MALSKENARIO PEMBELAJARAN

0
19

Saut Marasi Manihuruk, S.Pd.

Interaksi dalam kelas untuk mewujudnyatakan apa yang tertulis pada standar isi, jika dicermati, belum sepenuhnya ditunaikan secara baik atau dengan kata lain seringkali terjadi malskenario pembelajaran yaitu tidak dijalankannya langkah-langkah pembelajaran secara utuh, konsisten, dan bertanggung jawab.

Hari-hari pedagogis yang dilalui dari tahun ke tahun pembelajaran dengan pendekatan dan metode yang jelas secara teori namun kabur dalam penerjemahan dalam praktiknya. Atau bahkan mungkin beberapa pelaku pedagogis belum memahami sepenuhnya apa itu strategi dan metode pembelajaran(?) Jika ini terjadi, maka di kelas kerap terjadi malskenario pembelajaran yang seringkali berujung pada rendahnya indikator pencapaian hasil belajar.

Pada dasarnya, skenario pembelajaran itu disusun secara runtut agar apa yang diisyaratkan dalam standar isi dapat dicapai dengan alat ukur yang sahih dan ajeg. Sebelum memulai aktivitas pedagogis dalam  kelas, idealnya para pelaku pedagogis memiliki visualisasi sederhana akan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pencapaian apa  yang tertuang pada standar isi. Detik ke detik dan bahkan menit ke menit aktivitas pedagogis yang dilaksanakan harus benar-benar dilaksanakan secara bertanggung jawab dengan dedikasi yang tinggi. Diyakini, jika dilaksanakan demikian, maka pelaku pedagogis akan penuh dengan produktivitas, kreativitas, dan inovasi dalam pembelajaran.

Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa malskenario pembelajaran seringkali terjadi dengan beberapa alasan. Pertama, kegairahan melaksanakan tindak pedagogis masih rendah bagi beberapa pelaksana pedagogis sehingga dasar pelaksanaan pembelajaran hanya berdasarkan aktivitas tanpa produktivitas. Pembelajaran terlaksana minus refleksi apakah aktivitas sudah menghasilkan produktivitas yaitu pendapaian indikator hasil pembelajaran. Kedua, lemahnya motivasi dan supervisi dan para pengelola sekolah yaitu rendahnya frekuensi supervisi dan diskusi yang akrab dengan pelaku pedagogis di sekolah. Seringkali, ketika berbicara tentang supervisi pembelajaran, ada hubungan psikologis yang terganggu antara pengawas dan yang diawasi karena ketidaklengkapan perangkat pembelajaran. Ketiga, para pelaku pedagogis minim pemahaman (pengetahuan) tentang metodologi dan penguasaan materi ajar karena kurangnya pertemuan-pertemuan intensif dengan para ahli untuk mencerahkan pemahaman itu.

Malskenario seharusnya dapat dihindari jika para pelaku pedagogis mengulang-ulang kebiasaan baik untuk mempraktikkan secara konsisten langkah-langkah  yang telah disusun dan divisualisasikan secara baik. Kontinum pelaksanaan aktivitas pedagogis yang ideal dan baik tidaklah dapat dicapai dalam ukuran minggu atau bulan melainkan ukuran tahun demi tahun. Oleh karena itu, perlu adanya komitmen yang tinggi untuk melaksanakan tindak pedagogis dengan standar yang tinggi dari semua pihak yang ada di sekolah. Tentu saja, diperlukan motivasi internal dan eksternal untuk mendorong para pelaku pedagogis melaksanakan tugasnya dengan tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi ditambah pelatihan-pelatihan yang sering untuk memperkaya kompetensi yang sudah dimiliki.

Skenario pembelajaran yang dilaksanakan secara benar dan baik akan menghasilkan satu kepuasaan profesi yang harapannya berbuah pencapaian optimal pada peserta didik dalam olah hati, pikir, rasa, dan raga. Oleh karena itu, harapan kita secara kolektif, pelaku pedagogis dalam kelas menghindari malskenario pembelajaran dan tetap melakukan apa yang tertulis dalam skenario pembelajaran secara konsisten dan bertanggung jawab dan tetap memikirkan langkah-langkah yang sudah dilaksanakan untuk perbaikan yang terus menerus. Upaya ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mencapai tujuan pendidikan nasional kita secara keseluruhan. Marilah kita melaksanakan skenario pembelajaran secara benar dan baik …!

 

Views All Time
Views All Time
130
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY