MEMBANGUN SINERGITAS KELUARGA DAN SEKOLAH. (Menyambut Peringatan Hari Keluarga Nasional Ke-26)

0
19

Pada awal bulan Juli 2019 nanti Provinsi Kalimantan Selatan mendapat kehormatan sebagai tuan rumah Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang ke-26 sejak peringatan Harganas pertama kali pada tahun 1993. Tema peringatan Harganas Tahun 2019 ini adalah “ Hari Keluarga, Hari Kita Semua’ dengan slogan “Cinta Keluarga, Cinta Terencana”.
Tentu dengan dengan adanya peringatan Harganas tersebut diharapkan dapat mengingatkan kembali kepada kita semua tentang penting dan utamanya keluarga dalam kehidupan kita semua. Keluarga yang menjadi tempat pertama dan utama pendidikan anak sebelumn mereka mengikuti pendidikan formal yang melanjutkan proses pendidikan yang telah dilakukan dalam keluarga mereka.
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Konsep pendidikan tersebut merupakan perwujudan semangat kebersamaan dalam menyiapkan masa depan anak bangsa. Keluarga merupakan lembaga pendidikan dan lingkungan pertama dan utama bermula terjadinya suatu proses pendidikan bagi anak sebelum dia memasuki sekolah formal.
Menghidupkan dan mengoptimalkan kembali peran keluarga dalam mendukung pendidikan anak adalah sesuatu hal yang wajar dan sangat rasional. Harapannya, ke depan ada hubungan yang sangat sinergis antara sekolah dan keluarga dalam membina dan membimbang anak sehingga terjadi hubungan komunikasi yang memberikan dampak positif bagi prestasi belajar anak dan mutu pendidikan Indonesia.
Dunia pendidikan Indonesia selama ini masih mengalami dan menghadapi berbagai permasalahan yang kompleks. Namun demikian, berbagai permasalahan tersebut semestinya dapat diatasi dan diurai secara tuntas dan menyeluruh. Salah satu pihak yang perlu dilibatkan dan ditingkatkan kembali fungsinya dalam mendukung mutu pendidikan Indonesia adalah keluarga.
Keluarga sangat banyak berperan penting dalam menentukan mutu pendidikan. Namun, dalam praktiknya peran dan fungsi keluarga selama ini belum banyak diberdayakan secara optimal dalam rangka mendukung upaya peningkatan mutu pendidikan Indonesia. Sejumlah penelitian menunjukkan, keterlibatan orangtua yang lebih besar dalam proses belajar berdampak positif pada keberhasilan anak di sekolah.
Keterlibatan orangtua juga mendukung prestasi akademik maupun nonakdemik anak pada pendidikan yang lebih tinggi, serta berpengaruh juga pada perkembangan emosi dan sosial anak. Orangtua, khususnya ibu, biasanya punya banyak waktu bersama anak dirumah. Perwujudan peran keluarga dalam mendukung pendidikan anak selama ini melalui penciptaaan lingkungan belajar yang kondusif di rumah.
Kenyatan menunjukkan, bahwa anak lebih banyak berada dalam lingkungan keluarga di bandingkan dengan sekolah. Kegiatan pembelajaran di sekolah mungkin hanya 6-8 jam sehari, sedangkan 16-18 jam berada di rumah. Lingkungan rumah yang kondusif sangat diperlukan agar anak dapat betah dan tenang belajar. Kehidupan keluarga yang harmonis merupakan prasyarat yang menentukan kenyamanan dan ketenangan anak belajar di rumah, terlebih jika orangtua secara langsung mendampingi dan membimbing anak dalam belajar di rumah.
Komunikasi yang terjalin selama ini antara orangtua dan sekolah pada kenyataannya lebih bersifat satu arah dan terkesan formalitas belaka. Orangtua datang dan bertemu guru atau pihak sekolah hanya pada saat tertentu saja, seperti mengambil rapor dan ijazah anaknya, sedangkan selebihnya sangat jarang bertemu dan berkomunikasi secara langsung. Kondisi ini menyebabkan terjadi ‘miskomunikasi’ yang terkadang berdampak negatif kepada anak.
Dengan mengoptimalkan peran orangtua atau keluarga dalam pendidikan anak diharapkan dapat meluruskan kembali pandangan yang kurang tepat, bahwa peran keluarga adalah sekunder, karena pengetahuan formal sudah mereka dapatkan di bangku sekolah. Dalam rangka membangun sinergi yang kuat untuk mewujudkan mutu pendidikan, khususnya prestasi belajar anak, maka orangtua dan sekolah perlu membangun hubungan komunikasi yang baik

Views All Time
Views All Time
24
Views Today
Views Today
1
Previous articleCATATAN KECIL RAPAT GABUNGAN KEPALA MI, MTS DAN MA SE-TANAH LAUT TAHUN 2019
Next articleCATATAN MENGIKUTI UJI KOMPETENSI PENULIS DAN EDITOR BUKU. Bagian 8. Serba Serbi Saat Kegiatan
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY