Ketika Kesibukan Tak Terelakan

0
16

Di zaman serba canggih dan modern ini, segalanya berjalan terasa lebih cepat. Jarak yang semula jauh, kini terasa dekat karena canggihnya transportasi. Komunikasi yang awalnya harus bertatap muka, kini cukup tekan tombol handphone, maka tersambunglah dengan orang yang kita inginkan untuk berbicara. Sehingga sejauh apapun orang yang kita ajak bicara, seperti dekat dan berhadapan dengan kita.

Namun demikian, gaya hidup dan sosial budaya yang bergerak cepat seperti ini menuntut kita untuk bergerak cepat pula. Tuntutan kerja dengan hasil optimal semakin tinggi sehingga waktu yang tersedia—24 jam—terasa kurang karena selalu saja ada pekerjaan yang belum terselesaikan. Bahkan karena begitu sibuknya kita dengan segala urusan, ibadah kepada sang Pencipta waktu justeru terabaikan dan tersisihkan. Kalaupun ibadah, hanya menggunakan waktu sisa atau waktu luang yang terkadang ada, terkadang tiada.

Zaman inilah mungkin yang Rasulullah Saw kabarkan, Abu Hurairah r.a meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hari Kiamat belum akan terjadi sampai zaman (terasa) saling berdekatan. Sehingga, satu tahun terasa seperti satu bulan, satu bulan seperti satu pekan, satu pekan seperti satu hari, satu hari seperti satu jam, dan satu jam seperti api yang membakar ujung ranting.” Artinya, bahwa di akhir Zaman, waktu akan terasa cepat, seperti kayu bakar yang menyala dan padam dengan cepat.

Lalu agar kita tidak terjebak lagi ke dalam kondisi seperti di atas, maka hendaknya kita lakukan beberapa hal berikut :

Pertama, usahakanlah untuk tetap menjaga ibadah makhdah, khususnya ibadah shalat, termasuk shalat jumat bagi pria. Sesibuk apapun kita, janganlah pernah meninggalkan shalat wajib walau hanya sekali saja karena shalat adalah tiangnya agama. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkan shalat,maka berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia merobohkan agama”. (HR. Bukhari Muslim)

 

Shalatlah jika waktunya telah tiba, walaupun kita sedang berada di pesawat, kapal atau di luar negeri yang tidak ada masjidnya. Bahkan ketika sakit sekalipun, tetaplah lakukan shalat semampu kita. Jika tak mampu berdiri, lakukan dengan duduk. Jika tak kuat duduk, lakukan sambil berbaring dengan isyarat. 

Kedua, usahakanlah tetap zikrullah (mengingat Allah) dimanapun kita berada. Zikir ini bisa berupa ucapan kalimat thayyibah seperti yang Rasulullah Saw sabdakan, “Dari Juwairiyah (Ummul Mukminin Radhiyallahu`anha), Nabi Saw keluar dari sisinya pagi-pagi untuk shalat shubuh di masjid. Beliau kembali (ke kamar Juwairiyah) pada waktu dhuha, sementara ia masih duduk di sana. Lalu Rasulullah Saw bertanya, “Engkau masih duduk sebagaimana ketika aku tinggalkan tadi?” Juwairiyah menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh, aku telah mengatakan kepadamu empat kata sebanyak tiga kali, yang seandainya empat kata itu ditimbang dengan apa saja yang engkau baca sejak tadi tentu akan menyamainya, (empat kata itu) yakni:  “Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi, wa ridhaka nafsihi, wa ziinata ‘Arsyihi, wa midada kalimatihi’ “(HR Muslim), bisa juga berupa bacaan Alquran (dengan artinya) yang kita baca tiap hari walau hanya beberapa ayat saja. 

Ketiga, biasakanlah untuk istighfar (memohon ampun) karena istighfar dapat menghapus berbagai dosa yang kita lakukan baik disadari ataupun tidak. Istighfar  juga dapat melancarkan urusan kita dan mendatangkan pertolongan-Nya sebagaimana firman Allah SWT : “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).

Keempat, biasakanlah untuk selalu berdoa dalam setiap melakukan aktivitas, mulai dari bangun tidur, makan-minum, bekerja sampai tidur kembali. Dengan merutinkan kebiasaan ini, maka hati dan pikiran kita tidak akan terlalaikan dari mengingat Allah. Disamping itu, setiap pekerjaan kita akan senatiasa berada dalam keberkahan dan lindungan-Nya.

Kelima, sempatkanlah untuk selalu merenungkan kematian karena hanya dengan mempercayai kehidupan akhirat setelah kematian yang akan membuat kita tidak lupa diri. Apalah artinya kita hidup sejahtera di dunia, bekerja dari pagi sampai malam, jabatan menjulang tinggi kalau bekal untuk akhirat tidak ada. Karena sebanyak apapun harta kita di dunia, setinggi apapun jabatan kita, semuanya akan ditinggalkan. Dan kematianlah sebagai gerbang awal kehidupan akhirat yang kekal.

Semoga dengan senantiasa melakukan 5 hal di atas, kita tidak digolongkan sebagai orang yang lalai dari mengingat Allah sebagaimana tercantum dalam firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun, 63: 9). “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr : 19).

Jadi walaupun kita selalu dalam kesibukan, kita tetap berada dalam rahmat-Nya dan digolongkan sebagai orang-orang yang senantiasa berada dalam ketaatan dan mendapatkan ampunan serta pahala, sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang shaum, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”( QS. Al-Ahzab : 35).

Views All Time
Views All Time
30
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY