Ada kesepakatan, bahwa pendidikan sebaiknya berorientasi pada nilai-nilai. Pendidikan tidak boleh terbatasi pada sekadar transfer pengetahuan dan keahlian fungsional. Tak kalah penting adalah pengembangan jati diri dan kemampuan mengkritisi serta menularkan nilai dasar bersama, seperti halnya kejujuran, keadilan, kerja keras, kesederhanaan, disiplin dan kebersaamaan.

Perlu untuk ditekankan, prestasi anak didik tidak akan dicapai optimal jika disiapkan dengan gaya belajar yang instan, hanya jelang ujian dan meninggalkan upaya kerja keras yang diteladankan para pendidik. Bila tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia, perlu disadarkan, pribadi yang merdeka bukan yang laissez faire, tetapi yang mampu mempertanggungjawabkan kemerdekaannya. Selain itu, meski sistem pendidikan sebaiknya terkait dengan dunia praktis, itu bukan berarti melulu berbicara tentang ’materialisasi’ pendidikan yang mengedepankan konsep ’siap pakai’ bagi dunia lapangan. Akan tetapi hal-hal mendasar yang menyangkut dengan karakter dan penanaman nilai-nilai luhur sebagai amanah pendidikan adalah sebuah keniscayaan.

Adalah tidak sehat untuk mempersoalkan posisi benar dan salah dalam hal ini. Fakta yang telah terjadi adalah sebuah akibat dari kekeliruan yang panjang dalam proses pembelajaran pada anak didik. Juga adalah kenyataan bahwa semua itu merupakan indikasi kegagalan pendidikan yang seharusnya  berperanan menghasilkan manusia yang tidak hanya rasional, tapi juga yang berbudi luhur.

Diperlukan sistem pendidikan yang memberikan ruang bagi anak didik untuk bersaing dan berkreasi secara fair. Lembaga pendidikan pun perlu dibebaskan dari kungkungan birokrasi yang tambun dan njlimet. Dalam hal suasana ajar-mengajar, metoda dialogis, diskusi dan ’mempertanyakan’ untuk mencari kebenaran harus terbuka lebar bagi anak didik.

Kejujuran sebuah sekolah hanya bisa dinilai dari sejauh mana anggota-anggota sekolah itu melaksanakan nilai-nilai kejujuran semenjak mereka datang memasuki pintu gerbang sekolah sampai pulang, melalui contoh, teladan, pemberian ruang bagi praksis kejujuran yang didukung oleh aturan-aturan sekolah yang konsisten diterapkan, seperti menghilangkan budaya dan aturan katrol nilai, membuat peraturan dan sanksi tegas tentang perilaku mencontek, menghapuskan peraturan tentang kriteria ketuntasan minimal yang sering menjadi sumber ketidakjujuran guru dalam menilai siswa, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan sekolah. Hal-hal ini kiranya lebih mendesak diperjuangkan dan diterapkan dalam lembaga pendidikan kita ketimbang membunyikan integritas sekolah yang hanya sebatas symbol semata.

Sebagian dari butir-butir harapan itu masih menjadi mimpi yang dalam waktu dekat sulit untuk dijangkau. Masih butuh waktu. Akan tetapi apakah anak didik selalu menjadi korban? Kita tidak sedang mencari siapa yang salah tetapi sedang  mencari jalan keluar dari kesesatan ini. Masihkah ada jejak yang tinggal, untuk membangun pendidikan dengan jalan yang jujur? Optimis. Semoga!(**)

Views All Time
Views All Time
423
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY