MENAKAR EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN DI BULAN RAMADHAN

0
235

Bulan suci Ramadhan 1435 H sudah diambang pintu, segala persiapan dan program kegiatan sudah dirancang untuk menyambut dan menyemarakkan kegiatan di bulan suci tersebut oleh berbagai lapisan masyarakat, khususnya kegiatan menjelang berbuka dan malam harinya. Pada umumnya kegiatan di siang hari dikurangi dan diusahakan dilakukan di dalam ruangan yang tidak menguras energi yang banyak serta tidak membuka peluang untuk berbuka puasa karena haus dan lapar yang berlebihan.

Masyarakat Kalimantan Selatan yang dikenal memiliki budaya dan tradisi keagamaan yang kuat, khususnya Islam, sangat menghormati dan menyemarakkan bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan keagamaan di malam hari, dari menjelang saat berbuka puasa hingga menjaleng sahur. Hal ini memberikan dampak yang kuat bagi kehidupan masyarakatnya di siang hari selama bulan Ramadhan, termasuk kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah formal dengan kurikulum nasional.

Kegiatan dan proses pembelajaran di sekolah pun mengalami penyesuaian dalam menghadapi dan melaksanakan puasa bulan Ramadhan 1435 H tahun ini yang bertepatan dengan diawalinya tahun pelajaran baaru, 2014/2015. Dari informasi yang dimuat di koran Banjarmasin Post ini, sudah ada beberapa kepala daerah atau kepala dinas pendidikan  yang mengumumkan bahwa kegiatan sekolah di daerahnya selama bulan Ramadhan ini  diliburkan. Otonomi daerah memang memberikan kewenangan penuh kepada pimimpin daerah , bupati atau walikota, untuk menetapkan   apakah selama bulan Ramadhan kegiatan sekolah di daerahnya tetap terus berjalan atau diliburkan sepenuhnya selama bulan puasa tersebut. Kebijakan kepala daerah tersebut tentunya dilatarbelakangi  oleh kondisi, situasi, dan karakter masyarakat di daerah tersebut.

 

Selama bergulirnya era otonomi daerah  dalam sepuluh tahun terakhir, hampir semua daerah di Kalimantan Selatan menetapkan libur sekolah penuh selama bulan puasa, hanya pada beberapa hari tententu saja terkadang dilaksanakan kegiatan keagamaan, khususnya pesantren ramadhan  untuk mengisi waktu libur dengan kegiatan yang positif. Namun,  hal itu pun tidak semua daerah dan sekolah melaksanakannya, sehingga sekolah benar-benar libur total selama puasa Ramadhan berlangsung.  Libur selama puasa Ramadhan yang telah mulai menjadi’tradisi’ baru bagi setiap sekolah menimbulkan’kecemburuan’ pihak tertentu sehingga terjadi pro dan kontra bagi pengambil kebijakan. Namun demikian, jika dicermati secara arif, kebijakan libur penuh selama bulan puasa Ramadhan tidak ada yang salah atau mengurangi hak peserta didik dalam belajar karena tidak mengurangi porsi atau jatah waktu efektif pembelajaran dalam satu tahun pelajaran. Libur sekolah secara penuh selama puasa Ramadhan hanyalah masalah masalah manajemen dan pengaturan kelender pendidikan saja. Esensinya hak peserta didik untuk mendapatkan bimbingan dan pelajaran di sekolah  tidak berkurang karena adanya libur penuh selama bulan puasa Ramadhan tersebut.

Pertanyaannya apakah bagi daerah yang memberlakukan tetap sekolah dan belajar saat melaksanakan ibadah puasa bagi peserta didik tingkat SD sampai SLTA  efektif ?  Belum ada kajian ilmiah atau hasil penelitian ilmiah lainnya yang menunjukkan bahwa peserta didik dan guru mengajar saat berpuasa Ramadhan lebih baik  atau sebaliknya dari pada bulan di luar bulan puasa Ramadhan.  Kebijakan yang memberlakukan tetap sekolah pada bulan puasa ramadhan berasumsi bahwa peserta didik harus tetap mendapatkan hak-haknya , yaitu pelajaran dari gurunya meskipun dalam suasana menjalankan ibadah puasa ramadhan bagi yang menjalankannya. Disamping itu momentum bulan puasa ramadhan dianggap sangat tepat untuk menuntut ilmu, karena menuntut ilmu itu adalah ibadah dan mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda, termasuk guru yang mengajar. Asumsi dan argumentasi pengambil kebijakan yang memberlakukan sekolah tidak libur selama bulan puasa ramadhan sah-sah saja selama hal tersebut tidak memberatkan para peserta didik dan sekolah dalam melaksanakan kebijakan tersebut.  Persoalannya apakah pengambil kebijakan tersebut sudah memahami dan mengerti situasi, kondisi, dan kenyataan yang terjadi di lapangan, yaitu sekolah sebagai ujung tombak pelaksana kebijakan tersebut.

Setiap daerah memiliki perbedaan, baik secara geografis, sosiologis, politis, dan sebagainya, yang menjadi bahan masukan dan pertimbangan dalam menentukan kebijakan tetap atau liburnya kegiatan sekolah selama bulan puasa ramadhan. Ketika kebijakan itu sudah ditetapkan dan kemudian diterapkan, maka tentunya  tidak menimbulkan pro-kontra di masyarakat, khususnya bagi peserta didik dan sekolah. Libur sekolah selama bulan puasa ramadhan adalah sebuah kebijakan publik yang mendapat apresiasi tinggi dari berbagai kalangan di masyarakat Kalimantan Selatan. Kebijakan ini memberikan suntikan semangat  dan kegairahan religi yang seiring dengan visi dan misi daerah-daerah di Kalimantan Selatan, bahkan terkadang pemberitahuannya langsung disampaikan oleh Kepala Daerahnya sendiri kepada publik.

Ketika ada daerah yang mengeluarkan kebijakan tetap belajar atau sekolah selama atau sebagian waktu di  bulan ramadhan berlangsung, maka perlu dipertanyakan apa yang menjadi argumentasi pokok sehingga kebijakan itu diterapkan. Apakah dengan argumen pembelajaran lebih konsentrasi dan berjalan efektif karena peserta didik dan guru tidak terganggu oleh keinginan untuk makan dan minum?.  Peserta didik yang pada umumnya berusia anak-anak dan remaja belum mengerti sepenuhnya dengan hakikat dari puasa ramadhan sehingga dalam menjalankan ibadah tersebut sangat rentan dengan berbagai godaan di sekitarnya, terlebih ketika mereka berkumpul dan bergaul di sekolah. Guru atau sekolah tidak dapat secara totalitas mengontrol sikap dan perilaku siswa selama di sekolah, terlebih saat diluar jam belajar. Kecendrungan untuk melakukan perbuatan yang negatif dalam komunitas yang secara inten berkumpul sangat memungkinkan, baik yang sifatnya kenakalan biasa maupun yang kriminal.

Kenakalan ramaja di era globalisasi dan kecanggihan sistem informasi dan komunikasi saat sangat jauh berbeda dengan era sebelumnya. Tentunya kenakalan remaja tersebut merupakan dampak negatif yang tidak dapat dihindari dari globalisasi kecanggihan sistem informasi dan komunikasi, tidak terkecuali bagi remaja yang duduk di jenjang pendidikan dasar dan menengah.  Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang mengemban amanat UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, berperan penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak dan remaja sebagaimana yang dikehendaki oleh UUD 1945 tersebut.

Bulan suci Ramadhan bagi umat Islam, terlebih bagi masyarakat Kalimantan Selatan, menjadi bulan yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya. Ketika tiba bulan suci tersebut berbagai aktivitas keagamaan dilakukan secara intensif, seperti tadarus Al Qur,an setiap malam, shalat tarawih, shalat witr, dan sebagainya. Bagi sebagian masyarakat, bulan Ramadhan adalah bulan libur dari aktivitas keduniaan seperti kerja , berdagang, atau pekerjaan yang dapat menguras tenaga dan fisik. Demikian pula dengan aktivitas pendidikan di sekolah yang berlabel Islam, khususnya di pondok pesantren atau madrasah. Anak-anak pada usia tertentu, seperti siswa SD kelas 4-6  dan SMP, secara fisik mereka belum  sepenuhnya mampu melakukan aktivitas yang berat dan bersifat fisik disaat mereka melaksanakan ibadah puasa sehingga ketika bulan puasa mereka harus bersekolah maka dapat diprediksi salah satu dari kegiatan itu ada yang ditinggalkan, baik itu ibadah puasa maupun turun ke sekolahnya.

Ibadah puasa Ramadhan merupakan kegiatan fisik dan psikis yang relatif berat dilakukan anak dan remaja  apabila dilakukan secara bersamaan dengan kegiatan yang memerlukan tenaga fisik, seperti sekolah. Kalau cuma belajarnya tidak masalah, tetapi ketika mereka mau ke sekolah dengan menempuh jarak yang relatif jauh dan medan yang berat  maka disinilah timbul permasalahannya.  Kekuatan fisik ketika berpuasa pada pagi hari masih dapat diandalkan, tetapi ketika pulang di siang hari yang panas terik  dan menempuh penjalanan yang relatif jauh dan medan yang berat maka fisik dan psikisnya akan dapat terganggu.  Mungkin saja kekuatan fisiknya kuat, namun dalam perjalanan yang jauh dan berat itu dapat membuka peluang terjadinya gangguan terhadap psikisnya, baik oleh teman maupun kondisi lingkungan. Anak-anak seusia SD dan SMP relatif masih labil kondisi fisik dan psikisnya. Kelelahan karena pergi dan pulang sekolah dengan jarak perjalanan yang relatif jauh dan berat dapat menggoyahkan kekuatan fisiknya,  dan demikian pula dengan psikisnya.

Kondisi riil yang terjadi di lapangan ini terkadang kurang mendapat perhatian dan pertimbangan oleh pihak pengambil kebijakan. Otonomi daerah sejatinya  dapat menjadi solusi dalam memecahkan permasalahan yang terjadi di daerah sehingga setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dapat memberikan solusi yang terbaik karena sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada di daerahnya. Permasalahannya, pertimbangan dan masukan dari  sebagai  ujung tombak terdepan pendidikan  sekolah  tentang libur sekolah di bulan suci Ramadhan terkadang kurang direspon dengan baik oleh pengambil kebijakan sehingga terjadi ‘pembangkangan’ atau penolakan terhadap kebijakan tersebut.  Ada sekolah yang menjalankan kegiatan pembelajaran sebagaimana ketentuan yang digariskan oleh pengambil kebijakan, khususnya dinas pendidikan daerah setempat, tetapi ada pula sekolah yang tidak mengindahkan kebijakan tersebut karena situasi dan kondisinya sangat tidak memungkinkan melaksanakan proses pembelajaran yang efektif di saat siswa dan gurunya melaksanakan ibadah puasa.

Kebijakan melaksanakan belajar atau turun sekolah di bulan Ramadhan dalam beberapa hari kerja, baik itu seminggu atau dua minggu, dapat dilaksanakan dengan catatan selama kondisi fisik anak dan lingkungan mendukung  dan berdampak positif bagi anak.  Kenyataan di lapangan selama ini menunjukkan bahwa kondisi fisik  dan psikologis anak dalam mengikuti pembelajaran di sekolah  sangat tergantung dan dipengaruhi oleh jarak tempuh atau perjalanan anak dari rumah ke sekolah dan cuaca yang terjadi saat itu.  Bagi sekolah di perkotaan yang jarak tempuh perjalanan anak dari rumah ke sekolah relatif dekat dan kondisi jalanan yang baik, maka proses pembelajaran selama bulan Ramadhan tidak terlalu besar pengaruh dan dampaknya bagi anak. Namun, kondisi sekolah di daerah pedesaan tentunya sangat berbeda dengan di perkotaan.  Jarak yang relatif jauh dari rumah ke sekolah dan kondisi  jalan yang tidak sebaik di perkotaan tentunya akan banyak berpengaruh terhadap kesiapan dan kenyamanan anak dalam mengikuti pembelajaran selama bulan Ramadhan.

Seyogyanya ada evaluasi dan refleksi dari pelaksanaan kebijakan turun sekolah di bulan Ramadhan  tahun-tahun sebelumnya sehingga diperoleh kesimpulan yang dapat menjadi dasar pertimbangan untuk melaksanakan kebijakan turun sekolah di bulan Ramadhan tahun berikutnya.  Kepentingan politik dan pertimbangan non teknis lainnya terkadang lebih dominan dan menjadi dasar pengambilan keputusan untuk menerapkan kebijakan turun sekolah di bulan Ramadhan. Tidak ada salahnya  Dinas Pendidikan Provinsi memberikan rambu-rambu yang jelas dalam penyusunan Kelender Pendidikan untuk berlaku bagi semua daerah di Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai daerah dengan masyarakatnya yang religius.

 

Views All Time
Views All Time
281
Views Today
Views Today
1
Previous articleKURIKULUM YANG KONTROVERSIAL ITU AKAN DIBERLAKUKAN SERENTAK
Next articleMTQ yang BERKARAKTER
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY