KETIKA LHS HANYA COCOK UNTUK SEKOLAH DI KOTA

0
31

Membaca dan menyimak berita koran Banjarmasin Post, pada Sabtu, 10 Agustus 2019, dengan judul “ Lima Hari Sekolah Hanya Cocok di Kota”, dengan subjudul “ Disdik Tala Hentikan Program Full Day School”. Dalam beritanya, antara lain disebutkan bahwa sejak awal semester ganjil tahun ajaran 2019/2020, sejumlah sekolah di Tanahlaut, khususnya SMP Negeri tak lagi memberlakukan full day school, meski sudah setengah tahun menerapkan.

Dinas Pendidikan Kabupaten Tanahlaut mengeluarkan surat edaran perihal penghentian metode full day school. Surat edaran berisi tentang tidak diberlakukannya full day school pada sekolah di Tanahlaut, baik itu SMPN atau SDN. Namun pada sekolah rujukan, bisa menentukan pilihan, yakni berlanjut atau berhenti.

Berdasarkan pemberitaan koran di atas, tersurat ketidakcocokan penerapan kebijakan Lima Hari Sekolah atau LHS, atau lebih dikenal pula dengan sebutan full day school atau FDS, karena faktor tempat atau lokasi sekolah. Menurut judul berita tersebut, LHS atau FDS hanya cocok untuk sekolah yang ada di perkotaan saja, sedangkan bagi sekolah yang berada di pedesaan tidak cocok menerapkan kebijakan LHS atau FDS tersebut.

Entah apa yang menjadi dasar pertimbangan yang mendasari penghentian kebijakan LHS atau FDS terhadap sekolah yang sudah cukup banyak menerapkannya selama ini di Kabupaten Tanah Laut, baik jenjang SD maupun SMP. Bahkan, ada sekolah yang sudah menerapkannya selama 2 tahun  berjalan. Penerapan LHS atau FDS tersebut tidak serta merta dilakukan oleh sekolah, tetapi melalui berbagai pertimbangan dan sosialisasi sebelum dilaksanakan, bukan dengan keputusan yang secara tiba-tiba atau mendadak.

Jika alasan penghentian LHS atau FDS bagi sekolah yang telah relatif lam menerapkannya dengan alasan tidak cocok, apakah penghentian tersebut menjadikan alasan pula bahwa sekolah dengan pola 6 hari cocok untuk sekolah di daerah pedesaan, dan tidak cocok untuk daerah perkotaan. Tentu pernyataan tersebut perlu dibuktikan secara imperis untuk menguatkannya, bukan sekedar opini yang tidak jelas dasarnya untuk membuat pernyataan tersebut.

Pertimbangan yang memojokkan bahwa LHS hanya cocok untuk sekolah di kota belum jelas dasar pemikirannya, karena tidak ada kebijakan dalam dunia pendidikan bahwa sekolah 6 hari cocok untuk sekolah-sekolah di pedesaan, sedangkan sekolah 5 hari lebih cocok untuk sekolah-sekolah diperkotaan. Namun, adanya pernyataan yang menegaskan bahwa sekolah 5 hari atau LHS cocok untuk sekolah di kota sebagaimana judul berita koran di atas patut dipertanyakan kebenarannya. Mari kita berpikir secara jernih dan bijak dalam mengeluarkan, apalagi menetapkan  sebuah kebijakan  dalam dunia pendidikan, karena kebijakan tersebut memiliki dampak yang luas dan jangka panjang. Dunia pendidikan ini sangat dinamis, dan perlu diingat pula bahwa sebelum mengambil keputusan dalam menetapkan kebijakan terkait dunia pendidikan harus dipertimbangkan secara menyeluruh, matang, dan bijaksana.

###2070###

Views All Time
Views All Time
21
Views Today
Views Today
1
Previous articleBagimana Mengemas Event Tahunan LKS?
Next articleIbadah Kurban : Antara Kepentingan Pribadi dan Kepedulian Sosial
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY