Masalah-masalah yang dihadapi guru di sekolah dalam pelaksanaan evaluasi dan pemecahannya

2
4616

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pada zaman globalisasi ini, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sudah tidak terbendung lagi. Perkembangan ipteks mempengaruhi kehidupan manusia sehingga menuntut adanya peningkatan kualitas sumberdaya manusia sebagai bagian yang terintegrasi dari perkembangan ipteks itu sendiri. Perkembangan ipteks banyak diawali dari bangku sekolah. Oleh sebab itu, guru sebagai agen pembelajaran di dalam kelas dituntut untuk selalu meningkatkan kualitas pembelajarannya.

Peningkatan kualitas pembelajaran merupakan konskuensi logis dari perkembangan ipteks yang sangat pesat. Perkembangan ipteks mengharuskan penyesuaian dan peningkatan proses secara berlanjut dan terus menerus. Hal ini diikuti dengan perlunya mengadakan pemutahiran strategi dan konsep-konsep  pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri.

 Pendidikan bertujuan untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi fisik, mental maupun emosional. Upaya peningkatan mutu pendidikan haruslah dilakukan dengan menggerakkan seluruh komponen yang menjadi subsistem dalam suatu sistem  mutu pendidikan. Indikator mutu pendidikan tersebut, yakni pembelajaran yang bermutu sekaligus bermakna, sebagai pemberdayaan kemampuan (ability) dan kesanggupan (capability) peserta didik.

Sejak lahirnya kurikulum PPSP (Proyek perintis sekolah pembangunan) yang kemudian disusul oleh lahirnya kurikulum tahun 1975, telah mulai tertanam kesadaran pada para guru bahwa tujuan pelajaran harus dirumuskan sebelum proses belajar mengajar berlangsung. Tujuan tersebut harus diberitahukan kepada para siswa. Jadi, tujuan tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dirahasiakan. Apabila dalam pengajaran tidak disebutkan tujuannya, siswa tidak akan tahu mana pelajaran yang penting dan mana yang tidak (Arikunto, 2009).

Upaya peningkatan kualitas pembelajaran hendaknya dilakukan dengan paradigma pemikiran RAI : research-action-improvement, yang bersifat bottom-up, realistic-pragmatic yang diawali dengan diagnosis masalah secara nyata yang diakhiri dengan sebuah perbaikan (improvement). Upaya perbaikan kualitas pembejaran demikian menuntut adanya inisiatif dan keinginan dari dalam diri untuk mau melakukan perbaikan (Tantra, 2005).

Prosedur diagnosis masalah bisa dilakukan dengan menganalisis situasi kini yang sedang terjadi (present situation analysis). Ada tiga sumber informasi yang diperoleh dari analisis situasi, yaitu (1) guru; (2) kepala sekolah/kepala UPP; dan (3) proses belajar mengajar itu sendiri. Berangkat dari ketiga sumber ini, informasi  dari ketiga sumber tersebut  akan dikumpulkan dan dipakai dasar untuk mencari dan menentukan pemecahan masalahnya (Rindjin, Sarna, Padmadewi, 2006).

Diagnosis masalah pembelajaran merupakan langkah awal yang dipakai sebagai dasar untuk menentukan upaya pemecahan masalah yang akan diambil agar pemecahan yang diambil tepat sasaran. Hal ini sangat penting bagi guru dalam usahanya untuk mencari solusi terhadap masalah yang sedang dihadapi. Menyadari pentingnya informasi tentang masalah yang dialami guru, maka penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil masalah yang dialami oleh guru SD dalam melaksanakan pembelajaran. Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi guru sendiri maupun pihak terkait lainnya untuk mengetahui masalah riil yang dialami oleh guru. Dengan diketahuinya masalah yang mereka alami, maka diharapkan  strategi pemecahan masalah akan lebih mudah untuk ditentukan sehingga pada akhirnya kualitas pembelajaran akan bisa ditingkatkan.

  1. Tujuan Makalah

Makalah dibuat untuk mengetahui masalah yang dihadapi guru disekolah dalam pelaksanaan evaluasi disekolah dan pemecahannya.

Manfaat Makalah

Makalah ini bermanfaat untuk memberikan informasi dan pemahaman mengenai masalah-masalah yang duhadapi guru disekolah dalam pelaksanaan evaluasi.

BAB II

PEMBAHASAN

 Masalah- masalah yang dihadapi guru dalam pelaksanaan evaluasi

  1. Masalah –masalah yang berasal dari siswa

Masalah yang dihadapi oleh guru dalam pelaksanaan evaluasi bisa diklasifikasikan berdasarkan tingkatannya sehingga ada masalah pada tataran makro dan masalah pada tataran mikro.  Masalah- masalah yang dialami oleh guru tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut.

  1. Perkembangan media hiburan yang kurang terkendali, seperti acara TV, play station dan sebagainya.
  2. Buku penunjang masih banyak mengandung miskonsepsi, terutama buku matematika dan sain.
  3. Media untuk mengatasi miskonsepsi sangat kurang.
  4. Tayangan di media masa (seperti film sejarah) sering membingungkan anak.
  5. Sistem guru kelas, sehingga guru harus menyiapkan banyak rancangan pembelajaran.
  6. Pelatihan sangat jarang.
  7. Pelatihan yang diberikan tidak efektif.
  8. Sistem pelatihan perlu disempurnakan (mestinya disertai dengan aplikasi di lapangan.
  9. Jarak rumah dan sekolah jauh.
  10. Keadaan ekonomi orang tua kurang.
  11. Perhatian orang tua kurang.
  12. Waktu belajar anak kurang karena masih harus membantu orang tua.
  13. Komunikasi sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa daerah sehingga menghambat pemahaman siswa tentang buku yang sebagian besar berbahasa Indonesia.
  14. Kemampuan untuk menyediakan materi pembelajaran sendiri masih terbatas.
  15. Kondisi anak didik di berbagai aspek amat beragam.
  16. Waktu guru terbatas karena harus melakoni kehidupan bermasyarakat.
  17. Siswa di kelas terlalu banyak fasilitas penunjang belajar kurang  karena sosek orang tua siswa   kurang  dan kadang-kadang buku2 di sekolah  tidak    boleh dibawa pulang.
  18. Perhatian orang tua terhadap dunia   pendidikan renda.
  19. Memanfaatkan anak untuk membantu orang tua bekerja  mencari nafkah.

Masalah pada tataran mikro adalah masalah yang dialami guru secara langsung pada saat melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Kalau memperhatikan ringkasan di atas, tampak bahwa masalah yang dialami oleh guru cukup kompleks karena masalah guru terjadi pada semua tahapan pembelajaran, yaitu ada pada tahapan perencanaan, pelaksanaan proses pembelajaran maupun dalam tahap melakukan evaluasi.

Pada tahapan perencanaan, guru mengakui bahwa mereka mengalami masalah dalam mengaitkan  standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan asesmen. Di samping itu, berdasarkan hasil wawancara penulis dengan beberapa guru, mereka juga belum bisa membedakan beberapa istilah khusus yang digunakan dalam penulisan RP (Rencana Pembelajaran), seperti halnya membedakan istilah standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD). Demikian juga halnya dengan istilah asesmen. Para guru belum bisa membedakan kata asesmen dan tes, sehingga mereka merasa belum yakin, apakah informasi yang ditulis dalam RPP  berkenaan dengan istilah-istilah tersebut sudah tepat atau belum. Hal ini sebenarnya merupakan masalah yang mendasar yang melandasi tahapan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru berikutnya.

Memperhatikan masalah riil yang dialami oleh guru, dapat dibayangkan bahwa masalah yang dialami oleh  guru sungguh sangat   prinsip dan mendasar karena perencanaan merupakan awal suksesnya proses pembelajaran. Clark dan Lampert (1986 dalam Arend, 2001) menyatakan bahwa perencanaan guru adalah faktor penentu terhadap apa yang akan diajarkan oleh guru. Oleh sebab itu kalau perencanaan yang dibuat guru belum benar maka sulit mengharapkan bahwa pembelajaran akan membuahkan hasil yang maksimal.

Pada tahapan pelaksanaan, guru menyadari bahwa mereka banyak mengalami masalah terutama dalam mengelola kelas untuk jumlah siswa yang banyak dan menghadapi siswa yang heterogen. Guru juga mengakui bahwa mereka kurang kreatif sehingga banyak di antara mereka kurang terampil untuk mengatur strategi pembelajaran secara berkelompok, serta merasa tidak memahami berbagai strategi pembelajaran yang inovatif yang bisa digunakan untuk memvariasikan strategi pembelajaran di dalam kelas. Ketika mereka ditanya lebih lanjut sehubungan dengan usaha apa yang telah mereka lakukan dengan kenyataan tersebut, mereka mengatakan bahwa mereka mengajar secara klasikal, lebih banyak menterjemahkan secara langsung kalau siswa tidak bisa memahami kata-kata yang mereka anggap sulit dan menyuruh siswa untuk mengisi lembar kerja siswa (LKS) yang dimiliki oleh siswa. Masalah ini juga disebabkan oleh minimnya fasilitas yang berupa alat peraga yang bisa mereka gunakan untuk menunjang pembelajaran di dalam kelas.

Dalam hal ini terlihat bahwa kurangnya alat peraga yang bisa digunakan di dalam kelas adalah karena minimnya pengetahuan mereka tentang strategi pembelajaran sehingga mereka tidak tahu media apa yang harus mereka gunakan dalam menjelaskan suatu konsep atau saat membaca maupun saat siswa melakukan aktivitas lain. Di samping itu mereka sangat kurang kreatif untuk bisa memanfaatkan barang-barang sekitar mereka sebagai alat bantu mengajar.

Memperhatikan hasil analisis terhadap data hasil kuesioner dan wawancara dapat dinyatakan bahwa guru memiliki pengetahuan dan keterampilan yang amat rendah dalam hal mengelola kelas. Hal ini tercermin dari ketergantungan guru yang terlalu banyak terhadap lembar kerja siswa (LKS) yang dibawa siswa, dan guru seolah-olah kurang kreativitas untuk mampu keluar dari ketergantungan yang pasif. Sesungguhnya pekerjaan terbesar guru adalah mengembangkan masyarakat belajar yang demokratis,  yaitu semua siswa dinilai, dihargai dan dimotivasi untuk saling bekerjasama (Arend, 2001 : 156). Oleh sebab itu, seorang guru yang terampil akan mampu untuk menciptakan hubungan otentik dengan siswa mereka dan mengembangkan apa yang dikenal dengan ‘ethic of care’ dan keterampilan mengelola kelas memerlukan keterampilan ini. Kalau kemudian ditemukan bahwa guru tidak mampu untuk mengelola kelasnya dengan baik, bisa dibayangkan bahwa suasana kelas akan sangat kering, monoton, dan menjemukan. Di samping itu guru akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan dan memaksimalkan proses pembelajaran yang bervariasi dan mampu untuk mengakomodasikan keberagaman kemampuan siswa sesuai dengan filosofi pempelajaran yang berasaskan multiple intelligence. Hal ini tentu memerlukan perhatian yang serius dari pihak terkait agar kualitas proses pembelajaran bisa ditingkatkan.

Masalah lain yang juga dirasakan guru adalah dalam melakukan asesmen. Guru menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui berbagai teknik dan bentuk asesmen yang bisa dipakai oleh guru di dalam kelas. Demikian juga halnya dengan cara/teknik asesmen yang dipakai untuk mengukur semua domain (kognitif, psikomotor maupun afektif). Ketika ditanya jenis tes apa yang biasanya digunakan oleh guru dalam pembelajaran, mereka menyebutkan beberapa jenis tes yang semuanya merupakan ‘recognition test’ yang hanya menilai kemampuan pasif siswa. Padahal jenis tes yang semestinya lebih banyak digunakan dalam kaitannya pembelajaran berbasis kompetensi adalah asesmen otentik (O’Malley dan Pierce, 1996).

Terlepas dari masalah-masalah yang dialami oleh guru, ada hal positif yang dirasakaan yaitu adanya kesadaran  bahwa mereka merasa dan menyadari bahwa pengetahuan mereka sangat minim dalam hal asesmen, sehingga mereka menyarankan dan momohon kepada pihak terkait agar pengetahuan mereka di bidang ini ditingkatkan melalui pelatihan-pelatihan. Hal ini perlu disambut baik karena dengan adanya kesadaran ini, akan memudahkan pihak terkait untuk memberikan pembaharuan-pembaharuan.

 

  1. Masalah –masalah yang berasal dari guru

Guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama, dan utama. Figur yang satu ini akan senantiasa menjadi sorotan strategis ketika berbicara masalah pendidikan, karena guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam sistem pendidikan. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang diselenggarakan secara formal di sekolah. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Guru merupakan pemegang peranan utama dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan peserta didik atau dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

Guru adalah kurikulum berjalan. Sebaik apa kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung kemampuan guru, semuanya akan sia-sia. Guru kompeten dan efektif, tanggung jawab utamanya mengawal perkembangan peserta didik sampai suatu titik maksimal. Tujuan akhir seluruh proses pendampingan guru adalah tumbuhnya pribadi dewasa yang utuh. Tanpa guru kurikulum itu hanyalah benda mati yang tiada berarti.

Dalam pendidikan, pendidik mempunyai tugas ganda, yaitu sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Sebagai abdi negara, pendidik dituntut melaksanakan tugas-tugas yang menjadi kebijakan pemerintah dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan sebagai abdi masyarakat, pendidik dituntut berperan aktif mendidik masyarakat dari belenggu keterbelakangan menuju masa depan yang gemilang. Dan untuk dapat melaksanakan hal itu semua seorang pendidik harus memenuhi persyaratan dan kompetensi juga profesional. Kompetensi dasar (basic competency) bagi pendidik ditentukan oleh tingkat kepekaannya dari bobot potensi dasar dan kecenderungan yang dimilikinya.

Kualitas para pendidik dapat diketahui dari tingkat profesionalisme mereka dalam merealisasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas mengajar para peserta didik. Mereka rata-rata kesulitan mengadakan inovasi-inovasi pembelajaran di sekolah-sekolah yang mereka. Para guru tersebut juga banyak mengalami kendala-kendala baik dalam pelaksanaan supervisi karena pelaksanaan hanya menyentuh aspek administrasi bukan pembinaan profesionalisme.

Tujuan pembelajaran bukan sekedar rumusan dengan kata-kata yang indah, tetapi harus dapat menjawab masalah pokok terkait dengan konsep yang ideal yang menjadi tujuan dan pandangan hidup masyarakat. Dalam proses belajar mengajar, kadang-kadang guru tidak memiliki tujuan yang jelas. Guru mengajar hanya berdasarkan apa yang tertuang di dalam buku paket. Tujuan hanya mencakup salah satu domain saja, yakni aspek kognitif saja. Begitu juga masih banyak guru yang belum bisa merumuskan tujuan pembelajaran, sehingga rumusan tujuan terkesan bukan tujuan siswa tetapi tujuan guru. Jika dihadapkan pada guru-guru yang demikian, maka jelas mereka memerlukan bantuan dengan supervisi.

Masalah dalam memilih metode mengajar

Metode adalah alat  komunikasi antara guru dan murid pada waktu belajar. Komunikasi itu terjadi melalui penerapan panca indra. Banyak metode yang dapat dipilih oleh guru untuk digunakan sebagai alat komunikasi belajar mengajar, diantaranya adalah ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas, demonstrasi, kerja kelompok, pemecahan masalah, karya wisata, simulasi, bermain peran, studi kasus dan inkuiri. Untuk menerapkan dan memilih metode-metode tersebut, guru berpegang pada keyakinan bahwa dengan metode yang dipilih, tujuan belajar dapat tercapai secara maksimal. Oleh karena itu, guru dapat mengkombinasikan beberapa metode untuk diterapkan dalam satu paket pembelajaran. Namun kenyataan yang terjadi masih banyak guru yang mendominasi kegiatan belajar dengan metode ceramah. Padahal sebagai rambu-rambu, metode ceramah hanya bisa efektif untuk digunakan sebagai metode mengajar tidak lebih dari 15 menit. Oleh karena itu, perlu untuk mengkombinasikannya dengan metode-metode yang lain.

Masalah dalam menggunakan sumber belajar

Siswa belajar dengan menggunakan sumber. Model belajar yang tradisional hanya mengandalkan pada sumber yang berasal dari guru. Sumber belajar tidaklah hanya guru. Ada banyak sumber yang dapat dimanfaatkan untuk pengalaman belajar. Sumber-sumber itu ada yang sengaja direncanakan, misalnya buku, jurnal, peta, perpustakaan dan sebagainya. Ada juga sumber yang tidak sengaja direncanakan tetapi dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran (lingkungan, baik fisik maupun sosial), misalnya perkebunan, sawah, sungai, masyarakat, petani, pedagang dan sebagainya.

Masalah dalam membuat dan menggunakan alat peraga

Alat peraga digunakan sebagai pembantu untuk memudahkan proses terjadinya pengalaman belajar secara maksimal. Menurut bentuknya, alat peraga dapat berupa media dua dimensi dan media tiga dimensi. Menurut fungsinya, alat peraga bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu auditif, visual, dan audio visual. Guru dapat memilih dan menggunakan alat peraga tersebut dengan cara membeli maupun dengan cara membuat sendiri alat peraga yang sederhana.

Masalah dalam merencanakan program pengajaran

Setiap guru harus membuat program pengajaran. Program pengajaran dapat disusun dan direncanakan berdasarkan waktu pelajaran. Program pengajaran hendaknya dikembangkan berdasarkan kurikulum dan ditulis dengan sistem dan format yang disepakati bersama oleh seluruh guru, sehingga memudahkan kepala sekolah untuk melakukan pengecekan dan penilaian.

Masalah dalam merencanakan dan melaksanakan evaluasi

Untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa, guru harus melaksanakan evaluasi proses belajar mengajar secara kontinyu. Untuk itu guru harus menyusun program dan alat evaluasi yang tepat.

  1. Problema Pemecahan masalah-masalah evaluasi yang dihadapi guru

Peningkatan mutu pembelajaran dan profesionalisme guru dalam kinerjanya sangat berkaitan erat dengan keefektifan layanan supervisi. Maka dari itu, diharapkan supervisor mampu mendorong guru untuk meningkatkan kualitasnya dengan peningkatan motivasi kerja guru, karena bagaimanapun motivasi kerja guru sangat berperan dalam meningkatkan kualitas dan profesionalitas guru dalam mengajar. Keefektifan supervisi di sekolah tertentu tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab kepala sekolah, karena selain sebagai pemimpin di sekolah tersebut, kepala sekolah juga merupakan supervisor bagi guru-guru di sekolah tersebut.

Berbagai teknik supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah, nampaknya dapat membawa dampak negatif bagi guru-guru. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Olivia, sebagaimana yang dikutip Mufidah, “observasi kelas dan wawancara supervisi pada hakekatnya dapat menyebabkan berbagai bentuk kecemasan atau ketakutan terhadap guru. Bahkan dapat membawa dampak pengalaman traumatik terhadap beberapa guru”. Maka dari itu, kepala sekolah harus mampu mengadakan supervisi dengan mengembangkan teknik yang tidak menimbulkan kecemasan-kecemasan tersebut. Sehingga, disinilah hubungan interpersonal antara kepala sekolah dengan guru memberi jalan keluar. Dengan adanya wawancara interpersonal, maka guru akan mampu melakukan perbaikan pengajaran, baik yang dapat diamati, maupun perencanaan untuk masa mendatang.

Sementara itu, sikap guru terhadap supervisi, sebagaimana kajian yang dilakukan oleh Neagley dan Evans, yang dikutip oleh Mufidah, menyatakan berbagai pernyataan, antara lain:

  1. Prinsip-prinsip yang sesuai dengan perubahan sosial dan dinamika kelompok
  2. Para guru menghendaki supervisi dari kepala sekolah, sebagaimana yang seharusnya dikerjakan oleh tenaga personil yang berjabatan supervisor.
  3. Kepala sekolah tidak melakukan supervisi dengan baik.
  4. Semua guru membutuhkan supervisi dan mengharapkan untuk disupervisi
  5. Para guru lebih menghargai dan menilai secara positif perilaku supervisor yang hangat, saling mempercayai, bersahabat dan menghargai guru.
  6. Supervisi dianggap bermanfaat bila direncanakan dengan baik, supervisor menunjukkan sifat membantu dan menyediakan model-model pengajaran yang dipandang efektif.
  7. Supervisor memberikan peran serta yang cukup tinggi kepada guru untuk pengambilan keputusan dalam wawancara supervisi.
  8. Supervisor mengutamakan pengembangan ketrampilan hubungan insani, seperti halnya dengan ketrampilan teknis.
  9. Supervisor seharusnya menciptakan iklim organisasional yang terbuka yang memungkinkan pemantapan hubungan yang saling menunjang.

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa guru merespon dan mempunyai sikap yang terbuka terhadap supervisi. Bahkan, guru tersebut membutuhkan supervisi untuk meningkatkan kinerjanya.

Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah mempunyai peran untuk meningkatkan kinerja guru,  guru mempunyai banyak masalah, karena itu, kinerja guru  perlu ditingkatkan dengan diadakannya supervisi yang dilakukan langsung oleh kepala sekolah.

Dalam melakukan supervisi kepada guru, kepala sekolah biasanya memakai teknik wawancara atau dialog dengan guru tersebut. Dimana guru akan menjadi lebih terbuka mengemukakan masalah-masalah yang dihadapinya, lalu kemudian kepala sekolah menanyakan tentang idenya untuk mengatasi masalah yang dihadapinya tersebut. Di samping itu, kepala sekolah juga bisa mengemukakan solusi untuk guru tersebut jika hal itu diperlukan dan guru tidak dapat menemukan sendiri solusi terhadap masalahnya tersebut.

Sementara itu, supervisi dilakukan untuk meningkatkan motivasi kerja guru sehingga kinerja guru dalam mengajar juga meningkat. Kinerja yang dapat ditingkatkan adalah kinerja dalam mendesain pembelajaran dan juga kinerja dalam proses pembelajaran. Kepala sekolah atau madrasah, sebagai supervisor harus mampu memahami permasalahan yang dihadapi oleh guru, baik dalam mendesain pembelajaran ataupun ketika proses pembelajaran. Kepala sekolah hendaknya mampu memberikan solusi atau membicarakan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh guru tersebut secara bersama-sama antara supervisor dengan guru tersebut.

Dalam mengadakan supervisi, biasanya kepala sekolah juga menerapkan teknik kelompok, yaitu dengan rapat dan juga workshop atau seminar. Namun biasanya teknik ini tidak hanya diperuntukkan untuk guru satu bidang studi saja, melainkan seluruh guru yang ada di sekolah tersebut. Guru mestinya menyadari bahwa dengan adanya supervisi, maka kualitas dan kuantitas kinerjanya dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, guru mestinya sangat terbuka dalam menerima supervisi. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu guru menutup diri dari pelaksanaan supervisi atau bahkan guru takut dengan adanya supervisi tersebut.

Guru atau pendidik yang ideal dan profesional adalah guru atau pendidik yang siap disupervisi kapanpun, dimanapun dan oleh siapapun. Guru siap menerima kritik yang datang kepadanya, baik dari seorang siswa maupun dari teman sejawat dan pengarahan dari seorang supervisor untuk membenahi atau melengkapi kekurangan yang ada dalam dirinya. Karena setiap manusia pastilah mempunyai kekurangan, dan semakin profesional seorang manusia tentulah ia semakin menyadari dan berusaha menutupi kekurangannya tersebut.

Guru atau pendidik yang ideal harus mempunyai berbagai pengetahuan dan juga menjadi sosok idola di depan anak didiknya. Di samping itu, guru atau pendidik zaman sekarang juga harus memiliki sertifikasi atau penghargaan keprofesionalisasiannya dan juga siap untuk disupervisi ketika sedang melakukan pembelajaran, dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun.

  1. Manfaat diadakan revisi dalam pemecahan masalah-masalah Evaluasi

Supervisi terhadap guru salah satu tujuannya adalah untuk membina dan membantu guru dalam mengatasi berbagai masalah yang dialaminya sehingga dapat meningkatkan kualitas guru dalam bekerja. Selain itu, juga bertujuan untuk memberikan kepuasan terhadap guru karena masalah-masalah yang dihadapinya dapat terpecahkan. Oleh karena itu, tugas seorang supervisor dan juga supervisee (guru) untuk saling bekerja sama sehingga kepuasan kerja itu dapat terwujud.

Membantu Guru-Guru Yang Belum Berpengalaman

Kebanyakan guru belum berpengalaman. Hal ini merupakan tantangan bagi supervisor. Ciri-ciri guru yang belum berpengalaman, adalah pemalu, canggung dalam pergaulan dengan teman sejawat, dan tidak merasa aman dalam melaksanakan tugas. Mereka berharap mendapatkan pelayanan dan pendekatan dari orang yang lebih berpengalaman.

Bantuan yang dapat diberikan kepada guru tersebut antara lain: 1) membantu memecahkan problema yang dihadapi; dalam mengajar dan merencanakan tugas-tugas mengajar, 2) membantu mereka untuk mengenal murid-murid dan dapat mengidentifikasikan diri dengan murid. Identifikasi ini sering keliru. Seri guru baru menyangka mengidentifikasi diri dengan murid, berarti bergaul seperti teman murid dan berlaku sebagai murid. Identifikasi seperti itu mengakibatkan pribadi guru lebur dan hilanglah wibawanya, 3) mengantarkan guru baru ke dalam suasana pergaulan antar guru.

Teknik yang paling tepat untuk membantu guru adalah program orientasi percakapan pribadi atau mengikut sertakan dalam panitia kerja atau kelompok diskusi. Bimbingan dan pengarahan yang tepat akan sangat membantu pertumbuhan guru baru. Namun perlu diperhatikan bagi seorang supervisor, bahwa perhatian atau perlakuan terhadap seorang guru juga harus mempertimbangkan guru-guru yang lain, agar tidak menimbulkan rasa iri. Maka dari itu, kepala sekolah sebagai seorang supervisor juga harus bisa berbuat adil kepada bawahannya dan dalam membina guru yang baru dan belum berpengalaman tidak boleh mengabaikan guru-guru yang sudah ada. Tanpa sikap dan sifat adil, maka ketimpangan dan kecemburuan akan selalu terjadi.

Membantu Guru-Guru yang Sedia Membantu Guru yang Tidak Hadir

Salah satu masalah yang sering dihadapi kepala sekolah ialah masalah guru yang tidak hadir pada jam pelajaran yang ditentukan. Pada saat sekarang ini biasanya sebab-sebab ketidakhadiran itu bermacam-macam, misalnya karena sakit, halangan-halangan di rumah tangga, tugas-tugas tambahan di luar sekolah, cuti hamil dan sebagainya. Dalam hal ini harus ada kesediaan dan kerelaan dari rekan guru lain untuk mengisi kekosongan itu. Sistem yang sering dipakai adalah sistem piket. Tetapi yang terpenting dalam hal ini ialah penciptaan sekolah yang menyenangkan di mana semua guru merasa saling membantu, tidak ada masalah mengenai waktu-waktu yang kosong.

Di samping itu, kepala sekolah juga harus memberikan motivasi kepada guru yang sering tidak hadir dan juga guru pengganti agar selalu saling membantu dan saling mengisi. Menurut Mulyasa “motivasi merupakan salah satu faktor yang turut menentukan keefektifan kerja”. Maka tanpa motivasi dari kepala sekolah, dorongan untuk giat bekerja tidak ada dan kinerja guru akan semakin tidak efektif, sehingga mutu pendidikan sulit untuk ditingkatkan.

Membantu Guru-Guru Yang Bekerja Kurang Efektif

Sebagaimana manusia, tentu setiap guru mempunyai kelemahan-kelemahan tersendiri. Guru yang mempunyai kelemahan, biasanya menutup dirinya bila ia bersifat introvert. Tetapi ada juga menutupi kelemahan dirinya dengan mengadakan manipulasi tingkah laku, misalnya menarik perhatian orang lain dan bertindak yang menyimpang. Itu terletak pada latihan kebiasaan dan disiplin yang kurang. Ada juga karena ia sendiri kurang pandai waktu belajar di pendidikan guru, kurang cakap mengajar, acuh tak acuh dalam membuat persiapan dan perencanaan tugas-tugas. Mungkin juga oleh karena sukar untuk menyesuaikan diri di rumah atau di masyarakat. Ada pula sebab-sebab bersumber pada emosi, misalnya ketakutan akan kegagalan, merasa tidak aman, tertekan dalam pekerjaan atau terlalu banyak diberi tugas tambahan, terlalu mementingkan diri sendiri.

Semua reaksi jiwa di atas sebenarnya bersumber dari kebutuhan yang tak terpenuhi. Oleh karena itu, harapan untuk memenuhi kebutuhan itu adalah suatu permulaan yang berhasil dari perjalanan seorang supervisor. Teknik yang dipakai adalah percakapan pribadi, karena hal tersebut akan membantu guru mengenal dirinya sendiri. Ketrampilan supervisor untuk menganalisa kasus-kasus kelemahan guru berdasarkan data obyektif. Berdasarkan data obyektif itu, guru dapat melihat dirinya dalam konteks relasi dengan orang lain. Hendaknya jangan memakai praktik-praktik yang bersifat tradisional, seperti rekomendasi agar guru itu dipindahkan, rekomendasi agar guru tersebut mencari pekerjaan lain, dan lain sebagainya.

Metode yang terbaik untuk membantu guru-guru demikian adalah meletakkan hubungan kemanusiaan yang baik, di mana ada saling percaya, saling mengakui, saling menghargai dan saling dapat bekerja sama. Dalam percakapan pribadi, supervisor dapat menimbulkan kepercayaan pada diri sendiri. Orang harus dilatih melihat self concept, konsep tentang dirinya sendiri, ide tentang dirinya. Tugas supervisor adalah memberi kebebasan agar guru dapat menemukan dirinya sendiri. Di samping percakapan pribadi, diskusi bersama, maka intervisitation juga merupakan salah satu teknik yang dapat dilaksanakan. Bagi mereka yang sukar melihat kekurangan dirinya, biasanya dapat belajar dari orang lain.

Untuk menumbuhkan konsep diri, kepala sekolah disarankan bersikap empati, menerima, hangat, dan terbuka, sehingga para tenaga kependidikan dapat mengekplorasikan pikiran dan perasaannya dalam memecahkan masalahnya. Jika kepala sekolah bersikap keras dan tertutup, maka guru atau tenaga kependidikan yang lain, akan malah lari menjauhinya.

Membantu Guru-Guru yang Superior

Guru superior maksudnya guru yang sangat berhasil dalam pelajarannya karena menggunakan cara-cara mengajar yang sesuai dengan kepribadiannya atau dapat diartikan guru yang menggunakan cara-cara yang bermacam secara baik dan berhasil. Biasanya guru yang berhasil baik ini, dipilih sebagai contoh untuk ditiru. Dengan demikian mereka merasa superior.

Guru yang seperti ini hendaknya memperoleh penghargaan, namun jangan diberikan secara langsung, agar tidak menandakan bahwa guru tersebut mendapat pujian. Cara yang lain untuk memberi hadiah adalah dengan memberi tambahan gaji extra, dan lain sebagainya. Dan untuk menghilangkan rasa iri atas dirinya, maka guru-guru yang lain juga diikutkan dalam penilaian supaya lebih obyektif.

Selain itu, kunjungan terhadap guru-guru yang superior akan memberi arti tersendiri. Karena kunjungan yang dilakukan oleh supervisor akan memberi motivasi tersendiri agar guru yang superior tersebut lebih meningkatkan keprofesionalisasiannya. Di samping itu, bagi supervisor juga dapat belajar dari guru yang superior tersebut.

Guru superior adalah guru yang profesional, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan non direktif. Perilaku supervisor adalah mendengarkan, memberanikan, menjelaskan, menyajikan dan memecahkan masalah. Sedangkan teknik yang diterapkan adalah dialog dan mendengarkan aktif. Jadi kepala sekolah hanya mendengarkan dan bahkan belajar dari guru tersebut.

Membantu Guru-Guru Yang Mempunyai Kelemahan Pribadi

Salah satu kelemahan mengajar adalah kelemahan pada pribadi guru. Manifestasi kelemahan tersebut tampak pada:

  1. Gangguan pada suara pada saat berkata-kata misalnya menelan kata-kata, waktu berbicara kurang jelas, suara terlalu lemah, terlalu cepat berbicara dan lain sebagainya.
  2. Gangguan dalam gaya lahiriah dan inti pribadi, misalnya berpakaian terlalu mencolok dan bersolek yang berlebihan atau bahkan terlalu cerewet.
  3. Gangguan watak dan pribadi, misalnya lekas tersinggung, terlalu peka, tidak percaya dan salah pengertian, dan lain sebagainya.

Supervisor dapat menerapkan cara-cara misalnya visitation oleh supervisor agar guru dapat melihat kelemahan dirinya, berdiskusi secara terus terang, atau mungkin dengan menggunakan gangguan tape recorde, agar guru biasa menghadapi gangguan. Tugas supervisor dalam hal ini ialah selalu belajar mengenal pribadi dari seluruh guru agar mampu memberi diagnosa yang tepat dan juga pembinaan kepada guru-guru.

Membantu Guru-Guru yang Kurang Rajin

Guru sering menunjukkan kemalasan, karena tidak ada penghargaan dari kepala sekolah terhadap pekerjaan yang dilakukannya, tidak diikut sertakan dalam segala kegiatan di sekolah, tidak ada kepercayaan dari pimpinan sekolah, tidak mendapat perlakuan yang layak dalam hal promosi. Di samping itu, biasanya juga dipengaruhi oleh permasalahan rumah tangga dan ekonomi yang dihadapinya.

Ciri-ciri guru yang kurang rajin ini antara lain: tidak tertarik terhadap hal-hal yang baru dalam bidang pengembangan pendidikan, tidak pernah membuat catatan persiapan untuk menyajikan pelajaran, tidak pernah mengoreksi pekerjaan murid, menghindari kerja sama dengan orang lain dan cepat-cepat pulang setelah pelajaran.

Maka supervisor haru memberikan bantuan yang berupa hal-hal yang bersifat membangun, misalnya: memberi tanggung jawab kepada guru-guru, memberi kesempatan kepada guru-guru untuk menghayati motivasi dan stimulasi dengan menggunakan teknik-teknik dinamika kelompok, dan mengikut sertakan guru-guru tersebut dalam panitia kerja.

Membantu Guru-Guru yang Kurang Bergairah

Guru yang kurang bergairah mempunyai ciri-ciri antara lain: jarang tersenyum, kurang humor, kurang ramah-tamah, sukar bergaul dengan orang lain, dan seterusnya. Maka dari itu, supervisor harus selalu membawa mereka dalam suasana kegiatan yang terus menerus, memberi penjelasan dan informasi terhadap mereka tentang segala kebijaksanaan dan surat-surat edaran dari sekolah, dan bila terjadi diskusi dan didalamnya debat tidak diambil kesimpulan, maka diskusi dapat terjadi berlarut-larut dan akan menambah ketegangan dan pertentangan saja.

Motivasi juga harus diberikan oleh kepala sekolah kepada guru yang berada dalam keadaan demikian ini. Di samping itu, guru tersebut hendaknya diberi tugas atau beban untuk melakukan suatu pekerjaan yang agak menantang dan apabila berhasil diberi reward.

Membantu Guru-Guru yang Kurang Demokratis

Ciri guru yang kurang demokratis adalah: menolak tanggung jawab bersama, kurang senang pada orang yang bebas mengeluarkan pendapat, mengajar hanya bersifat memberitahukan dan routine, dan terhadap pimpinan hanya meminta untuk menyetujui pendapatnya saja.

Terhadap guru yang seperti ini, kepala sekolah sebagai supervisor sebelum memberi bantuan kepada mereka, terlebih dahulu penulis sarankan untuk melakukan analisa terhadap kepemimpinan yang dilakukan selama ini. Maka berdasarkan hasil analisa tersebut, kepala sekolah memberi motivasi kepada guru tersebut antara lain dengan cara sebagai berikut: 1) mengikut sertakan anggota staf dalam menyusun program kerja sekolah, 2) menghargai pendapat anggota staf baik dalam rapat maupun di luar rapat, 3) mengajak anggota staf memecahkan problema yang dihadapi oleh sekolah. 4) mengajak guru-guru untuk bersama-sama mengevaluasi program pendidikan yang ada di sekolah tersebut.

Membantu Guru-Guru yang Selalu Menentang

Dalam suatu sekolah, terdapat guru yang selalu tidak setuju dan selalu menentang ide yang dikeluarkan atau dikemukakan oleh kepala sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pertentangan ini disebabkan berbagai macam hal. Kadang ada benarnya jika guru tidak setuju dengan pendapat kepala sekolah, hanya cara penyampaian pendapatnya dengan cara-cara yang tidak wajar.

Oleh karena itu, kepala sekolah harus segera menyadari hal itu dan segera berusaha untuk mengatasinya. Hal yang pertama dilakukan adalah instrospeksi diri. Setelah itu, kepala sekolah berusaha mengatasi permasalahan tersebut dengan melakukan beberapa hal ini: 1) menciptakan hubungan kerjasama dengan guru-guru tersebut dalam segala kegiatan sekolah, 2) menciptakan suasana kerja sehingga orang merasa bahwa ia ikut menyumbangkan usaha ke arah perbaikan, 3) mengakui bahwa di luar diri, ada orang lain yang ingin bekerja dan mau membantu.

Membantu Guru-Guru yang Terlalu Lama Bekerja Routine

Kebanyakan guru-guru yang sudah lama bekerja merasa puas dengan pengalaman yang diperolehnya dan ini dianggap suatu hal yang terbaik yang pernah ia lakukan dan berlangsung selama bertahun-tahun. Walaupun di mata publik yang dilakukan oleh guru tersebut merupakan hal yang sudah tidak masanya lagi. Namun mereka sudah menganggap apa dikerjakannya tersebut merupakan hal yang cukup. Tidak ada usaha ke arah perbaikan, bahkan guru sinis terhadap perkembangan dan perubahan yang terjadi. Kurang terbuka dan sensitif terhadap pembaharuan.

Maka kepala sekolah, sebagai supervisor harus merubah cara menatar guru. Mereka dibuat dan diberi pengertian agar menyadari bahwa mereka mengalami perubahan dan profesinya tersebut selalu berkembang. Maka mereka juga harus mengembangkan diri mereka sesuai dengan tuntutan profesi. Guru yang seperti ini, memang sulit untuk dirubah, namun jika dilakukan dengan perlahan dan ulet maka juga akan berhasil.

Membantu Guru-Guru yang Menghadapi Keruwetan dalam Masalah Disiplin

Guru ada kalanya yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan disiplin kelas, sehingga ia mencurahkan sebagian besar waktunya untuk memikirkan cara menerapkan disiplin yang tepat bagi muridnya. Biasanya guru yang demikian, memulai pelajarannya dengan ceramah dan menghendaki agar muridnya disiplin. Sehingga sering berlaku keras dan memarahi murid-muridnya. Dan muridpun biasanya malah menentang guru tersebut dengan keras.

Permasalahan ini hanya dapat diselesaikan bila dicari dan ditemukan penyebab hal tersebut, misalnya guru kurang memiliki ketrampilan berkomunikasi, atau mungkin terdapat masalah pribadi dalam diri guru tersebut. Sehingga guru akan kehilangan rasa saling percaya. Maka guru yang demikian dapat dibantu dengan cara mengembalikan kewibawaan dan rasa saling percayanya. Caranya ialah memberi tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan sesuatu dengan bimbingan dan pembinaan yang bijaksana

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Menyadari masalah yang dialami oleh guru seperti dinyatakan di atas, tidak mengherankan kalau implementasi kurikulum berbasis kompetensi menimbulkan kebingungan dan sulit untuk memperbaiki keadaan atau permasalahan yang dialami oleh guru sebelum kurikulum berbasis kompetensi diperkenalkan. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa harapan pemerintah agar guru mengimplementasikan kurikulum.

Demikian masalah-masalah yang dirasakan oleh guru yang sesungguhnya sangat kompleks dan memerlukan perhatian dan upaya tindak lanjut yang serius. Dengan masalah yang mereka alami dan ungkapkan seperti itu, maka dikhuatirkan  standar kompetensi lulusan tidak akan tercapai secara optimal.

 DAFTAR PUSTAKA

 Arends, Richard I. 2001. Learning to Teach. Fifth Editin. New York : McGraw-Hill Book Co.

Rindjin, Sarna, Padmadewi. 2006. Diagnosis Masalah Pembelajaran. Makalah disampaikan dalam Focused Group Discussion antar Guru-Guru SD, SMP se- Kabupaten Buleleng tanggal 21 Oktober 2006.

Tantra, Dewa Komang. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah disampaikan dalam Workshop Menumbuhkan Komitmen Guru dan Pegawai SMA Negeri 4 Denpasar tanggal 3 Januari 2005 di Candikuning Tabanan).

O’Malley, Michael J; Pierce, Lorraine Valdez.1996. Authentic Assessment for English Language Learners. A Practical Approach for Teachers. United States of America : Addison-Wesley Publishing Company.

 

 

 

Views All Time
Views All Time
4349
Views Today
Views Today
9

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY