Majelis Kopi

2
15

Pagi ini udara terasa dingin, bau tanah basah tercium oleh hidungku.Tanda bahwa semalaman langit telah menumpahkan air bah ke bumi. Di atas tampak Sang Surya bersinar dengan cerah merayap naik, mengusir embun basah titipan hujan semalam yang perlahan menghilang.

Seperti hari biasa setiba di sekolah segera kusetorkan salah satu jariku ke alat presensi pemindai yang dipasang di Hall dekat ruang Kepala Sekolah. Setelahnya  kubergegas mencuci tanganku dengan sabun dan air hingga bersih.

Di pintu gerbang masuk sudah berdiri beberapa teman guru Bimbingan dan Konseling yang setia melaksanakan tugas pagi menjaga pintu gerbang dan menyapa warga sekolah yang datang.   “ Selamat pagi Bu Ida!”, begitu sapa mereka serentak dan bersamaan  sembari mengembangkan senyum manis di bibir sambil mengarahkan alat pendeteksi suhu tubuh ke keningku.

Segera kusambut dengan sapaan yang sama, “ Selamat pagi! “ dan juga tak lupa kupasang wajahku agar tampak cantik dengan sesungging senyum dan tawa riang.

Secara otomatis kakiku segera melangkah menuju ruang dapur sekolah, dari kejauhan sudah tercium aroma kopi yang segar semakin lama aromanya semakin mendekat di hidung mana kala langkah kaki sudah sampai di ruang dapur. Ruang ini adalah ruang favoritku untuk mangkal sekadar minum kopi bersama beberapa orang guru penikmat kopi. Ruang bercat putih yang hanya berukuran 5 X 7 meter persegi ini di dalamnya terdapat peralatan memasak, tempat mencuci gelas dan piring,  dan beberapa meja kursi sederhana, walau sederhana tetapi kami merasa  nyaman berada di dalamnya.

Acara minum kopi merupakan ritual kebiasaan kami di pagi hari. Sambil menyeruput hangatnya kopi buatan Pak Tarmin, Pembuat Minum di sekolah, kami mengobrol dengan aneka topik menarik, seperti permasalahan pembelajaran, siswa nakal, rumah tangga, dll, tanpa tendensi apa-apa. Suasana ini terasa hangat bagi pertemanan kami.

Tetiba salah seorang teman yang jenaka mengeluarkan kelakarnya,” Dengan ini… majelis kopi…saya buka…dok..dok…dok!”, kami pun segera tertawa renyah dan bersulang dengan gelas-gelas kopi kami dengan tetap menjaga jarak dan tempat duduk kami tentunya. Suara kelakar KOPIERS  dan harumnya kopi selalu sampai ke Ruang Guru.Semuanya memberikan tanda tentang hadirnya kami di sekolah ini.

Majelis kopi yang kami cintai ini harus segera bubar tanpa ada acara pembubaran dan tanpa ada yang membubarkan, saat bel tanda  masuk kurang 5 menit berbunyi. Tampaknya bunyi bel ini  laksana Sang Penguasa Tertinggi di sekolah kami. Siapa pun harus tunduk dan patuh, baik Kepala sekolah dan juga seluruh warga sekolah lainnya, termasuk kami para KOPIERS.

Dan seketika itu bubarlah kami masing- masing untuk segera melaksanakan tugas mengajar.

Sampai bertemu kembali dalam majelis kopi esok hari teman-teman guruku!

———————————&&&&&———————————-

Views All Time
Views All Time
18
Views Today
Views Today
1

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY