarankan dihantar oleh Bambang mengingat waktu agak tengah malam. Bambang memang anak tertua di keluarga Bu Mida, tapi di keluarga Tina dia ikut jadi si bungsu karena menikahi dirinya.

Tanpa disuruh pun Bambang ingin menghantar Bu Mida, ibu kandungnya sendiri. Sikap Bambang santai dan biasa saja di hadapan Tina, karena dia sedang menutupi semangatnya yang menggebu agar kembali bertemu Leni. Rindu menjadi alasan untuk selalu bertemu sang madu. Ketika di rumah orang tuanya, Bambang genit menggoda Leni, “hei, langkah kamu kenapa? Kayak orang lagi susah jalan,” bisik Bambang sembari memeluk Leni dari belakang dan mengeratkan kedua tangannya di perut wanita itu ketika Bu Mida sudah masuk ke kamar untuk berganti pakaian.

“Kamu, ya. Dari dulu sampe sekarang tak pernah berubah. Genit dan nakal. Semua ini karenamu.” Leni membalikan badan setelah melepas pelukan Bambang dengan paksa.

“Untukmu, aku pasti genit dan selalu pengen…”

“Cepat pulang sana, kasihan Mbak Tina. Ayo pergi..” Leni memotong kata-kata Bambang dan mendorong tubuh atletis itu dengan kuat hingga Bambang nyaris terjatuh.

Bambang jadi kian penasaran melihat marah nan manja Leni. Dia jadi ingin segera menuntaskan segala pikiran nakal yang ada di benaknya. Ingin merengkuh kembali malam-malam mesra bersama Leni. Diangkatnya tubuh mungil itu, Leni berontak kecil. Marah sebagai basa-basi karena malu masih berada di ruang tamu dan takut dilihat ibu mertua.

“Kak, sudah ah..” rengeknya manja membuat Bambang kian tertantang.

Leni dibaringkan di atas sofa panjang ruang tamu. Kecupan lembut mulai mendarat di kening, turun ke pipi, hingga melumat bibir tipis yang lembut. Berdua saling pagut tanpa menyadari kalau Bu Mida sudah berada di ruang tamu.

Leni kelabakan menahan malu. Sebenarnya dia juga ingin memenuhi hasrat suaminya malam itu, tapi apalah daya keadaan kurang mendukung.

“Sabar ya sayang, ya,” tanpa malu Bambang masih membisikan kata-kata mesra dihadapan Ibu ketika Leni merapikan rambut yang acak karena Bambang.

Leni menarik jilbab yang dilempar Bambang di atas meja. Dia melihat kepergian Bambang ke rumah istri tua dari depan pintu. Nafasnya dihembuskan kuat, ada rasa tak ingin berbagi dengan siapapun walau sebenarnya jauh panggang dari api. Siapalah dia, hanya seorang istri siri. Bukan istri sah.

***

Bambang membuka pintu kamar lalu segera masuk. Dia melihat Tina sedang memberi asupan kepada Farhan, bayi keci mereka. Di kasur empuk, Bambang berbaring menghampiri Tina yang membelakanginya. Dipeluknya Tina dari belakang, Tina tersenyum. Dia bahagia sekali walau hanya dipeluk seperti itu. Merasa ada orang yang selalu menjaga dan melindungi dirinya.

Bambang mencium punggung, leher dan rambut Tina. Aroma yang sudah akrab sekali sejak awal menikah dulu menjadi khas wanita yang telah memberinya tiga orang keturunan. Tina membalikkan badan karena Farhan sudah lelap dalam tidur. Keduanya saling melumat bibir. Bambang begitu bernafsu karena ingin melampiaskan segala hasratnya yang batal diselesaikan bersama Leni. Tina pun sama, sudah berapa hari dia tidak tidur bersama James Bondnya. Hasrat yang menggelora juga dia lampiaskan saat itu. Namun, Bambang harus menahan segala libidonya. Tina masih dalam masa nifas.

“Huhh..” kesal Bambang karena hasratnya gagal terpenuhi.

“Sabar, sayang. Tinggal 26 hari lagi,” rayu Tina agar Bambang mampu dan kuat menahan nafsu.

Tina sudah merasa tenang dan ikhlas melepas kepergian Ayah tercinta usai mendengar nasehat sekaligus ceramah pak kyai bakda maghrib tadi.

“Tak baik lama-lama larut dalam duka, semua itu akan memberatkan almarhum di alam sana. Kita harus ikhlas agar dia tenang,” pesan pak kyai santun.

Kini, sambil menutupi Farhan dengan kelambu kecil khusus bayi, dia mengajak Bambang keluar dari kamar untuk menuju ruang tengah yang masih ramai oleh saudara dan keponakannya.

“Ayo, kita keluar,” Tina menarik tangan Bambang dengan lembut.

“Kamu duluan saja, aku ganti baju dulu. Gak enak, tadi aku sudah ngomong sama kakak mau ganti baju,” ucap Bambang sambil melepas baju koko warna putih.

Tina tersenyum, “kamu memang pintar ngomong. Ganti baju jadi alasan, padahal rindu sama aku, ‘kan?” Goda Tina berlalu dari hadapan Bambang.

Tina bergabung bersama seluruh saudara, lalu disusul Bambang. Fahran dan Fahira juga tidur bersama uwak mereka. Selama tujuh hari ke depan, mereka tetap akan berkumpul. Tidur pun bergabung jadi satu di ruang tengah. Lima kepala keluarga beserta seluruh anak mereka.

***

Sepuluh hari kemudian, sehari sebelum hari raya Idul Adha. Setelah tiga hari yang lalu semua saudara Tina pulang ke rumah masing-masing buat persiapan lebaran haji, Bambang mengajak Tina ke rumah orang tuanya. Tak lupa, Fahran dan Fahira dititip dulu ke rumah uwak yang tak jauh dari rumah Tina.

“Emang kalian mau kemana?” tanya istri Kak Arpan.

“Kami ada urusan penting, kak. Sebentar saja,” jawab Tina seadanya. Bambang mengatakan demikian padanya. Ada urusan penting di rumah Ibu tanpa harus ada gangguan anak-anak. Mungkin mau buat surat rumah atau mewariskan rumah kepada adik Bambang. Kalau Tina dan Bambang jelas tak ingin memiliki rumah tersebut, dia sudah banyak harta.

“Sekalian aja, Farhan juga. Kasihan dia nanti gak bisa tidur disana. ‘Kan rame, nanti dia rewel,” saran Kak Dina istri Kak Arpan hati-hati, takut Bambang tersinggung karena ucapannya.

“Bener juga, Bu,” Bambang menyetujui permintaan Kak Dina. Tina pun memindahkan bayi mungil itu ke tangan Kak Dina, lalu pamit.

Bambang tak mengatakan kalau dia mengajak Tina menemui Leni di rumah Ibu. Katanya cuma urusan penting. Rencana mengajak Leni ke rumah diubah. Mungkin memang lebih baik disana agar fisik anak tak terganggu ketika nanti melihat airmata dan percekcokan mulut terjadi. Pasti ada, setidaknya Tina pasti shock melihat dan mendengar fakta bahwa suami tampannya telah mengkhianati cinta suci mereka.

Bambang mulai gemetar, dadanya bergemuruh. Gugup disertai pucat melanda. Bagaimana nanti memulai pembicaraan. Harus dimulai dari mana menjelaskan semua biar terang dan damai.

“Oh, Tuhan. Tolonglah aku…” do’a Bambang dalam hati.

Di halaman rumah, Tina menatap sosok wanita tak dikenal menyapu halaman. Daun-daun berserakan dikumpulkan jadi satu. Wanita anggun dengan gamis motif bunga dan jilbab yang selaras. Wanita yang sama sekali belum pernah dilihatnya.

Keluar dari mobil, wanita itu menyambut mereka. Dia mencium takzim punggung tangan Bambang dan mengucap salam kepada Tina seraya menyambutnya hangat dengan pelukan dan cium pipi kanan kiri.

Tina kian penasaran atas sikap wanita itu. Jelas bukan adik suaminya, tapi sampai begitunya mencium tangan Bambang. Jantungnya mulai berdetak, merasakan ada kejanggalan yang terjadi di rumah itu. Sungguh, sama sekali dia tak kenal wanita itu.

“Siapa dia?” tanya Tina dalam hati penuh penasaran.

“Ayo masuk, Mbak,” pinta Leni.

Bambang mengenggam jemari Tina masuk ke rumah.

“Ibu mana? Kok sepi?” selidik Tina.

Bu Mida keluar dari kamar membawa perasaan tak menentu kala melihat Tina datang kerumahnya.

“Duduk sini, nak. Cucu nenek mana?” ajak Bu Mida sambil mencari sosok malaikat kecil keluarga Bambang.

“Mereka di rumah Kak Dina, Bu,” kali ini Bambang buka mulut menjawab pertanyaan Ibunya.

“Ini siapa, Bu?” tanya Tina sambil menunjuk wanita asing bagi dirinya.

Gemuruh di dada Bambang kian kuat, ekspresi wajah Bu Mida pun ikut berubah. Inilah yang mereka takutkan selama ini tapi tetap harus dihadapi dan dijelaskan kepada Tina.

“Semoga engkau kuat, nak,” pinta Bu Mida dalam hati.

Tina tegak dan melangkah mendekati Bu Mida yang duduk di lantai. Dia duduk di sampingnya, “Ibu, kok nangis?” tanya Tina penuh heran ketika melihat wanita tua itu meneteskan airmata.

Bambang menatap Leni, dia bingung harus bicara apa. Sedangkan Leni juga tak kuasa untuk membuka mulut.

Tangis Bu Mida kian jadi. Tina memeluknya.

“Sebenarnya ini ada apa?” tanya Tina menatap Bambang dan wanita itu.

“Dia, nak. Bambang…” Bu Mida menunjuk Bambang penuh amarah. “Maafkan Ibu, nak…” lanjutnya lagi dengan tangis sesenggukan membalas pelukan menantu sah secara agama dan hukum negara.

Tina bertambah heran, ” Pak, ngomong. Ada apa ini?” pinta Tina ikut meneteskan airmata karena haru melihat Bu Mida menangis.

Tak ada yang mau memulai pembicaraan. Hanya suara tangis Bu Mida disertai detik jarum jam menambah kidung sunyi. Semenit, dua menit, mereka masih diam. Bingung Tina menjadi-jadi.

Tina mengguncang bahu Bambang, dia mengharap sebuah penjelasan tentang apa sebenarnya yang terjadi saat ini. Namun Bambang tetap pada pendiriannya. Tak kuasa berkata-kata hingga diam seribu bahasa.

Bu Mida mengangkat wajah, dia mulai berbicara.

Leni ketakutan, dia belum siap menghadapi segala permasalahan. Rasanya ingin lari saja.

Next.

Part selanjutnya
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2572664746128734

Views All Time
Views All Time
13
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY