MEMPERKUAT ADVOKASI DAN PERLINDUNGAN GURU

0
7

Kasus ‘bullying’ terhadap guru oleh siswanya sendiri kembali muncul di media sosial, setelah sekian lama tidak terdengar atau terekpos ke media sosial atau media massa lainnya. Dari tayangan vedio yang viral di media sosial tersebut, terlihat ada seorang siswa yang memaki dan menentang gurunya saat kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Terlihat sang guru sabar dan tidak emosional menghadapi sikap dan perilaku siswanya yang tidak pantas untuk dilakukan terhadap guru yang selama ini mendidik dan memberikan ilmu dengan penuh keikhlasan. Bahkan, sang guru yang bernama Khalim tersebut hanya seorang guru honorer di sekolah tersebut.

Kasus siswa SMP PGRI Wringinanom, Gresik ini  berakhir damai setelah dimediasi oleh Polsek Wringinanom. Siswa yang sok jagoan tersebut akhirnya meminta maaf dengan mencium tangan dan kaki sang guru yang bernama Nur Khalim, seorang guru honorer  yang hanya bergaji relatif kecil, Rp 450.000 per bulannya. Dari kasus tersebut, banyak komentar dan tanggapan dari warganet yang mengecam sikap dan tindakan siswa, serta memberikan pujian atas kesabaran sang guru Nur Khalim.

Kesabaran dan ketenangan guru Nur Khalim menghadapi siswa yang berperilaku ‘luar biasa ‘ tersebut merupakan sesuatu hal yang juga ‘luar biasa’. Tidak terlihat emosi sang guru ketika siswa yang sok jagoan menantang dan memprovokasi gurunya untuk melakukan sesuatu tindakan yang bersifat fisik. Sang guru tenang dan sabar menghadapi siswa yang sok jagoan beraksi di depan matanya, dan  dengan disaksikan oleh siswa lain yang terlihat ribut serta membiarkan gurunya ditantang oleh kawannya sendiri

Secara formal  perlindungan hukum guru telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 40 ayat (1), Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,  dalam Pasal 39 ayat (1), Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, pada Pasal 40 ayat (1) dan Pasal 42, dan  Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2017, tentang Perlindungan bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Kasus-kasus hukum yang menimpa guru sebagai konsekwensi logis profesinya  pada akhir-akhir ini terasa menyantak,  karena seolah tidak ada perlindungan hukum terhadap profesi guru selama ini. Bagaimana mungkin hanya gara-gara guru menegur siswa untuk tidak merokok, lalu kemudian siswa berani melakukan tindakan yang ‘kurang ajar’ terhadap gurunya.

Guru memiliki kebebasan dalam memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya,” Dalam ayat 2 Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008  disebutkan, sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.

Ketika guru memberikan teguran kepada siswa didasarkan pada ketentuan, bahwa siswa diyakini oleh tersebut telah melakukan suatu pelanggaran norma agama, kesusilaan, kesopanan, dan peraturan tertulis dan tidak terlusi yang ditetapkan oleh sekolah, dan peraturan lainnya,maka guru berhak mendapat perlindungan  atas tindakannya tersebut. Hal ini diatur dalam Pasal  40 Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008, yaitu “ Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing”.  Selanjutnya dalam Pasal 41 ditegaskan “Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain”.

Konsekuensi dan resiko profesi yang harus di tanggung guru ketika berhadapan dengan siswa yang memiliki sikap dan perilaku yang ‘melawan’ dan sok jagoan, sehingga  menyebabkan  nasib malang bagi sang guru. Kondisi yang sangat tidak menyenangkan ini tentunya akan sangat merugikan proses pendidikan di sekolah,  karena guru tidak tenang melaksanakan tugasnya. Oleh sebab itu, perlu diperkuat advokasi dan perlindungan terhadap guru, agar tetap  semangat dan berjuang untuk anak Indonesia yang cerdas . Semoga.

###1342###

Views All Time
Views All Time
40
Views Today
Views Today
1
Previous articleAYOLAH MENULIS!!!
Next articleGERAKAN LITERASI DI SDN BANDA SAFA
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY