Kreativitas Guru PAI di Masa Pandemi Covid-19

0
13

Semenjak pandemi Covid-19 merebak di Indonesia, menyebabkan dampak yang problematik di segala bidang. Termasuk berdampak pada bidang pendidikan. Tidak sedikit persoalan muncul menerpa para praktisi pendidikan di sekolah. Guru yang memiliki peran mulia dalam mendidik peserta didik di sekolah, menghadapi tantangan berat dengan adanya pandemi Covid-19 ini. Namun muncul polemik masyarakat pada metamorfosa di masa pandemi Covid-19. Hal ini tentu dirasa berat oleh pendidik dan peserta didik. Terutama bagi pendidik, dituntut kreatif dalam penyampaian materi melalui media pembelajaran daring. Ini perlu disesuaikan juga dengan jenjang pendidikan dalam kebutuhannya. Dampaknya akan menimbulkan tekanan fisik maupun psikis (mental). Tuntutan untuk kreatif dalam mengantisipasi berhentinya proses pembelajaran tatap muka di kelas. Hal ini tentu tidak mudah. Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) yang diterbitkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dimana surat edaran ini menekankan bahwa proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media daring (online). Artinya, proses belajar mengajar bagi peserta didik untuk sementara waktu dilakukan di rumah. Sekalipun demikian, peran guru sebagai pendidik tetap dilaksanakan dengan memanfaatkan media pembelajaran yang ada. Kreativitas mengajar menjadi bagian yang sangat penting dalam sistem pembelajaran daring pada masa Covid-19. Kreativitas ialah kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.
Kreativitas mengajar guru Pendidikan Agama Islam menjadi penting dalam menghadapi masalah Covid-19. Akan timbul masalah dalam pelaksanaan pembelajaran daring, jika kreativitas guru Pendidikan Agama Islam rendah. Guru Pendidikan Agama Islam dalam menghadapi tantangan pandemi Covid-19, dituntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi dalam sistem pembelajaran daring karena guru merupakan jabatan profesional yang terkait langsung di dalam dunia pendidikan dan berinteraksi dengan siswa dalam kesehariannya harus memiliki kreativitas yang tinggi. Terlebih peran guru Pendidikan Agama Islam sebagai pendidik sekaligus pembimbing siswa dalam pembelajaran Agama Islam tidak dapat ditinggalkan. Guru Pendidikan Agama Islam mesti melakukan segala cara agar siswa dapat terlayani dengan baik. Salah satu contoh sederhana yang dapat dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam memberikan materi pembelajaran bagi siswa di rumah adalah mengirimkan cerita-cerita pendek bergambar atau video. Cerita pendek bergambar atau video yang dimaksud tentu berisi nilai-nilai kebenaran Alquran. Melalui nilai-nilai tersebut, kebutuhan siswa akan kebenaran Alquran dapat terpenuhi. Tentu ada banyak contoh lain yang dapat guru lakukan dalam menyampaikan materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa selama belajar di rumah. Sistem pembelajaran dapat dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan internet. Guru Pendidikan Agama Islam dapat melakukan pembelajaran bersama di waktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), telegram, instagram, aplikasi zoom, padlet, jamboard ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran. Dengan demikian, guru Pendidikan Agama Islam dapat memastikan peserta didik mengikuti pembelajaran dalam waktu bersamaan meskipun di tempat yang berbeda. Guru Pendidikan Agama Islam pun dapat memberi tugas terukur sesuai dengan tujuan materi yang disampaikan kepada peserta didik.
Persiapan Guru dalam Proses Pembelajaran Daring Kreativitas guru PAI dalam memilih media dan metode mengajar pada masa pandemi Covid-19 adalah sangat penting. Memilih dan menetapkan metode pembelajaran sama artinya dengan memilih dan menetapkan tujuan pembelajaran, sebab metode memiliki signifikansi fungsional yang kuat dan terarah dengan tujuan pembelajaran. Untuk itu, kreativitas guru Pendidikan Agama Islam dalam memilih media dan metode pembelajaran daring menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan dalam mengatasi tantangan guru dalam mengajar di masa Covid-19. Tantangan atau kesulitan guru Pendidikan Agama Islam dan siswa dalam sistem pembelajaran daring merupakan bagian dari dinamika pendidikan masa Covid-19. Guru Pendidikan Agama Islam sebagai kunci keberhasilan pembelajaran, berupaya untuk meningkatkan kreativitas dalam mengajar. Dalam menghadapi permasalahan pembelajaran daring, guru Pendidikan Agama Islam perlu meningkatkan kreativitas. Kreativitas tersebut berkaitan dengan kemampuan guru dalam menciptakan perubahan-perubahan model pengajaran, kemampuan guru melakukan pembenahan-pembenahan kelemahan prosedur atau tahapan pengajaran, kemampuan guru untuk mengeksplorasi (mencari) ide-ide baru, kemampuan guru dalam memanfaatkan kamajuan media teknologi serta berbagai kemampuan lain yang signifikan dengan kategori guru yang kreatif. Ide-ide kreatif diperlukan dalam mengembangkan sistem pembelajaran daring bagi siswa selama belajar di rumah. Untuk itu, sebagai guru Pendidikan Agama Islam diharapkan dapat terus mengembangkan diri dan berupaya untuk terus meningkatkan daya kreativitas dalam mengajar selama pandemi Covid-19 belum berakhir.

Untuk mewujudkan pembelajaran yang menarik, guru di tuntut mampu menyajikan pembelajaran yang interaktif dan menarik ( joyful learning ). Di era digital saat ini, IT merupakan kebutuhan pokok. Oleh karena itu, guru jaman sekarang harus mampu dan melek IT agar mudah dalam administrasi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Kemajuan yang terjadi dalam dunia teknologi komunikasi dan informasi memunculkan peluang maupun tantangan baru dalam dunia pendidikan. Peluang baru yang muncul termasuk akses yang lebih luas terhadap konten multimedia yang lebih kaya, dan berkembangnya metode pembelajaran baru yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Disadari, distribusi dan kemampuan mengakses jaringan internet masih menghadapi problem digital divide, yakni problem disparitas kemampuan mengakses layanan internet di daerah. Namun demikian, variasi produk dan dukungan teknologi informasi tidak harus melulu dilihat dalam ukuran kualitas akses. Ketersediaan berbagai pilihan produk tersebut harusnya mampu menjembatani kebutuhan utama dan solusi sementara, sampai pada kondisi ideal akses internet mampu dipenuhi oleh kebijakan, dijangkau publik, dan dinikmati oleh siswa serta warga pendidikan. Dalam konteks ini, pembelajaran daring (dalam jaringan) yang mewujud dalam e-learning dan semacamnya mampu menjadi pilihan yang solutif untuk kondisi saat ini.
E-learning secara umum menjadi bagian dari proses pendidikan jarak jauh. Pendidikan jarak jauh bukan metode baru dalam sistem pendidikan. Metode pembelajaran ini telah digunakan di Amerika Serikat sejak tahun 1892, ketika Universitas Chicago meluncurkan program pembelajaran jarak jauh pertamanya untuk tingkat pendidikan tinggi. Metode pembelajaran jarak jauh terus berkembang dengan menggunakan beragam teknologi komunikasi dan informasi termasuk radio, televisi, satelit, dan internet. Pada tahun yang sama John Bourne mengembangkan Asychronous Learning Network Web yang merujuk kepada kemampuan untuk memberikan pendidikan kapan saja dan di mana saja melalui internet. Dalam perspektif regulasi, guru harus memiliki beberapa aspek kompetensi dasar sesuai Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 pasal 10 ayat (1) Tentang Guru dan Dosen, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Untuk guru Agama Islam, berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 211 Tahun 2011 Tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru, kompetensi tersebut ditambah kompetensi leadership dan kompetensi spiritual.
Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di sekolah, diperlukan inovasi dan kreatifitas dari guru untuk dapat menjadikan pembelajaran menjadi lebih menarik minat belajar siswa dan peningkatan kualitas dukungan sistem pendidikan. Salah satu yang kiranya penting dalam konteks ini adalah penggunaan teknologi informasi. Terkait hal ini, Hamza B. Uno dan Nina Lamatenggo dalam Budiman (2017) mengatakan bahwa kecenderungan pendidikan di Indonesia di masa mendatang akan banyak diwarnai modus belajar jarak jauh (distance learning), kerja sama antarlembaga pendidikan dalam sebuah jaringan perpustakaan dan instrumen pendidikan lainnya, dan penggunaan perangkat teknologi informasi interaktif. Strategi pembelajaran e-learning Efektifitas pembelajaran daring mampu menjembatani problem interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Namun ada suatu hal yang perlu disadari oleh kita semua dalam konteks pembelajaran daring, yaitu hilangnya figur keteladanan pada diri guru. Keteladanan guru ke siswa memerlukan proses pemberian contoh langsung, adaptasi, dan pembiasaan dengan bimbingan dan pengawasan langsung dari guru.
Guru adalah figur keteladanan kedua setelah orang tua. E-learning berpotensi menjadikan dan membangun pengertian pembelajaran yang cukup berada di layar komputer atau gawai. Menimbang hal tersebut, kiranya diperlukan beberapa strategi untuk proses pembelajaran daring di masa masa Pandemi Covid-19. Pertama, manajemen waktu. Mengatur waktu pembelajaran daring penting dilakukan untuk menjaga fokus dan fleksibilitas pelaksanaan e-learning. Kedua, kesiapkan teknologi yang dibutuhkan. Kesiapan ini memastikan kelancaran dan kesuksesan proses e-learning. Ketiga, serius dan fokus. Kesalahan yang sering dilakukan siswa, sebagaimana dilansir jurnal Psycology Today adalah tidak fokus ketika melakukan remote learning. Selama melakukan pembelajaran di internet, terdapat banyak sekali distraksi yang menggangu proses pembelajaran. Godaan untuk menonton video, mengakses media sosial, hingga membaca-baca konten berita secara implusif seringkali dilakukan tanpa rencana sebelumnya. Keempat, menjaga komunikasi dengan pengajar dan teman kelas. Dalam proses e-learning, pihak yang terlibat harus menyesuaikan diri untuk terus visible dan berkomunikasi tanggap dengan pengajar atau teman kelas lain. Jika dibutuhkan, perlu juga diadakan grup khusus untuk membahas tugas yang dibebankan pengajar. Kendati tidak harus dilakukan dengan tatap muka, komunikasi mesti terjalin dengan baik untuk menghindari kesalahan pemahaman.
Mendikbudristek Nadhiem Makarim mengatakan bahwa dengan adanya wabah Covid-19 ini kita bisa mengambil hikmah bahwa pembelajaran bisa dilakukan dimanapun. Tidak harus di kelas atau sekolahan. Seperti saat ini guru bisa melakukan pembelajaran melalui daring/online dengan menggunakan tools/perangkat baru. Menurutnya, kita bisa mengambil hikmah dari wabah ini, yakni bisa membangunkan keasadaran bagi orang tua bahwa tugas guru itu sangat sulit. Sehingga dengan kejadian ini akan menumbuhkan rasa empati orang tua kepada guru. “Guru, siswa dan orang tua sekarang menyadari bahwa pendidikan itu bukan suatu yang hanya bisa dilakukan di sekolah saja”. Menurut Mendikbud pendidikan yang efektif membutuhkan kolaborasi yang efektif dari tiga hal ini, guru, siswa, dan orang tua. “Tanpa kolaborasi itu, pendidikan yang efektif tidak mungkin terjadi”.
Semoga pandemic Covid-19 segera cepat berlalu di bumi Indonesia. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.
Kota Banjarbaru di ujung sore diguyur air hujan yang deras di hari sabtu, 11 September 2021

Views All Time
Views All Time
16
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY