Bagi pecinta sepak bola pasti mengenal tokoh yang satu ini, Sir Alex Ferguson. Ya, Sir Alex Ferguson atau biasadipanggil Fergie adalah manager sekaligus pelatih klub sepak bola Manchester United (MU).

Sir Alex mulai melatih MU dari tahun 1986 hingga tahun 2013. Di tangannya, MU telah meraih gelar 13 kali menjuarai Liga Primer Inggris, dua kali menjuarai liga tertinggi di benua Eropa yaitu Liga Champion. Dan masih banyak lagi sederet prestasi yang diraih Sir Alex.

Tidak hanya memberikan prestasi bagi klub MU, tangan dinginnya juga mampu mencetak pemain kelas dunia. Sebut saja David Backham, Ryan Giggs, Paul Scholes, Ole Gunner Solkjaer, Roy Keane, Eric Cantona, Gary Neville yang berjaya di era tahun 1990 – 2000an. Di atas era tahun 2000an, ada nama Cristiano Ronaldo, Nani, Rio Ferdinand, Ruud Van Nistelroy, Wayne Rooney dan masih banyak lagi.

Banyak orang bahkan anak didiknya di MU mengenal cara Sir Alex memberikan arahan dengan sebutan hairdryer treatment. Sir Alex tidak segan-segan memarahi para pemainnya di ruang ganti jika di babak pertama permainan mereka tidak maksimal sesuai arahan pelatih.

Sebenarnya hairdryer treatment ala Sir Alex ini dimaksudkan agar para pemain tidak boleh menyerah sebelum permainan benar-benar usai. Dan para pemain di era-era 1900 – 2000 an paham dengan maksud sang pelatih. Dengan cara itu, Sir Alex mampu mendongkrak semangat pemainnya dan dapat membalikkan keadaan permainan di lapangan.

Begitulah cara Sir Alex memberikan instruksi dan membangkitkan semangat pemainnya saat bertanding. Mental juara yang ditanamkan, tidak pernah kenal lelah mengejar bola agar bisa memenangkan pertandingan.

Namun di akhir-akhir masa kepelatihannya di MU, Sir Alex tidak lagi menggunakan cara tersebut. Beliau mengamati keadaan tersebut dari tahun ke tahun. Di era sepak bola modern ini mental pemainnya berbeda dengan pemain masa-masa sebelumnya, sepuluh – dua puluh tahun sebelumnya. Mental mereka kuat, bermental baja.

Berbeda dengan pemain sekarang yang mentalnya agak rapuh. Pemain saat ini harus diberi kenyamanan, begitu menurut beliau. Sehingga di beberapa tahun terakhir bersama MU, hairdryer treatment tidak dipakainya lagi.

Seorang pelatih sepakbola saja tahu bagaimana membangkitkan semangat para pemain didikannya. Bagaimana dengan kita yang berprofesi sebagai guru? Mestinya kita sebagai guru juga harus lebih paham tentang hal itu. Inilah tantangan kita sebagai pendidik yang sedang mendidik dan membimbing generasi milenial.

Apakah cara mengajar kita masih sama antara sepuluh atau dua puluh tahun lalu dengan sekarang? Bila kita masih menganggap sama anak didik kita sepuluh – dua puluh tahun yang lalu dengan anak didik kita yang sekarang berarti belum ada perubahan cara pandang kita terhadap anak didik kita

Bisa jadi dengan hal tersebut, cara kita mengajar juga akan sama antara sepuluh – dua puluh tahun yang lalu dengan yang sekarang. Pendekatan dan metode mengajar yang kita gunakan tidak ada perubahan.

Padahal tantangan yang dihadapi anak didik kita, sepuluh – dua puluh tahun yang lalu berbeda dengan anak didik kita yang sekarang. Pendekatan dan metode juga harus berubah. Kita harus bisa menyiapkan anak didik kita yang sekarang agar mampu menghadapi tantangan masa depannya.

Pesan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, r.a.:

 “Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”

Pesan tersebut masih sangat relevan sampai saat ini. Pesan yang disampaikan kurang lebih 1400 tahun yang lalu perlu menjadi renungan bagi kita, para pendidik.

Views All Time
Views All Time
27
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY