Maulid Nabi Muhammad SAW : Antara Keberkahan dan Kesuksesan Hidup

0
11

Saat ini banyak orang yang memiliki harta dan kekayaan akan tetapi harta dan kekayaan tersebut seakan-akan tiada mempunyai bekas dan cepat habis, mungkin ini yang dinamakan hilangnya keberkahan hidup“, demikian yang dikatakan oleh Bapak Dr.H. Ahmad Shagir, M.Ag., Dekan Fakultas dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin Kalimantan Selatan pada kegiatan ICT Bershalawat dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Tanah Laut Kalimantan Selatan (MAN ICT Kalsel), Selasa (26/11/2019) bertempat di Aula Serbaguna MAN ICT Kalsel.

Memang dalam konsep Islam bahwa yang dinamakan berkah itu adalah bertambahnya kebaikan terhadap yang orang lain, demikian yang ditermaktub dalam At Ta’rifat. Keberkahan hidup itu penting, betapapun seseorang memiliki banyak harta benda dan kekayaan kalau tanpa memiliki keberkahan maka semuanya akan sia-sia dan akan cepat habis dan ludes tanpa bekas. Sebaliknya, seseorang yang memiliki keberkahan dalam hidup maka dia akan merasakan kesenangan, ketenangan dalam hidup walaupun harta benda tidak melimpah dan bahkan hanya cukup sehari-hari saja.

Demikian juga kesuksesan seseorang belum tentu diukur dari adanya jabatan dan pangkat serta kedudukan yang dia miliki, akan tetapi terletak pada kebahagiaan yang dia dapatkan selama hidup ini dan sampai masuk ke dalam surgaNya Allah SWT. Artinya, tugas kita sekarang bukan hanya sekadari mencari harta dan kekayaan akan tetapi menuntut ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Di samping itu, yang terpenting adalah memberikan kebaikan dan kebaikan kepada sesama manusia.

Berbicara tentang keberkahan zaman sekarang ini boleh jadi hal ini tidak lagi menjadi sesuatu yang luar biasa, karena betapapun orang memastikan dirinya harus memiliki harta dan kekayaan, masalah berkah atau tidak, tidak menjadi tujuan nomor satu yang terpenting banyak harta dan kaya raya. na’uzubillah dunia sudah terbalik…

Ada yang menarik juga dari tausiah bapak Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi ini tentang cerita Imam Syafi’i yang mengadukan perihal hafalannya yang hilang kepada guru beliau Waqi’. Guru beliau memberikan nasihat agar meninggalkan maksiat. Ternyata, diteliti maksiat apa yang Imam Syafi’i lakukan sehingga hafalan dan segala ilmu pengetahuan yang beliau ingat menjadi hilang adalah hanya pernah melihat tumit seorang wanita. Masya Allah, hanya sekecil itu hafalan dan segala ilmu pengetahuan yang beliau miliki menjadi hilang seketika. Bayangkan kita sekarang berapa banyak maksiat yang kita lakukan dan hafalan serta ilmu pengetahuan yang kita miliki masih “ada”. Fenomena apakah ini? atau mungkin Allah sudah bosan menindak hamba-hambaNya yang berbuat maksiat? atau ini sebuah lanjuran “istidraj” bagi hamba-hambaNya yang berbuat dosa. Maha suci Allah, semua ini ada hikmahnya agar manusia selalu ingat kepada kekuasaanNya.

#opini_

Views All Time
Views All Time
43
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY