Masalah dalam pelaksanaan evaluasi

1
10777

BAB I

PENDAHULUAN

 Masalah-masalah Dalam Pelaksanaan Evaluasi

Evaluasi merupakan subsistem yang sangat penting dan sangat di butuhkan dalam setiap sistem pendidikan, karena evaluasi dapat mencerminkan seberapa jauh perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan. Dengan evaluasi, maka maju dan mundurnya kualitas pendidikan dapat diketahui, dan dengan evaluasi pula, kitadapat mengetahui titik kelemahan serta mudah mencari jalan keluar untuk berubah menjadi lebih baik ke depan.

Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk membuat berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

Dengan menelaah pencapaian tujuan pengajaran, guru dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan atau sebaliknya. Jadi jelaslah bahwa guru hendaknya mampu dan terampil melaksanakan evaluasi, karena dengan evaluasi guru dapat mengetahui prestasi yang dicapai oleh siswa setelah ia melaksanakan proses belajar.

Tanpa evaluasi, kita tidak bisa mengetahui seberapa jauh keberhasilan siswa, dan tanpa evaluasi pula kita tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik,maka dari itu Jadi secara umum evaluasi  adalah suatu proses sistemik umtuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program.

Fungsi Evaluasi Pendidikan

Fungsi Evaluasi Pendidikan sangat diperlukan dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :

1) Membuat kebijaksanaan dan keputusan.

2) Menilai hasil yang dicapai para pelajar.

3) Menilai kurikulum.

4) Memberi kepercayaan kepada sekolah.

5) Memonitor dana yang telah diberikan

6) Memperbaiki materi dan program pendidikan

Hasil evaluasi yang didapat sampai sekarang tentang dunia pendidikan Nasional kita cukup memperihatinkan, tidak hanya dalamsegi kualitas tapi juga kegagalan dalam membentuk karakter building generasi muda bangsa

Pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak, dimana tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. membentuk SDM yang berkualitas. Namun sayang kebijakan pendidikan yang ada sampai sekarang masih jauh dari harapan, karena kebijakan pendidikan seperti kata pakar pendidikan dari Universitas Nasional Jakarta yaitu HarTilaar kebijakan pendidikan di Indonesia sesuai dengan pameo gantimenteri ganti kebijakan.

Mengingat terlalu luasnya cakupan dalam evaluasi pendidikan maka penulis akan membatasi hanya pada masalah-masalah evaluasi hasil belajar siswadi karenakan masalah ini sangat sesuai dengan tugas penulis sebagai guru.

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. ANALISIS KESENJANGAN  DALAM  EVALUASI  PENDIDIKAN

a). Keadaan Ideal

Untuk memperoleh hasil evaluasi yang sebaik-baiknya, para evaluator dalam hal ini para guru dituntut untuk memiliki hal hal sebagai berikut :

  1. Mampu melaksanakan, persyaratan pertama yang harus dipenuhi oleh evaluator adalah bahwa mereka harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan evaluasi yang didukung oleh teori dan keterampilan praktik.
  2. Cermat, dapat melihat celah-celah dan detail dari program serta bagian program yang akan dievaluasi.
  3. Objektif, tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan pribadi, atau juga keinginan/tekanan dari pihak lain agar dapat mengumpulkan data sesuai dengan keadaannya, selanjutnya dapat mengambil kesimpulan sebagaimana diatur oleh ketentuan yang harus diikuti.
  4. Sabar dan tekun, agar di dalam melaksanakan tugas dimulai dari membuat rancangan kegiatan dalam bentuk menyusun proposalmenyusun instrumen, mengumpulkan data dan menyusun laporan,tidak gegabah dan tergesa-gesa.
  5. Hati-hati dan bertanggung jawab, yaitu melakukan pekerjaan evaluasi dengan penuh pertimbangan, namun apabila masih ada kekeliruan yang diperbuat, berani menanggung resiko atas segala kesalahannya.

 

b). Keadaan Nyata

Setiap jenis atau bentuk pendidikan pada waktu-waktu tertentu  selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan evaluasi. Artinya pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan, selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik.

Demikian pula dalam satu kali proses pembelajaran, guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi pelajaran yang diajarkan sudah tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian.

Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapaioleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik (feed back) terhadap proses belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan terus dapat ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.

Tetapi kebanyakan guru merasa enggan melaksanakan evaluasi diakhir pelajaran, karena keterbatasan waktu, dan juga mungkin belum mengetahui teknik-teknik evaluasi yang baik Mereka beranggapan lebih baik menjelaskan semua materi pelajaran sampai tuntas untuk satu kali pertemuan, dan pada pertemuan berikutnya di awal pelajaransiswa diberi tugas atau soal-soal yang berhubungan dengan materi  tersebut. Contoh lain ada juga guru yang berpendapat, bahwa penilaian tidak mutlak dengan tes tertulis. bisa juga dengan tes lisanatau tanya jawab. Kegiatan dirasakan lebih praktis bagi guru, karena guru tidak usah bersusah payah mengoreksi hasil evaluasi anak.

Cara mana yang akan digunakan oleh guru untuk evaluasi tidak usah dipermasalahkan, yang jelas setiap guru yang paham dengan tujuan dan manfaat dari evaluasi atau penialaian tersebut.Karena ada juga guru yang tidak menghiraukan tentang kegiatanini, yang penting ia masuk kelas, mengajar, mau ia laksanakan evaluasi di akhir pelajaran atau tidak itu urusannya. Yang jelas pada   akhir semester ia telah mencapai target kurikulum.

Akhir-akhir ini kalau kita teliti di lapangan, banyak guru yang mengalami kegagalan dalam melaksanakan evaluasi. Hal ini tentu ada faktor penyebabnya dan apakah cara untuk mengatasinya. Untuk itukalau kita analisis maka akan kita temukan kekuatan, kelemahan,peluang dan tantangan dalam melaksanakan evaluasi belajar .

BAB III

TINJAUAN KEBIJAKAN EVALUASI PENDIDIKAN

  1. Implikasi Penyelenggaraan Ujian Nasional

Merujuk ke dalam pasal 4 Permendiknas No. 45 tahun 2006 yang menyebutkan bahwa hasil UN akan digunakan sebagai salah satu pertimbangan penentuan kelulusan peserta didik dari sebuah jenjang pendidikan dan pada saat yang sama digunakan sebagai pertimbangan untuk seleksi masuk jenjang berikutnya, maka sangat jelas bahwa UN ini memiliki konsekwensi sangat serius terhadap masa depan siswa. Tidak bisa mencapai skor minimal UN (tahun ini ditetapkan menjadi 5.50, dan kemungkinan akan terus bertambah dari tahun ke tahun) berarti tidak bisa tamat sekolah, tidak bisa mencari pekerjaan, dan tentu juga tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Belum lagi resiko psikologis lainnya berupa malu, tertekan, dan kehilangan muka yang harus ditanggung oleh banyak pihak, tidak hanya oleh siswa secara personal tapi juga oleh pihak sekolah dan semua jajarannya ketika seorang anak (atau banyak anak) tidak lulus UN. Semua kondisi di atas semakin menguatkan bahwa UN dianggap hal yang menakutkan bagi berbagai pihak dan memiliki efek yang  sangat besar terhadap masa depan para siswa). Semua konsekwensi itu sangat mungkin ‘menghantui’ banyak pihak yang berkepentingandengan kelulusan siswa dalam UN ini.

Di tanah air, keadaan ini diperparah oleh sistem reward pendidikan kita yang masih sangat bergantung pada angka-angka di atas kertas. Seorang kepala sekolah, misalnya, akan dianggap gagal memimpin sekolahnya (dan mungkin juga terancam untuk dimutasi) apabila persentase ketidaklulusan siswa sangat tinggi di sekolah yang diapimpin. Sebaliknya sekolah yang mampu meluluskan semua siswanya dan memperoleh angka tinggi dalam UN, akan dianggap sebagai sebuah sekolah yang berhasil. Sekalipun, bisa saja, sama sekali tak ada korelasi positif antara keberhasilan seorang anak setelah tamat SMPdengan angka-angka di atas kertas yang dia peroleh. Kita berkeyakinan semua ketakutan dengan resiko inilah yang menyebabkan sebagian insan pendidikan kita berusaha dengan segala cara agar dianggap berhasil dalam Ujian Nasional ini. Tentu bagus kalau perasaan khawatir dengan tingginya resiko tidak lulus UN ini diimplementasikan secara positif, misalnya dengan membentuk ‘timsukses’ agar siswa mereka bisa lulus UN. Pelajaran tambahan dan try-out UN tentu merupakan kegiatan yang sangat positif sebagai program‘tim sukses’ ini. Namun kalau ‘tim sukses’ ini juga bekerja saat hari Hujian dengan ikut membahas soal dan kemudian membocorkannya kepada anak-anak, atau dengan memperbaiki jawaban siswa tentusudah lain permasalahannya.

Kita juga menyadari bahwa UN itu sendiri layak dipertanyakan tingkat keadilannya mengingat bobot dan muatan soal UN sama untuk semua siswa, padahal adalah kenyataan yang tak bisa dibantah tentang adanya perbedaan kualitas sekolah yang sangat besar antar satu daerahdengan daerah lain di tanah air. Bahkan antar sekolah dalam sebuah daerah yang sama. Tapi, tentu saja, perbedaan kualitas antar sekolahini tidak bisa dijadikan alasan untuk melegitimasi kecurangan dalam   pelaksanaan UN. Menurut kami akan lebih terhormat bila sebuah sekolah setelah berusaha semaksimal mungkin mempersiapkan anak didiknya dapat menerima kenyataan bahwa anak didiknya lulus atau tidak lulus ujian dengan lapang dada, karena memang itulah hasil yang diperoleh dan harus menjadi faktor pemicu untuk bekerja lebih keraslagi daripada bergembira melihat angka kelulusan seratus persenn padahal merupakan hasil licik dari para guru yang tentu saja dalam halini dilakukan dengan terpaksa dengan berbagai macam alasan.

Evaluasi pembelajaran yang ada kaitannya dengan penentuan kelulusan memang sangat penting. Hal tersebut dikarenakan untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang dapat diperoleh siswa selama melakukan pembelajaran, apakah memperoleh hasil yang diinginkan atau tidak. Dalam penentuan kelulusan di Indonesi seharusnya kitatidak boleh lupa melihat beberapa aspek yaitu aspek kognitif, afektif,dan psikomotornya. Dalam hal ini juga tidak hanya mementingkanhasil, proses juga diukur untuk kelulusan siswa itu tadi. Standar kelulusan di Indonesia sekarang ini terlalu rumit, memang apabila dikaitkan dengan tujuannya untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas hal tersebut tentu bertujuan untuk arah kebaikan.

Untuk menentukan kelulusan kita juga harus memperhatikan terlebih daluhu bagaimana penerapkan proses belajar yang baik agar dapat memperoleh hasil yang maksimal. Menurut kami evaluasi pembelajaran yang ideal adalah bukan hanya saja mementingkan hasil semata tapi juga harus memperhatikan proses yang dilakukan.

Peraturan Menteri  Pendidikan Nasional RI NO. 1 TAHUN 2007 TENTANG  Perubahan Peraturan  Menteri  Pendidikan Nasional No.  45 TAHUN 2006 TENTANG UJIAN NASIONAL, untuk  TP 2015/2016, dinyatakan bahwa : KRITERIA PENCAPAIAN KOMPETENSI LULUSAN BERDASARKAN HASIL UN (PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR PENYELENGGARAAN UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016) adalah :

  1. Nilai hasil UN dilaporkan dalam rentang nilai 0 (nol) sampai dengan 100 (seratus), dengan tingkat pencapaian kompetensi lulusan dalam kategori sebagai berikut:
  2. sangat baik, jika nilai lebih dari 85 (delapan puluh lima) dan kurang dari atau sama dengan 100 (seratus);
  3. baik, jika nilai lebih dari 70 (tujuh puluh) dan kurang dari atau sama dengan 85 (delapan puluh lima);
  4. cukup, jika nilai lebih dari 55 (lima puluh lima) dan kurang dari atau sama dengan 70 (tujuh puluh); dan
  5. kurang, jika nilai kurang dari atau sama dengan 55 (lima puluh lima).

Berdasarkan permendikbud ternaru, maka peserta didik lebih dipacu lagi dalam UN, sehingga dapat mencapai nilai terbaik.

Evaluasi pendidikan yang  diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi atau Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota,  Salah satu contohnya adalah dengan diselenggarakannya ulangan umum bersama di mana pihak dinas pendidikan/MKKS menyediakan soal-soal ulangan umum dan disebarkan ke seluruh sekolah penyelenggara yang ada di wilayah tersebut dengan tujuan untuk mengukur keberhasilan hasil belajar siswa.

Kalau kita tinjau dari pelaksanaan ulangan umum bersama ini makaakan kita temukan beberapa hal yang sepertinya bertentangan dengan prinsip MBS (Managemen Berbasis Sekolah) dan juga dengan pelaksanaan KTSP. Seperti contohpaket soal yang akan digunakan dalam ulangan umum bersama ini.Pihak dinas pendidikan menyerahkan pembuatan soal-soal ulangan umum ini kepada MGMP. Dengan model soal tunggal dan kelas yang dianggap homogen tentunya proses evaluasi belajar mungkinakan cukup sulit dilakukan apabila mengacu pada KTSP masing-masing sekolah, dan hal ini berujung pada keengganan guru dalam melaksanakan kegiatan koreksi, karena materi pelajaran yang diberikan mungkin akan ada perbedaan dengan yang diberikan pada sekolah masing-masing. Belum lagi kalau melihat proses pembuatan soal yang dilakukan oleh MGMP mata pelajaran terkait, kesan yang paling tepat dimunculkan adalah tidak ada keseriusan.

Dan jika proses yang terjadi pada awalnya adalah sedemikian, maka dapat dipastikan maka hasil yang akan diharapkan ya tidak ada keseriusan tersebut. Yang kemudian terjadi pada pemikiran adalah, apa gunanya penyelenggaraan ulangan umum bersama ini.Jika memang pengkodisian yang terjadi adalah sedemikian, adakah motif-motif lain dari dinas pendidikan/MKKS dalam penyelenggaraan ulangan umum bersama ini. Adakah ini hanyalah usaha untuk meminimalkan pembiayaan ulangan umum sekolah, yang memang logikanya, jika ditanggung oleh banyak sekolah tentunya akan lebih murah dibanding diselenggarakan secara mandiri, ataukan usaha pencarian dana kesejahteraan bagi MKKS, atau entahlah apa. Tapi yang jelas, jika profesionalisme guru tetap tidak diakui baik secara nasional maupun oleh kepala sekolah lewat MKKS-nya, maka tidak ada artinya pencanangan guru sebagai pekerjaan profesional, dan sertifikasi hanyalah usaha untuk menambah kesejahteraan guru saja, bukan berujung pada profesionalisme.

Pada pelaksannan evaluasi yang dilaksanakan oleh dinas pendidikan berupa :

  1. Ulangan umum bersama
  2. Ujian sekolah

Ujian sekolah merupakan mata rantai dari ujian akhir siswa yang berbarengan dengan pelaksanaan ujian nasional yang berfungsi juga sebagai penentu kelulusan siswa. Ujian sekolah ini terkadang hanya dianggap sebagai pelengkap ujian nasional saja. Hal ini dikarenakan pemberian nilai ujian diberikan oleh pihak sekolah/guru yang dianggap dapat dikompromikan agar siswa memiliki nilai yang memadai sebagai syarat kelulusan.

Mungkin pada tingkat inilah merupakan evaluasi yang palingsesuai dan paling adil. Hal ini dikarenakan evaluasi dilaksanakan oleh sekolah/guru dari siswa tersebut sesuai dengan materi pelajaran yangmereka peroleh dan disesuaikan dengan keadaan siswa. Pihak guru/sekolahlah yang paling tahu tentang apa yang harus dilaksanakanpada evaluasi ini dan merekalah yang paling tahu akan keadaan yang sesungguhnya pada siswa-siswinya.

Proses pelaksanaan evaluasi di tingkat sekolah biasanya berupa :

  1. Evaluasi harian
  2. Evaluasi tengah semester
  3. Evaluasi akhir semester

Pada pelaksanaannya jenis-jenis evaluasi tidak hanya yang menyangkut aspek kognitif saja, melainkan menyangkut juga aspek psikomotorik dan afektif, sehingga sedikit banyak evaluasi ini akanbersifat lebih komprehensif, walaupun tentu saja tidak semua evaluator/guru mempunyai komitmen yang sama untuk melaksanakan ketiga jenis evaluasi ini.

Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. (dikutip dari Bloom et.all 1971). Stufflebeam et.al 1971 mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menggambarkan, memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.

Evaluasi sendiri memiliki beberapa prinsip dasar yaitu ;

  1. Evaluasi bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembelajaran bagi masyarakat.
  2. Evaluasi adalah seni, tidak ada evaluasi yang sempurna, meski dilakukan dengan metode yang berbeda.
  3. Pelaku evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan tertentu. Evaluator tidak berwennag untuk memberikan rekomendasi terhadap keberlangsungan sebuah program. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif.
  4. Penelitian evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan.
  5. Evaluator tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya.
  6. Evaluasi adalah proses, jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi.
  7. Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup, hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi.
  8. Evaluasi akan mantap apabila dilkukan dengan instrumen dan teknik yang aplicable.
  9. Evaluator hendaknya mampu membedakan yang dimaksuddengan evaluasi formatif, evaluasi sumatif dan evaluasi program.
  10. Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat, bukan terpaku padaangka soalan tes.

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu, input, transformasi dan output. Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran.

Transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu ; guru, media dan bahan beljar, metode pengajaran, sarana penunjang dan sistem administrasi. Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran.

Evaluasi pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu ;

  1. Fungsi selektif
  2. Fungsi diagnostik
  3. Fungsi penempatan
  4. Fungsi keberhasilan

Maksud dari dilakukannya evaluasi adalah ;

  1. Perbaikan sistem
  2. Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat
  3. Penentuan tindak lanjut pengembangan

Dalam penyelenggaraan evaluasi maka kita harus memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Keterpaduan
  2. Evaluasi harus dilakukan dengan prinsip keterpaduan antara tujuan intrusional pengajaran, materi pembelajaran dan metode pengjaran.
  3. Keterlibatan peserta didik
    Prinsip ini merupakan suatu hal yang mutlak, karena keterlibatan peserta didik dalam valuasi bukan alternatif, tapi kebutuhan mutlak.
  4. Koherensi
    Evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaranyang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur.
  5. Pedagogis
    Perlu adanya tool penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa.
  6. Akuntabel
    Hasil evaluasi haruslah menjadi alat akuntabilitas atau bahan pertnggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seperti orangtua siswa, sekolah, dan lainnya.

 

  1. Penilaian oleh Pendidik

Berdasarkan Permen Nomor   20 Tahun 2007 Tanggal  11 Juni 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan dalam  penilaian oleh pendidik:

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan, bertujuanuntuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Penilaian tersebut meliputi kegiatan sebagai berikut:

  1. menginformasikan silabus mata pelajaran yang di dalamnya memuat rancangan dan kriteria penilaian pada awal semester.
  2. mengembangkan indikator pencapaian KD dan memilih teknik penilaian yang sesuai pada saat menyusun silabus mata pelajaran.
  3. mengembangkan instrumen dan pedoman penilaian sesuai dengan bentuk dan teknik penilaian yang dipilih.
  4. melaksanakan tes, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan.
  5. mengolah hasil penilaian untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik.
  6. mengembalikan hasil pemeriksaan pekerjaan peserta didik disertai balikan/komentar yang mendidik.
  7. memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran.
  8. melaporkan hasil penilaian mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada pimpinan satuan pendidikan dalam bentuk satu nilai prestasi belajar peserta didik disertai deskripsi singkat sebagai cerminan kompetensi utuh.
  9. melaporkan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama dan hasil penilaian kepribadian kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhir semester akhlak dan kepribadian peserta didik dengan kategori sangat baik, baik, atau kurang baik.

Dalam pelaksaan penilaian oleh pendidik ada beberapa masalah yang dijumpai misalnya tidak semua guru:

  1. menginformasikan silabus mata pelajaran yang di dalamnya memuat rancangan dan kriteria penilaian pada awal semester.
  2. mengembangkan indikator pencapaian KD dan memilih teknik penilaian yang sesuai pada saat menyusun silabus mata pelajaran.
  3. mengembangkan instrumen dan pedoman penilaian sesuai dengan bentuk dan teknik penilaian yang dipilih.
  4. mengembalikan hasil pemeriksaan pekerjaan peserta didik disertai balikan/komentar yang mendidik.

BAB IV

KESIMPULAN

Evaluasi menjadi hal yang penting dalam proses belajarmengajar, karena tanpa evaluasi akan susah sekali mengukur tingkatkeberhasilannya.

Evaluasi pendidikan merupakan proses yang sistematis dalamMengukur tingkat kemajuan yang dicapai siswa, baik ditinjau darinorma tujuan maupun dari norma kelompok serta Menentukan apakahsiswa mengalami kemajuan yang memuaskan kearah pencapaiantujuan pengajaran yang diharapkan.

Evaluasi memegang peranan penting karena hasil evaluasi menentukan sejauh mana tujuan dapat dicapai. Dan sebuah hasilevaluasi diharapkan dapat membantu pengembangan, implementasi, kebutuhan suatu program, perbaikan program, pertanggung jawaban,seleksi, motivasi, menambah pengetahuan, serta membantu mendapat dukungan dari mereka yang terlibat dalam program tersebut.Evaluasi,khususnya dalam bidang pendidikan diharapkan dapat memperbaiki sistem pendidikan kita yang sering berubah dan tidak seimbang, kurikulum yang kurang tepat, serta mata pelajaran yang terlalu banyak dan tidak terfokus. secara umum evaluasi (evaluation) merupakan alat(tool) dalam mengukur sejauhmana tujuan yang kita inginkan sudah tercapai. Dalam dunia pendidikan, evaluasi merupakan hal mutlakdalam melihat kinerja (performance) pelaku pendidikan, utamanyasiswa didik. Sistem evaluasi yang dikembangkan sangat mempengaruhi arah dan tujuan pendidikan itu sendiri. Evaluasi telah memegang peranan penting dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :

  • Membuat kebijakan dan keputusan
  • Menilai hasil yang dicapai para pelajar
  • Menilai kurikulum
  • Memberi kepercayaan kepada sekolah
  • Memonitor dana yang telah diberikan
  • Memperbaiki materi dan program pendidikan

DAFTAR PUSTAKA

Nana Sudjana, Ibrahim, 2007,Penelitian dan Penilaian Pendidikan,Sinar Baru Algesindo

Departemen Pendidikan Nasional, 2000, Penilaian dan Pengujian Untuk Guru.

Permen Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik IndonesiaNomor  20 Tahun 2007

http//www.evaluasipendidikan.blogspot.co diakses 25 Mei 2011

http://www.scribd.com/doc/24001227/evaluasi-pendidikan diakses 25 Mei 2011

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK  INDONESIA NOMOR 144 TAHUN 2014 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK DARI SATUAN PENDIDIKAN DAN PENYELENGGARAAN UJIAN SEKOLAH/MADRASAH/PENDIDIKAN KESETARAAN DAN UJIAN NASIONAL

 

 

 

Views All Time
Views All Time
3409
Views Today
Views Today
1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY