KONSEP SEKOLAH UNGGULAN

0
22

Sudah banyak model sekolah yang diangap atau diasumsikan sebagai sekolah unggulan berdiri dan operasional di berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat Indonesia sudah cukup familiar dengan sebutan atau istilah sekolah unggulan, baik sekolah yang berstatus negeri atau milik pemerintah, maupun sekolah milik swasta. Dulu, sebelum dihapuskannya sekolah unggulan yang diberi label sekolah berstandar internasional atau SBI,  sekolah rintisan berstandar internasional atau RSBI, dan sekolah standar nasional atau SN. Kini, semua sekolah tidak ada lagi labelisasi atau klasifikasi SBI, RSBI, SN, dan sebagainya.

Menurut para ahli atau pakar pendidikan, konsep sekolah unggulan ada 3 (tiga) tipe atau model. Pertama. Tipe I.  Tipe ini sekolah menerima dan menyeleksi secara ketat siswa yang masuk dengan kriteria memiliki prestasi akademik yang tinggi.  Meskipun proses belajar-mengajar sekolah tersebut tidak luar biasa,  bahkan cenderung ortodok, namun dipastikan karena memilih input yang unggul, output yang dihasilkan juga unggul. Dengan kata lain,  seandainya tanpa ada kepemimpinan kepala sekolah dan arahan dan bimbangan atau sentuhan gurunya pun,  siswa sekolah ini akan berprestasi baik,  karena memang dasarnya siswa-siswa yang cerdas atau pintar.

Hasil atau output sekolah tipe ini tidak dapat mengukur seberapa besar keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukan oleh para guru atau sekolah, atau sangat sulit mencari peran yang signifikan dari campur tangan guru terhadap keberhasilan siswa,  karena siswa sudah memiliki keunggulan yang di atas rata-rata sebelum masuk ke sekolah ini. Perbandingan keberhasilan saat masuk dan keluar dari sekolah tipe ini,  relatif tidak dapat diukur sebagai bentuk keberhasilan dan campur tangan guru atau sekolah terhadap hasil yang diperoleh siswa. Dengan demikian, proses pembelajaran atau belajar-mengajar di sekolah tipe ini,  dapat dikatakan tidak merupakan  sesuatu yang berperan penting bagi keberhasilan siswa dalam berprestasi, kalaupun ada perannya relatif kecil bahkan tidak ada sama sekali bagi pencapaian keberhasilan prestasi yang diperoleh siswa (ouput)

Kedua. Tipe 2. Sekolah dengan menawarkan fasilitas yang serba mewah dan berstandar atau bertaraf internasional, yang ditebus dengan SPP atau biaya  yang relatif sangat tinggi atau bertarif internasional.  Pada sekolah tipe ini, prestasi akademik yang tinggi  bukan menjadi acuan input untuk diterima di sekolah ini, namun sekolah ini biasanya mengandalkan beberapa “jurus” pola belajar dengan membawa pendekatan teori tertentu sebagai daya tariknya, sehingga output yang dihasilkan dapat sesuai dengan apa yang dijanjikannya.

Sarana dan prasaran sekolah, khususnya sarana pembelajaran,  menjadi unsur penting dalam proses pembelajaran, disamping teori dan model atau motede  pembelajaran tertentu yang menjadi karakteristik pembelajaran di sekolah tipe ini. Keunggulan utama,  terletak pada sarana dan prasarana sekolah yang lengkap dan lebih dari cukup atau berstandar internasional, terlepas apakah siswanya prestasi akademiknya cukup, sedang, atau baik.

Siswa sekolah ini bersifat hetorogen tingkat kemampuan akademiknya, termasuk latar belakang prestasi yang dibawa siswa ke sekolah ini (input). Dengan mengandalkan pada keunggulan sarana dan prasarana sekolah dan pembelajaran serta dengan teori dan model atau metode pembelajaran tertentu yang menjadi karakter sekolah ini diyakini dapat menghasilkan siswa yang berprestasi terbaik, meskipun pada awalnya prestasinya tidak sama  atau beragam.

Ketiga.Tipe 3. Sekolah unggulan ini menekan pada iklim belajar yang positif di lingkungan sekolah. Sekolah tipe ini menerima dan mampu memproses siswa yang masuk sekolah tersebut (input ) dengan prestasi rendah,  menjadi lulusan (output) yang bermutu tinggi. Proses pembelajaran menjadi kekuatan dan keunggulan utama sekolah tipe ini. Guru memegang peran yang penting dan utama dalam proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah pada umumnya, namun bukan berarti guru bersifat otoriter dalam proses pembelajaran. Guru mengambil peran yang sesuai dengan fungsi sebagai orang yang mampu mengaplikasikan pendidikan secara utuh dan menyeluruh dalam proses pendidikan, atau dapat disebut juga sebagai guru yang profesional.

Demikian pula dengan iklim belajar dan lingkungan sekolah yang kondusif,  mampu memberikan dampak yang positif pula bagi siswa untuk belajar dan beraktivitas guna menumbuhkembangkan segenap potensi dan kemampuan yang ada dalam dirinya, sehingga menghasilkan prestasi diri yang optimal. Iklim belajar diciptakan oleh guru yang benar-benar mengerti dan paham akan siswa yang dibimbingnya, mengerti kelemahan dan kekuatan yang ada di setiap diri siswanya, sehingga  guru mampu menciptakan suasana dan kondisi proses pembelajaran yang positif bagi semua siswa di kelasnya. Suatu hal yang perlu diingat dan dipahami betul oleh guru, bahwa setiap siswa memiliki pribadi dan kemampuan yang berbeda dengan siswa yang lainnya. Intinya, guru mampu mengolah kondisi siswa yang beragam dan heterogen ini menjadi pribadi-pribadi yang berkembang sesuai dengan bakat,potensi, dan kemampuanya dan melahirkan prestasi yang sangat membanggakan.

 

###1043###

 

Views All Time
Views All Time
66
Views Today
Views Today
1
Previous articleSolidaritas Siswa SIKL untuk Lombok
Next articleAku Mengenalnya Lewat IGI
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY