KETIKA CINTA HARUS BERBAGI PART 5

0
6

KETIKA CINTA HARUS BERBAGI
Part 5

Part sebelumnya
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2572139832847892

Semua tegang. Bambang merangkul Tina. Matanya basah, sekuat apapun dirinya tetaplah punya airmata. Bambang ingat bagaimana perjalanan hidupnya dulu. Tamat SMA di Palembang dia pulang ke desa. Tak mampu untuk kuliah karena Bapak mulai sakit-sakitan. Adiknya juga butuh biaya dan seragam sekolah. Dia harus bekerja untuk menopang kehidupan keluarga.

Beruntung Bapak kenal baik dengan Ayah Rozak, orang tua Tina, hingga Bambang ikut bekerja disana menggantikan posisi Bapak sebagai tangan kanan beliau.

Tiap hari membuat ikan asin dari ikan sungai dan ikan salai (ikan yang dikeringkan lewat proses pengasapan selama 3 sampai 4 hari). Ikan asin dijemur di tanah lapang samping rumah Ayah Rozak. Pulang pergi dari tempat bekerja selalu dihantar jemput oleh Tina yang sengaja disuruh Ayah Rozak agar ada pendekatan.

Ekonomi keluarga Bambang kini mulai meningkat, seluruh adiknya berhasil menamatkan bangku SMA. Kemudian Bambang yang menjadi wali nikah untuk adik perempuannya karena Bapak telah menghadap Yang Kuasa.

Setiap pekerjaan yang dilakukan Bambang selalu mendapat pujian dari Ayah Rozak. Bambang berhasil mengambil hati orang terkaya di kampung tersebut. Dia benar-benar menjadi tangan kanan Ayah Rozak hingga segala tanggung jawab usaha itu diserahkan kepada Bambang. Dia jujur, ulet dalam bekerja.

Sampai suatu saat, Ayah Rozak berniat menjodohkan Bambang dengan putri bungsu beliau. Awalnya Bambang belum menerima perjodohan itu. Tina bukanlah seleranya, tak terlalu jelek dan usia yang membuat ganjal di hati Bambang. Tina lebih tua 3 tahun dari dirinya. Lama kelamaan, kebersamaan membuatnya luluh. Pagi dan sore selalu bergandengan di atas motor. Apalagi warga di kampung itu belum banyak yang punya kendaraan roda dua. Makan siang yang dihidangkan Tina selalu membangkitkan cacing perut Bambang, menggelitik untuk mencicipi masakan lezat di atas meja.

Kala diperjalanan menuju tempat kerja dan pulang, tak jarang para tetangga menggoda mereka. Ada yang bilang pasangan yang cocok untuk menikah. Namun, tak ada cinta di hati Bambang kala itu.

Benteng hati kokoh dan kuat akhirnya tumbang karena frekuensi pertemuan kian meningkat. Tak hanya siang, kadang malam juga Bambang menyelesaikan segala perniagaan. Teh hangat dan pisang goreng jadi santapan saat kerja sampai larut. Tina dengan rela menyajikan semua demi menyenangkan hati Ayah juga lelaki yang selalu membayangi pikirannya. Tampan, gagah dan cekatan. Tina menaruh hati, sehingga dia rela susah payah mengganti menu masakan setiap hari demi mencuri pandang dan cari perhatian.

Perhelatan digelar begitu mewah. Iringan tanjidor jadi penyemangat kedua mempelai menelusuri jalan kampung saat arakan pengantin. Demi adat, semua ritual pernikahan dilakukan. Mandi kembang, suap-suapan, sampai ke akhir acara. Arak-arakan kedua mempelai keliling kampung disertai seluruh keluarga dan para tetangga yang mengiringi. Satu kewajiban yang pasti, harus lewat dari jalan depan Masjid Jami’ karena lokasinya merupakan pusat desa. Gaun pengantin warna putih menambah kecantikan Tina, tuxedo Bambang juga membuat dia bertambah mirip artis yang berasal dari Irlandia. Tampang dan postur bule benar-benar seperti James Bond dalam film ‘The world is not enough’. Banyak gadis desa terpikat paras Bambang, tapi Tina lah gadis yang beruntung dipersuntingnya. Semua sumringah memancarkan rona bahagia. Apalagi orang tua Bambang dan Tina.

“Maafkan aku, Bu…” isak Bambang masih dalam pelukan Tina. “Dia istriku, kami baru menikah sebelas hari yang lalu. Sehari sebelum Ayah meninggal.” Bambang mengakui sebelum Bu Mida berkata-kata.

Tina melepaskan rangkulannya. Ia tak menyangka kalau suaminya akan sekeji itu. Menghianati cinta yang tertata indah sejak lima tahun yang lalu. Cinta yang dipersembahkan sepenuh hati. Tulus, meski usia memang lebih tua. Matanya kian panas. Bahunya naik turun terbakar emosi. Api amarah telah menyala.

“Aku gak nyangka, Pak. Kamu benar-benar tak tahu diri,” telunjuk Tina menekan dada bidang Bambang dengan kasar.

Bambang tertunduk lesu.

Leni mendekat, “aku yang salah, Mbak. Maafkan aku,” pinta Leni merapatkan kedua tangannya mengharap maaf dari istri sah Bambang.

“Anak tak tahu diri. Sudah jelas kita bisa hidup seperti ini karena keluarga Tina. Semua harta, mobil, rumah, tanah, dan lainnya. Semua dari keluarga Tina. Lupakah engkau, bahwa kesuksesanmu hari ini adalah milik Tina?” cercah Bu Mida panjang lebar lebih sengit dari Tina.

“Kamu juga, Len. Sudah jelas kalau Bambang beristri, tapi mengapa masih mau jadi yang kedua? Ketampanan hanya sebatas sehari dua hari. Tak bisa dimakan selamanya,” isak Bu Mida marah kepada Leni.

Leni tak menyangka kalau semua harta itu berasal dari keluarga Tina. Dia mengira segalanya hasil jerih payah Bambang membanting tulang memeras keringat. Dia mengerti sekarang. Bambang hanya pecundang, egois. Hanya mementingkan perasaan dirinya sendiri. Leni menangis meratapi nasib penuh penyesalan. Tertipu rayuan gombal.

Tina tak kuasa menenangkan diri. Terpaksa dia melayangkan tangan ke wajah Bambang, kemudian pergi berlari. Juga meratapi nasib.

Bu Mida menjerit memanggil Tina, tapi Tina tak peduli. Gerimis menemani kepergiannya dari rumah yang menorehkan luka di jiwa. Bumi seakan ikut bersedih, menangis melihat Tina yang didustai.

“Susul dia, nak,” perintah Ibu kepada Bambang.

Bambang seperti patung. Hanya berdiri tanpa mau mendengar perintah Ibu. Pasrah dan menyerah pada keadaan tapi tak mampu untuk melepas keduanya.

Leni menghambur mengejar Tina. Larinya kencang. Ditengah jalan, Leni berhasil meraih tangan Tina. Dua wanita itu berpelukan. Tina mengalah, “teruskanlah cinta kalian. Aku rela, dek.”

“Tidak, Mbak. Biar aku yang pergi. Kasihan anak-anak Mbak,” jawab Leni juga mengalah.

Tina tetap pergi walau Leni memintanya penuh harap. Tina kembali ke rumah Kak Arpan. ‘AKP (pangkat kepolisian kalau zaman sekarang) Arpan Rozak’. Dia menceritakan segalanya disana, mengadu dalam luka dan airmata. Perih, sakit, luka itu nyata. Beban berat ini dicurahkan pada kakak tertuanya. Dia tak sanggup menanggung semua.

Arpan kaget seakan tak percaya mendengar cerita Tina. Dia ingin membuktikan kejadian itu. Rasanya tak rela menyaksikan airmata tertumpah ruah dari adik perempuan semata wayang. Arpan mengajak Dina menemui Bambang di rumah Bu Mida. Permasalahan ini harus diselesaikan secepat mungkin karena menyangkut masa depan adik dan tiga keponakannya.

Next.

Part selanjutnya
https://m.facebook.com/groups/488655531196343?view=permalink&id=2574248795970329

Views All Time
Views All Time
18
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY