MENDHOL

0
3

MENDHOL

Oleh: Ida Rusmiyati

 

Nenekku dari pihak ayah bernama Mbah Marlina, beliau menikah dengan kakekku yang bernama Mbah Abdul Lahir.  Keduanya asli Madura. Walau orang-orang mengatakan bahwa orang Madura itu galak, emosional, dan berwatak keras. Kenyataannya tidaklah demikian. Semua saudaraku yang berasal dari garis keturunan Mbah Marlina dan Mbah Abdul Lahir adalah orang yang sangat baik, pengertian, suka menolong kepada sesame, dan selalu menjunjung tinggi nama baik, baik nama baik diri sendiri maupun orang lain Bagi mereka nama baik adalah suatu kehormatan yang harus dipertahankan.

Aku biasanya mengunjungi Mbahku saat ramadhan menjelang Idul Fitri. Kebetulan dahulu kalau bulan Ramadhan, pasti sekolah libur panjang hingga Idul Fitri. Kami sekeluarga, ayah, ibu, aku dan kedua adikku pasti menyempatkan ke rumah Mbah dari pihak ayah. Kami memang ingin menjaga tali silaturrahmi agar tidak terpustus, maklum keluarga kami dan saudara-saudara kami bertempat tinggal sangat berjauhan. Beda provinsi dan bahkan beda pulau. Bisa bertemu dan berkumpul dengan semua keluarga dan saudara amatlah sulit bagi keluarga kami. Kami mengunjungi saudara-saudara atau keluarga kami yang berjauhan secara bergantian setiap tahunnya. Yang pasti nasihat nenek moyang kami ojo nganti kepaten obor masih kami pegang hingga saat ini.

Mbah Marlina sangatlah menyayangiku, setiap kali aku datang berkunjung karena kangen, beliau selalu menyediakan apa saja makanan kesukaanku. Salah satu makanan khas buatan Mbahku yang sangat aku suka, namanya mendhol tempe menjeng. Terbuat dari bahan dan bumbu yang sederhana tapi murah meriah.

“Ida… Dekremmah kabere hedeh?”  Ida …apa kabarmu? Mbah Marlina langsung bertanya dan memelukku.

“ Engkok beres beih.”  Aku baik- baik saja  sahutku ,sambil kubalas pelukan Mbah kesayanganku itu.

Cek abiteh tak atemmuh.”  Lama tak bejumpa.

Mbah Marlina melanjutkan sambil memandangku dengan penuh rasa kangen yang membuncah, maklum kami tidak bisa bertemu secara rutin setiap tahunnya.

Setelah itu kamipun lalu asyik bercakap-cakap mengabarkan kondisi kami masing-masing.

Setelah puas, Mbah Marlina mengajakku menuju ruang makan, ditunjukkannnya aneka masakan yang sudah dibuatnya. Satu meja penuh dengan sayur dan lauk-pauk, salah satunya yang tak luput dari pandanganku adalah mendhol. Selera makanku tiba-tiba tidak bisa terbendung lagi. Aku jadi ingin segera makan. Tapi Mbah Putri mencegahku, memintaku supaya bersabar menunggu buka puasa tiba.

Mendhol adalah makanan yang terbuat dari tempe semangit. Bahan untuk membuatnya terdiri dari; 200 gram tempe, 2 lembar daun jeruk purut, 4 siung bawang merah, 4 siung bawang putih, 3 buah cabe rawit atau sesuai selera, 1 ibu jari kencur, ½ sendok teh ketumbar, ½ sendok teh garam, 1 cm lengkuas, ¼ sendok teh lada, ¼ sendok teh gula, 1 sendok makan maizena (opsional) bisa diganti telur.

Langkah-langkah membuatnya; pertama potong tempe kecil-kecil lalu kukus hinggga matang, kedua haluskan bumbu-bumbu jadikan satu (bawang merah, bawang putih, daun jeruk, cabe, lada, gula, garam, kencur, lengkuas, ketumbar, dan maizena/ telur); ketiga haluskan tempe yang sudah dikukus; keempat campurkan semua bahan tempe dan bumbu-bumbu; kelima bentuk bulatan-bulatan lonjong sambil dikepal-kepal menggunakan tangan yang sudah bersih dan dibungkus plastic; keenam goring sampai matang hingga berwarna kuning kecoklatan; mendhol sudah jadi siapkan pada piring saji.

Ketika waktu berbuka tiba kamipun segera mencuci tangan kami hingga bersih untuk menikmati buka puasa bersama. Sebelumnya kami berdoa berbuka puasa terlebih dahulu:

 

اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birahmatika yaa arhamar-roohimiina

Artinya :

“Ya Allah karenaMu aku berpuasa, denganMu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rezekiMu aku berbuka (puasa), dengan rahmatMu, Ya Allah yang Tuhan Maha Pengasih.”

Setelah berdoa, kami semua makan dengan lahapnya.

Selesai makan, sebelum meninggalkan meja makan kamipun berdoa sesudah makan sebagai ungkapan rasa syukur kami:

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ

Alhamdu lillaahil ladzii ath’amanaa wa saqoonaa wa ja’alanaa minal muslimiin

 

Artinya:

 

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, Serta menjadikan kami termasuk golongan orang-orang muslim”

 

Aku sangat rindu bertemu dengan saat-saat seperti ini lagi, tapi semua tak mungkin terjadi, karena Mbah Marlina dan Mbah Abdul Lahir sudah tiada. Namun demikian, aku dan semua keluarga serta saudaraku tetap menjaga tali silaturrahmi agar hubungan persaudaraan kami tidak putus.

 

Ungaran, 30 April 2021

 

#30harimenulisramadhan

#gbmharike-19

Views All Time
Views All Time
9
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY