Ku Jaga Hubungan Ku

0
139

(Di buat oleh: Bowo Riwoyo)

Berawal dari sebelas tahun yang lalu, saat awal aku sebagai guru di Kecamatan Nguntoronadi. Banyak yang tidak mengira bahwa aku adalah seorang guru olahraga. Setiap kali mereka bertanya dalam bahasa jawa “Njenengan ngajar nopo pak?..”  yang artinya Kamu mengajar apa pak?. Aku pun menjawab “Ngajar penjas pak”. Setiap aku menjawab dengan kalimat itu mereka selalu menatap ku dengan sedikit termenunghal itu karena mereka melihat posturku yang tidak ideal untuk guru olah raga. Mereka pun kembali bertanya “olahraga ne sagete nopo?”. Pertanyaan yang sangat menyakitkan yang dalam bahasa Indinesia artinya “Bisanya olah raga apa?”.  Namun dengan tenang aku menjawab “Silat pak”. Mereka semakin sinis lagi pada jawaban ku.

Hari-hari awal sebagai guru ku lalui dengan mencoba bersosialisasi dengan teman-teman guru. Semakin banyak juga kata menyakitkan yang terdengar. Saat pertemuan Kelompok Kerja Guru penjas yang membahas persiapan menuju POPDA tahun 2017 yang akan dilaksanakan pada bulan Maret. Aku menyampaikan bahwa kesuksesan dalam mendidik anak untuk meraih prestasi olah raga itu perlu kerja sama dengan orang tua. Namun dari usulan aku ucapkan malah mendapatkan tanggapan yang membuatku lebih sakit hati. Semakin menyakitkan saat ada seorang teman guru penjas menyampaikan bahwa beliau telah membawa anaknya maju POPDA tingkat provinsi. Beliu pun menyampaikan bahwa aku belum punya pengalaman.

Berdasarkan rasa sakit hati itulah aku mulai termotivasi untuk membuktikan bahwa kerja sama dengan orang tua adalah salah satu jalan untuk meningkatkan prestasi anak didik. Awal dari pembuktian aku yang pertama adalah mengajarkan dasar-dasar pencak silat kategori tunggal kepada anak untuk mengetahuai anak yang berbakat dalam pencak silat. Dua minggu latihan berjalan sudah aku temukan salah satu siswa putri yang cukup memiliki power, kelentukan dan kelincahan yang cukup baik. Dewi Indriawati adalah nama siswa tersebut. Orang tua dewi adalah pemilik pabrik bakso di Bandung. Dewi di kampung tinggal besama dengan kakek dan neneknya. Karena terlahir dari keluarga yang berkecukupan dan hanya tinggal bersama kakenya, maka dewi sedikit manja. Satu bulan latihan berjalan, dewi sudah mampu menguasai seluruh jurus kategori tunggal. Namun pada saat itu pula dewi mulai merasa kejenuhan. Sehingga dewi mulai bermalas-malasan datang latihan. Beberapa hari kemudian kakek dewi datang kesekolah, beliu meminta izin kepada kepala sekolah agar Dewi tidak ikut latihan pencak silat lagi. Padahal kegiatan POPDA Tingkat kecamatan tinggal satu bulan lagi.

Mulailah pada saat itu aku melakukan pedekatan dengan orang tua dan kakek dewi. Aku datang kerumah dewi dan bertemu dengan kakeknya. Aku pun menjelaskan tentang perkembangan belajar dewi dan menyampaikan juga bahwa siswa yang berprestasi akan mudah menggapai cita-cita. “Mbah, nanti kalau dewi juara Pencak Silat. Dewi nanti kalau mau masuk SMP favorit akan lebih mudah mbah.” Begitu aku menyampaikan kepada kakeknya. Kemudian mbahnya pun menanggapi dengan baik “O… gih pak, nanti Dewi rencananya SMP mau sekolah di Bandung pak.” Setelah itu kemudian komunikasi aku dengan kakek Dewi semakin akrab. Aku selalu menyampaikan perkembangan Dewi kepada kekeknya maupun kepada kedua orang tuanya melalui Whatsapp. Selain selalu berkomunikasi lewat Telepon aku juga sering mengundang kakeknya untuk datang dan melihat perkembangan belajar cucunya secara langsung.

Dua bulan berlalu tibalah seleksi POPDA tingkat Kecamatan. Dewi pun dinyatakan lolos, karena untuk tingkat kecamatan kebetulan tidak ada lawannya. Dua minggu kemudian seleksi tingkat Kabupaten. Orang tua dewi menyempatkan untuk pulang dari bandung dan melihat putrinya tampil dalam kejuaran POPDA Tingkat Kabupaten Wonogiri. Alhamdulillah hasilnya pun Juara satu. Satu minggu kemudian seleksi tingkat provinsi. Keluarga dewi pun datang untuk menyaksikan. Alhamdulilah dewi pun masuk pada putaran final dan akhirnya dei mampu meraih medali perunggu POPDA Tingkat Provinsi cabang Pencak silat kateori Tunggal putri tahun 2017.

Tahun pertama ku cukup sukses untuk membuktikan bahwa komunikasi yang baik dengan orang tua menghasilakan prestasi yang baik pula. Pembuktian ku tidak berhenti disitu saja. Pada tahun 2010 siswa atas nama Lela lusiawati mampu masuk ke tingkat nasional di Jakarta. Meskipun belum berhasil juara di tingkat nasional. Kemudian aku pun merencanakan program jangka panjang dengan orang tua siswa untuk meraih prestasi. Mulai dari tahun 2011 aku melatih murid yang bernama Kurniawan Bagus Septian Aditama. Orang tuanya sangat antusias dan sangat mendukung putranya. Akhirnya pada tahun 2014 Kurniawan Bagus Septian Aditama mampu menorehkan prestasi sebagai peraih medali Perunggu O2SN Tingkat Nasional di Jakarta. Saat ini anak-anak yang berprestasi tersebut dapat di terima di sekolah unggulan dan dapat berprestasi hingga sekarang.

Kunci kesuksesan dalam peningkatan prestasi siswa adalah terjalinnya komunikasi yang baik dengan orang tua diantaranya dengan membangun kepercayaan orang tua, kepercayaan membangun keterbukaan,menjaga sikap dan wibawa, mengundang orang tua kesekolah, membangun komunikasi secara online, menerima komplain dan kritikan orangtua.

Views All Time
Views All Time
342
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY