Ketika Sagusaku menjadi Candu

0
88
Ketika Sagusaku menjadi ‘Candu’
Oleh: Alfonsus Liguori Rianghepat, S.Pd
NTA : 201624060000003
Dewasa ini, Ikatan Guru Indonesia (IGI) mulai melebarkan sayapnya ke seluruh wilayah Indonesia. Tidak ketinggalan juga bahtera IGI “terdampar” di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Flores Timur. Secara resmi IGI dibentuk di Kabupaten Flores Timur pada tanggal 17 Maret 2018, yang ditandai dengan pelantikan badan pengurus IGI Kabupaten Flores Timur periode 2018-2023 oleh pengurus pusat IGI.
Selain itu, tak kalah pentingnya juga dengan kegiatan pelatihan SAGUSAKU, singkatan dari Satu Guru, Satu Buku yang merupakan salah satu program unggulan dari IGI usai acara pelantikan badan pengurus IGI Flores Timur.
Bicara tentang buku, identik dengan menulis. Semua orang bisa membaca buku, tapi tidak semua orang bisa menulis buku. Padahal, menulis adalah rutinitas pekerjaan seorang guru. Sederhananya, setiap guru pastinya menulis.
Bagi kebanyakan sekolah di Kabupaten Flores Timur, papan tulis hitam masih menjadi alat belajar. Papan white board sudah menjadi hal yang lumayan bagus kalau tidak mau dikatakan sebagai hal yang luar biasa. Maka menulis sesungguhnya bukan hal baru bagi seorang guru. Persoalannya apakah menulis sama dengan mencatat?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  mencatat berarti menuliskan sesuatu untuk peringatan, atau menyalin. Sementara menulis berarti melahirkan pikiran atau perasaan (spt mengarang, membuat surat). Di sinilah letak perbedaannya antara mencatat dan menulis. Semua orang bisa mencatat, tetapi belum tentu bisa menulis. Karena menulis lahir dari pikiran, buah karya yang lahir dari hasil imajinasi atau penelitian ilmiah mulai seorang atau sekelompok orang. Tetapi yang pasti bahwa mencatat dan menulis adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Maka, sesungguhnya mencatat ataupun menulis sebenarnya berada dalam lingkungan dunia sekolah dan guru. Bahkan menjadi rutinitas keseharian. Mencatat dan menulis sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari dunia sekolah dan guru. Kalau mencatat dan menulis ada dalam dunia pendidikan (sekolah, guru dan siswa), maka bukan barang asing.
Pertanyaannya, kalau bukan barang asing, mengapa menulis selama ini bagi seorang guru masih merupakan barang asing? Jawabannya, bisa saja karena guru kurang membaca atau tidak punya waktu untuk membaca. Banyak di antara kita sebagai guru hanya membaca buku-buku pelajaran untuk kepentingan mengajar. Kita seakan terasing di dunia yang semakin global ini. Kalau membaca saja kita tidak punya waktu, maka dapat dipastikan kita tidak akan bisa menuangkan ide dan gagasan kita dalam bentuk tulisan. Kita sebagai guru selama ini tidak mengakrabi dunia menulis.
Sementara potensi untuk menulis, menuangkan ide dan gagasan sesungguhnya ada pada setiap orang, apalagi sebagai seorang guru, karena sejatinya kegiatan menulis bukan dunia asing bagi seorang guru.
Dari sisi ini, IGI melihat ada banyak potensi dan berusaha untuk memotivasi para guru agar meningkatkan kompetensi dirinya melalui kegiatan menulis. Atas motivasi dari para pengurus pusat IGI yang membakar semangat para guru hebat di kabupaten Flores Timur agar menulis buku, mendapat respon luar biasa. Para pendidik anak bangsa di Flores Timur tersadar bahwa ternyata mereka bisa menulis. Menulis apa saja, kapan saja, di mana saja membuat para guru di Flores Timur “kecanduan” untuk menulis, menulis, dan menulis.
Seketika rekan-rekan guru di Flotim tersadar bahwa mereka sesungguhnya hebat. Guru hebat akan melahirkan siswa hebat, generasi hebat. Setidaknya ini dibuktikan dengan begitu banyaknya tulisan yang masuk melalui grup whatsapp (WA) alumni IGI Flotim.
Luar biasa. Meski harus bergerak dari titik nol, ternyata para guru hebat di ujung timur Nusa Bunga ini berani menerima tantangan menulis buku.
Ada beragam topik yang coba diangkat untuk menjadi sebuah tulisan. Setidaknya bisa dibaca sendiri sebelum orang lain membacanya. Bahwa ada potensi yang selama ini terpendam, sehingga ketika diasah dan dimotivasi, maka dengan sendirinya potensi yang selama ini tidak disadari oleh pemiliknya, seketika bagaikan terbakar rangsangan motivasi dari para narasumber.
Views All Time
Views All Time
186
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY