Lihatkan Generasi Pada Masa Lampau

0
109

keceriaan sebelum menyaksikan
pengarahan sebelum menyaksikan
keseriusan dan ketegangan siswa di sela-sela acara

    berbekal layar sederhana menyaksikan G30SPKI

 

Jorong(30/9).Berawal viralnya pemutaran Gerakan 30 September (dalam dokumen pemerintah tertulis Gerakan 30 September/PKI, disingkat G30S/PKI), Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam pada 30 september ketika tujuh perwira tinggi beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha kudeta menjadikan awal pemikiran untuk melakukan pemutaran dan penumbuhkan sikap pada diri para siswa cinta tanah air,  nasionalisme,  dan paham dengan ideologi dengan benar,  serta tahu arti penegakkan dari hal kudeta.

Rencana pemutaran ibarat letupan ke spontanitas dengan jangka waktu sesingkatnya kepada sesama rekan kerja dengan dukungan penuh dari kepala sekolah – Abdi Rakhmatullah, S. Pd- membuat semangat pun berkibar semakin mantap.  Pada hari Rabu kemarin, berbekal diskusi singkat di ruangan kantor SMAN 2 Jorong ketika di sela-sela waktu istirahat maka diputuskan pembuatan surat resmi kepada pihak koramil setempat – Jorong- untuk meminta izin pemutaran film peristiwa itu – faktor jauh dan waktu malam hari untuk menonton bersama sesuai edaran.  Maka  mengantisipasi hal yang tidak-tidak terjadi,  dilakukanlah pemutaran yang akan dilaksanakan di lingkungan sekolahan sendiri.  Respon balik yang baik pun ada – koramil- sehingga persiapan secara sederhana namun bermakna pun kami langsungkan.

Ketika pemutaran pada hari Sabtu yang cerah pukul 09.00 wita pun tampak Sorak, teriakan, dan tangisan pun terlihat dari beberapa penonton yang akhirnya mengalihkan pandangan layar LCD ke layar telepon genggam, mengusap muka dengan tisu,  dan menunduk,  serta berteriak.

“ulun,  kada sanggup melihat darah. sampai diusap ke muka. ” (red saya,  tidak sanggup melihat darah)

” Pembantaian sampai seperti itu.  Bagaimana perasaan keluarga mereka.  Salut dengan  keluarga yang mengalami seperti itu”.

Akhir dari pemutaran,  seluruh penonton menunduk seraya bernyanyi.

“Dengan seluruh angkasa raya… Kau cahya pelita..  Bagi Indonesia Merdeka. ”

ketegangan terasa

Ingat Jasmerah!

Jasmerah adalah judul pada Kesatuan Aksi terhadap pidato Presiden, bukan judul yang diberikan Bung Karno. Presiden memberi judul pidato itu dengan Karno mempertahankan garis politiknya yang berlaku “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”. Dalam pidato itu Presiden menyebutkan antara lain bahwa kita menghadapi tahun yang gawat, perang saudara, dan seterusnya.

Semoga dengan adanya pemutaran itu diharapkan para siswa bahkan rakyat Indonesia mengingat kembali betapa perjuangan begitu penuh semangat juang tinggi.eLBr

 

 

Menyaksikan dengan tenang

 

 

 

Views All Time
Views All Time
244
Views Today
Views Today
1
Previous articleSERBA-SERBI MENGIKUTI PELATIHAN PENYUSUNAN SOAL USBN : BERKUNJUNG KE PANTAI ANCOL (Pebruari-2017)
Next articleSOSIALISASI PERGUB UPTD di Kabanjahe[2]
EL Bara Rahma nama pena dari Lilis Suryani, kelahiran Lumajang 28 April. Telah Menyelesaikan S1 FKIP UNLAM Banjarmasin jurusan Bahasa Indonesia, Sastra dan Daerah (2010). Tenaga Pendidik di MTsN 1 Kintap (2011), SMAN 1 KINTAP (2011-2018),SMAN 2 JORONG (2014-sampai sekarang), SMAS AL HIDAYAH (2011-2017). Beberapa karya puisi pernah dimuat di media lokal Banjarmasin Post (2008), Pernah memerankan salah satu tokoh di pementasan Teater Islam, Nur Rasulullah (Adjim Ariyadi,2007). Kembali berkarya lagi, antara lain Antalogi Puisi Penyair Nusantara oleh Tuas media berjudul Simbolik Diafragma Hati (2016), Bias Setitik Harapan Hati(Peserta Lomba Cipta Puisi Ruas ke-3 Indonesia-Malaysia 2016), Antalogi Puisi Pelita Tanpa Cahaya berjudul Jadi Hati Abu (Aksara Aurora Media,2016) , Antalogi Puisi Warna judul Enkripsi Warna Duniaku(WAP,2017), Karya artikel opini ' Orang Tua Hebat adalah Orang tua Terlibat' ( Radarbanjarmasin, 2017)

LEAVE A REPLY