MEMELIHARA TRADISI, MEMBANGUN BUDAYA ISLAMI

0
8
https://www.google.com/search?q=haul+guru+sekumpul+yang+ke+14&safe=strict&client=firefox-b-d&tbm=isch&tbs=rimg:CX-WqG64n47vIjgdhqX_1bVFnpRt3qIYtITvMsSSJeSgXJT0I79JkSsvaQ06vP_1phDyFEwCI6tfTCjs0mfHFAutXBCCoSCR2Gpf9tUWelESuDG6iWLPC2KhIJG3eohi0hO8wRAaSCqQKEuRkqEgmxJIl5KBclPRFrKFTBNcCeWyoSCQjv0mRKy9pDER8xCITbhzSUKhIJTq8_1-mEPIUQRnk6EaBoioa4qEgnAIjq19MKOzREhWc4JnJjpeyoSCSZ8cUC61cEIEZbbTKU1g9mX&tbo=u&sa=X&ved=2ahUKEwiQrIqrroXhAhUEA3IKHY3-DCAQ9C96BAgBEBg&biw=1366&bih=654&dpr=1#imgrc=mPUhzEhrCvr6qM:

Perhelatan akbar kegiatan Haul ke-14 K.H.Muhammad Zaini Ghani atau Guru Sakumpul pada Ahad, 10 Maret 2019, telah usai digelar masyarakat Martapura khususnya, dan Kalimantan Selatan pada umumnya. Dari berbagai pelosok dan penjuru Kalimantan datang menghadiri kegiatan haul tersebut, bahkan dari berbagai pelosok Nusantara dan belahan dunia. Kota Martapura, yang dikenal dengan ikonnya sebagai ‘kota serambi Mekkah’ dan ‘ kota santri’, semakin diperkokoh dengan adanya perhelatan akbar tahunan haul Guru Sakumpul.

Bagi sebagian orang yang pernah berkunjung ke Kota Martapura Kalimantan Selatan, mungkin ada sesuatu yang sulit dilupakan, yaitu masih terpeliharanya suasana ‘tradisi’ yang khas Kota Martapura, dimana masih banyak kaum laki-laki remaja dan dewasa yang masih memakai sarung, baju koko, dan kopiah haji. Tentunya,  suasana zaman melenial ini kondisi dan mode berpakaian kebanyakan orang sudah modern, seperti memakai celana jeans dan sejenisnya. Namun, bagi Kota Martapura perubahan dan modernisasi tidak menghilangkan tradisi yang sudah menjadi ciri khas Kota Martapura sebagai kota santri dan kota serambi Mekkah.

Terpeliharanya gaya berpakaian yang masih ‘tradisional’ tersebut dipengaruhi oleh tetap eksisnya Pondok Pesentren Darussalam Martapura,  yang tetap mewajibkan santrinya memakai sarung , baju koko, dan kopiah haji.  Pondok pesentren ini masih mempertahan tradisi yang telah digariskan oleh pendiri pendahulunya sampai sekarang, meskipun zaman dan kehidupan sudah berubah dan modern.

Santri Pondok Pesanteran Darussalam ini berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, bahkan dari Kalimantan Tengah, Timur, Kalimantan Barat, atau dari luar Pulau Kalimantan. Mereka mengikuti aturan berpakaian yang berlaku di pondok pesantren ini, baik saat belajar di pondok maupun belajar di rumah guru atau ustadz saat sore atau malam hari. Dengan demikian, jangan heran ketika di jalan raya atau di tempat umum, kita melihat orang kemana-mana memakai sarung, baju koko, dan atribut atau simbol ke-Islaman lainnya di Martapura.

Pondok Pesantren Darussalam Martapura merupakan pondok pesentren legendaris yang banyak melahirkan ulama besar di Kalimantan Selatan. Telah banyak alumni atau lulusan pondok pesentren ini yang menjadi ulama atau tokoh agama Islam di penjuru Kalimantan Selatan, bahkan luar Kalimantan Selatan. Banyak pondok pesentren yang lain mengikuti atau berpedoman pada kurikulum atau pola pembelajaran dari Pondok Pesantren Darussalam ini,  yang masih memegang teguh pola pembelajaran tradisional yang berlaku sejak pondok pesentren tersebut berdiri.

Martapura memang tidak dapat lepas dari modernisasi, tetapi sampai sejauh ini masyarakatnya tetap kokoh memegang tradisi yang menjadi ciri khasnya sebagai kota serambi Mekkah dan kota santri, dengan tetap menjaga atribut keagamaan, khususnya Islam. Semoga tradisi yang mencerminkan nilai luhur dan keagungan budaya daerah Banjar  dan bangsa ini dapat terus dapat dipertahankan dalam kehidupan yang modern dan cenderung meninggalkan tradisi luhur bangsa sendiri.

###1420###

Views All Time
Views All Time
14
Views Today
Views Today
1
Previous articleAntara Kesulitan dan Kebahagiaan
Next articleBagian 106. Mengikuti RAKOR BOS 2019 : Hari Pertama Sesi Malam
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY