Memaknai Harkitnas di Era Revolusi Industri 4.0

0
11

Hari ini, Senin (20/05/2019), merupakan salah satu hari bersejarah dalam pergerakan pemuda di Tanah Air.  Ya, karena hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional.

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional atau sering disingkat Harkitnas yang jatuh pada 20 Mei tiap tahunnya, memeringati berdirinya organisasi Boedi Oetomo. Hari Kebangkitan Nasional pertama kali diperingati pada era pemerintahan Presiden Soekarno di Yogyakarta pada tahun 1948.

Pada saat peringatan Hari Kebangkitan Nasional pertama itu kepanitiaannya diketuai oleh Ki Hajar Dewantara. Dalam pidatonya, Presiden Soerkarno mengimbau pada seluruh rakyat Indonesia yang terpecah oleh kepentingan politik agar bersatu untuk melawan Belanda. Soekarno juga menyampaikan bahwa Boedi Oetomo merupakan tonggak pergerakan nasional.

Pada 20 Mei 1908, Boedi Oetomo didirikan oleh sejumlah mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), yaitu Soetomo, Mohammad Soelaiman, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, R Angka Prodjosoedirdjo, Mochammad Saleh, R Mas Goembrek, Soeradji Tirtonegoro, dan Soewarno.

STOVIA adalah sekolah khusus pendidikan dokter pribumi di Batavia pada masa penjajahan Belanda. Gagasan Soetomo mendirikan organisasi ini terinspirasi dari dokter Wahidin Sudirohusodo yang ingin meningkatkan martabat rakyat dan bangsa.

Latar belakang berdirinya Boedi Oetomo bertopang pada kesadaran para mahasiswa akan masa depan Indonesia yang bergantung di tangan mereka. Organisasi ini pada awalnya hanya bersifat sosial, ekonomi, dan budaya.

Berkaca dari sejarah tersebut di atas, sekarang ini kita berada di zaman industri 4.0 Hari kebangkitan Nasional dimaknai sebagai kebangkitan nasionalisme bangsa Indonesia di masa lalu dalam melawan agresi Belanda yang telah memporak-porandakan bangsa Indonesia. Bagian dari luapan semangat rakyat dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada masa itu rakyat Indonesia berada pada puncak kegeramannya terhadap aksi-aksi kekerasan, penindasan dan pembodohan oleh sistem kolonialisme Belanda. Bagaimana tidak, selama tiga ratus tahun lebih Indonesia dijajah dan diperbudak oleh bangsa lain. Semua hak-hak asasi terenggut, kesejahteraan rakyat semakin terpuruk dan perbudakan ada dimana-mana.

Semangat perjuangan rakyat Indonesia pada masa lalu seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai sebuah sejarah. Sehingga kita hanya sekedar mengenang dan menceritakan kisah-kisah heroik mereka. Akan tetapi jauh dari itu adalah pemaknaan mendalam yang memberi inspirasi dan melahirkan semangat untuk berinovasi. Ia harus menjadi suntikan energi bagi generasi saat ini dalam mengambil peran positif untuk mengisi kemerdekaan. Tidak muncul generasi yang mencederai kemerdekaan bangsa Indonesia. Kalaupun ada, mereka hanya sebagian kecil dari generasi masa kini sebagai dinamika sosial biasa yang bisa cepat teratasi. Para pelajar lebih semangat dalam menuntut ilmu dan mengukir prestasi, para ilmuwan saling berlomba dalam mengembangkan riset, serta generasi muda dan tua saling bekerja sama untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Setiap generasi menjadi profesional di bidangnya.

Guru sebagai yang digugu dan ditiru menjalankan tugas dan fungsinya dengan benar, yakni mencerdaskan peserta didik dan membantu mereka menemukan potensinya. Dokter yang bertanggungjawab dalam bidang kesehatan menjalankan fungsinya dengan baik dalam menangani pasien, dan selalu berinovasi sesuai perkembangan riset. Hakim lebih bijaksana dan mengedepankan keadilan daripada kepentingan golongan. Militer selalu siaga dalam menjaga kedaulatan bangsa dan melindungi hak-hak rakyat. Tokoh-tokoh agama saling bertoleransi dan tidak kenal lelah dalam membina umat. Anggota legislatif menjalankan peran sesuai tupoksinya dalam menyuarakan kepentingan rakyat. Presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan lebih mengedepankan kepentingan rakyatnya dari pada kepentingan individu dan golongan. Juga dengan profesi-profesi lainnya. Namun pertanyaannya, apakah semua itu sudah terjadi di bangsa Indonesia tercinta?

Saat ini kita sering disuguhkan banyak peristiwa yang sangat memprihatinkan di media masa. Seolah-olah sistem yang ada di bangsa ini sudah tidak ada benarnya. Mulai dari tindakan kriminalitas, kejahatan seksual, ketidakadilan hukum, kerusakan moral generasi muda, sistem pendidikan yang carut marut, munculnya berbagai paham radikalisme dan berbagai masalah krusial lainnya. Berbagai peristiwa yang memilukan secara bergantian mengisi ruang informasi dalam otak kita.

Sebagai bangsa yang saat ini mulai berkembang dan tentu berbagai rongsongan akan terus menghadang bangsa ini, keterpurukan kembali bisa jadi akan terjadi kalau kita sebagai warga negara hanya tinggal diam tidak berbuat apa-apa. Apalagi di era revolusi Industri 4.0 yang dikatakan sebagai era serba instan,era serba mengandalkan kemajuan teknologi dan era yang serba cepat tanpa batas, berita tidak sampai menunggu beberapa menit akan sampai kepada siapapun melalui akses internet dan akses media sosial saat ini.

Kita tidak boleh tinggal diam menunggu dan menunggu saja, akan tetapi harus mengejar sesuatu yang harus kita raih. Masih banyak PR yang belum kita capai saat ini, masih banyak hal-hal yang belum selesai kita kerjakan tentu semua ini menjadi ekstra kerja keras kita selesaikan guna kebangkitan bangsa ini.

Semoga dengan semangat Hari Kebangkitan Nasional tahun ini kita lepaskan keterpurukan bangsa ini baik ideologi, hukum dan moralitas bangsa menjadi lebih baik lagi seiring dengan Pemilu tahun 2019. Siapapun nantinya menjadi pemenang dalam pilpres tahun ini semoga memberikan wajah dan suasana yang lebih baik bagi kemajuan bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Selamat hari Kebangkitan Nasional Tahun 2019, mari kita bangkit dari keterpurukan  dan bangkit untuk maju agar berguna bagi bangsa dan negara tercinta ini.

Pelaihari, 20 Mei 2019/15 Ramadhan 1440

Views All Time
Views All Time
30
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY