LESSI

0
20

LESSI

Oleh: Ida Rusmiyati

 

Saat  masih kanak-kanak, Kami sekeluarga menempati rumah dinas , di area Gunung Dubbs Balikpapan Kalimantan Timur. Daerah ini memiliki halaman rumah yang sangat luas dengan pepohonan cemara yang rindang.

Di belakang rumah kami  terdapat jalan dengan jurang dan hutan cantik, dari sini kami bisa melihat pemandangan hutan, hamparan laut biru, kilang-kilang minyak, kapal -kapal tanker  dan RIG / pengeboran lepas pantai, sungguh pemandangan yang sangat elok .

Kompleks rumah tinggal kami juga mendapat penjagaan dengan keamanan yang sangat ketat. Namun demikian, untuk menjaga keamanan rumah tambahan, kami sekeluarga memelihara seekor anjing. Hal ini merupakan suatu hal yang  lumrah dan juga biasa dilakukan pada semua rumah di wilayah ini.

Singkat cerita, kami memelihara seekor anjing penjaga rumah yang kami pelihara sejak kecil, kami memberinya nama LESSI.

Dia adalah anjing jantan yang gagah, bertubuh besar dan gerakannya lincah. Berbulu putih dengan totol-totol hitam menarik. Suaranya saat menggonggong amatlah garang sehingga membuat takut orang-orang yang asing atau tak dikenal ketika melewati rumah kami. Gonggongan Lessi benar-benar mampu menjaga keamanan rumah kami, bak alarm otomatis yang langsung berbunyi manakala ada sesuatu yang janggal dan mencurigakan.

Kami sekeluarga sangat paham dan kenal baik dengan jenis dan gaya gonggongan Lessi. Sehingga kami tahu situasi keamanan rumah kami hanya dengan mendengar intonasi gonggongannya.

Anjing penurut ini sangatlah patuh, dia tidak pernah mau memasuki rumah kami, karena kami melarangnya dengan keras. Tak pernah sedikitpunpun Lessi berani melanggar.

Lessi tahu betul tugasnya adalah menjaga keamanan rumah dan sekelilingnya.

Untuk anjing seumurannya dia tergolong anjing yang memiliki usia panjang.

Seiring berjalannya waktu, pada suatu ketika kami sekeluarga harus pindah ke Jakarta, karena orang tua kami pindah tugas. Di sinilah awal kisah sedih tentang Lessi.

Semua saudaraku sudah menyelesaikan berkas-berkas pindah sehingga mereka bisa langsung terbang ke Jakarta. Berbeda dengan diriku karena sekolah kami berbeda, maka proses kepindahan sekolahku agak berbeda dengan saudara-saudaraku. Aku harus mengurus berkas kepindahan sampai di Ibu kota Provinsi Kalimantan Timur , yaitu Samarinda. Pengurusan berkas pindah sangatlah membutuhkan waktu tersendiri, maklumlah harus bolak balik Balikpapan- Samarinda. Menunggu semuanya beres adalah kesempatan berhargaku untuk dekat dengan anjing kami Lessi.

Kunikmati kebersamaan saat-saat terakhir ini, sampai pada saatnya aku harus meninggalkan kota Balikpapan tercinta.

Hari itu adalah hari yang paling menyedihkan. Aku  dan 2 orang  keluarga yang masih tersisa sudah bersiap meninggalkan kediaman kami dengan mobil dan sopir yang siap mengantar kami ke Bandara SEPINGGAN.

Dengan  hati yang sedih kunaiki mobil , menutup pintunya…dan mobil pun berjalan. Bersamaan dengan itu Lessi pun berlari mengejar mobil yang kami tumpangi . Dia berlari…berlari….berlari semakin kencang …tapi tetap tak dapat mengejar mobil kami. Jarak kami dengan Lessi semakin jauh dan jauh…hingga kami tak melihatnya lagi. Air mataku bercucuran tak bisa berhenti walau kami sudah sampai SEPINGGAN.

Setelah itu…beberapa saat kemudian….Selamat tinggal Balikpapan…selamat tinggal Lessi.

Aku tak tahu lagi bagaimana nasib Lessiku, yang jelas sampai saat ini masih tersimpan airmata  untuknya  mana kala kumengingatnya.

 

Semarang 6 April 2021

 

Views All Time
Views All Time
9
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY