Konstruktivisme dalam Pembelajaran Ekonomi. 2

0
47

Konstruktivisme dalam Pembelajaran Ekonomi

Tradisi konstruktivis memandang belajar sebagai proses aktif seseorang dalam membangun pengetahuan yang bermakna dalam dirinya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya dengan cara membangun keterkaitan antara pengetahuan yang sedang dihadapi dan pengetahuan yang telah dimiliki (Sutrisno, 1998). Dengan demikian interaksi memegang peranan penting dalam belajar. Selanjutnya Sutrisno mengatakan bahwa sebelum siswa mengikuti pelajaran secara formal, mereka telah memiliki pengetahuan awal tentang konsep-konsep yang akan dipelajari (pre-conseption). Konsepsi awal ini akan membatasi dan mengarahkan siswa dalam menghadapi bahan ajar yang sedang dipelajari.  Pada umumnya konsepsi awal ini tidak konsisten (tidak cocok) dengan konsepsi para ahli. Agar siswa bersedia melepaskan konsepsinya dan mau menerima konsepsi para ahli yang dibawa guru maka siswa harus ditunjukkan bahwa konsepsi para ahli tersebut lebih lengkap, lebih masuk akal, lebih logis, dan lebih banyak manfaatnya daripada konsepsi mereka. Oleh karena itu, pembelajaran hendaknya dirancang agar siswa bersedia melepaskan konsepsinya sendiri dan menerima konsepsi para ahli yang dibawa guru karena konsepsi para ahli lebih lengkap, lebih jelas, lebih logis, dan lebih banyak manfaatnya (bukan yang benar) dibandingkan konsepsinya sendiri. Pada awal pembelajaran, konsepsi siswa  diungkap lebih dahulu. Kegiatan selanjutnya adalah adu argumentasi untuk menetapkan konsepsi yang paling lengkap, paling jelas, paling masuk akal, dan paling banyak mafaatnya. Kegiatan diakhiri dengan ditemukannya konsepsi yang paling baik tersebut.

Dalam proses pembelajaran konstruktivistik tidak lagi menyinggung istilah ‘benar’ dan ‘salah’. Kegiatan pembelajaran semacam ini membiasakan siswa menghargai konsepsi orang lain. Mereka dilatih untuk menilai konsepsi orang lain. Mereka dibiasakan menerima konsepsi orang lain apabila memang lebih baik daripada konsepsi miliknya. Karena sering berargumentasi, mereka akan terdorong akan meningkatkan pengetahuannya agar dapat memberikan argumentasi yang terbaik. Mereka akan terlatih dalam suasana yang berbeda pendapat tetapi tidak bermaksud mengeliminir yang lain. Mereka akan terlatih menyampaikan informasi secara jelas, lengkap tetapi padat.

Peran guru dalam pembelajaran konstruktivistik adalah sebagai mediator dan fasilitator. Agar peran guru berjalan optimal, diperlukan beberapa kegiatan (Hudojo, 1998). Pertama, guru perlu banyak berinteraksi dengan siswa untuk lebih mengerti apa yang sudah mereka ketahui. Kedua, tujuan dan apa yang akan dilaksanakan di kelas sebaiknya dibicarakan bersama sehingga siswa sungguh terlibat. Ketiga, Guru perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan belajar siswa. Keempat, diperlukan keterlibatan dengan siswa yang sedang berjuang dan kepercayaan terhadap siswa bahwa mereka dapat belajar. Kelima, guru mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengerti dan menghargai pemikiran siswa, karena kadang-kadang siswa berpikir berdasarkan pengandaian yang tidak diterima guru. Langkah-langkah tersebut dapat dipakai sebagai acuan  guru dalam melaksanakan kegiatannya sebagai  fasilitator dan mediator dalam pembelajaran Ekonomi.

Selain itu, beberapa prinsip penting teori konstruktivis dalam pendidikan sains dan Ekonomi menurut (Duit dan Confrey, 1996 dalam Suparno, 1997) sebagai berikut. Pertama,  pendekatan yang menekankan penggunaan Ekonomi dalam situasi yang sesuai dengan minat siswa. Ditekankan pengetahuan berdasarkan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan situasi siswa, memudahkan siswa mengkonstruksikan pengetahuan mereka. Kedua, meta – pengetahuan, artinya pengetahuan yang dipelajari bukan hanya menekankan isi Ekonomi, tetapi juga konteks dan prinsip-prinsipnya. Jadi, pengetahuan tidak dipelajari lepas dari konteksnya. Ketiga, tekanan lebih pada konstruksi, interpretasi, koordinasi, dan juga multiple idea. Tekanan proses belajar –mengajar lebih pada bagaimana membentuk pengetahuan, bagaimana menginterpretasikan yang dipelajari, dan bagaimana konstruksi yang bermacam-macam dapat terjadi dalam mempelajari satu hal tertentu. Keempat, menekankan agar siswa aktif. Bahan lebih dipandang sebagai sarana interaksi siswa dalam pembentukan pengetahuan mereka. Kelima, penting diperhatikan adanya perspektif alternatif dalam kelas. Kelas sebaiknya diatur sehingga siswa aktif dan berminat dalam belajar.

Views All Time
Views All Time
47
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY