Mengajar dengan Cinta

0
181

Ada setumpuk harapan yang disandarkan pada dunia pendidikan. Masyarakat berharap, mampukah pendidikan melahirkan generasi yang berkarakter baik? Sebuah keinginan yang bisa dikatakan berlebihan, meski sesungguhnya amat wajar, mengingat pendidikan sebagai tumpuan solusi dari sekian banyak persoalan dan problem kemasyarakatan. Pendidikan pada hakekatnya adalah perubahan perilaku, dengan mengikuti kerangka berpikir seperti ini, sudah selayaknya proses pendidikan yang berjalan di lorong kelas-kelas sekolahan sanggup mengubah sikap dan membangun perilaku sesuai harapan.

Mengajar dengan Cinta

Harus diakui, dunia pendidikan kita saat ini sangat krisis akan bentuk keteladanan. Krisis keteladanan pada akhirnya menjadi bagian dari deret panjang keterpurukan bangsa ini dalam pendidikan. Berbagai persoalan potret buram anak sekolahan menghiasi berita media tiap harinya.

Praktik kekerasan yang dilakukan para pelajar di sekolah, tawuran dan perkelahian, mengkonsumsi minuman dan obat terlarang bahkan perbuatan yang menjurus asusila yang tak layak dilakukan oleh para pelajar. Anak didik tampak santun bila di dalam ruangan kelas, namun bertindak nakal dan berutal ketika di luar kelas. Para siswa gampang emosi dan frustasi. Kita menyaksikan bahwa tujuan pendidikan telah kehilangan jiwanya, telah dilepaskan dari esensinya. Pendidikan berubah menjadi sekedar sekolahan yang hanya meluluskan para siswanya dengan kering nilai dan karakter.

Sesungguhnya krisis multidimensi yang terjadi hingga saat ini akan semakin sulit diatasi, jika bangsa ini tidak menemukan dalam moralitas hidup dari para guru khususnya. Mengapa guru?

Guru secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta, gur-u’ yang berarti mulia, bermutu, memiliki kehebatan dan orang yang sangat dihormati karena kewaskitaannya. Kata gur-u’ kemudian bertemu dengan kata as’, sebuah kata yang dalam bahasa Sansekerta berarti mengajar. Saat itulah kata guru juga bermakna ’mengajar’.

Seorang pengajar bisa disebut hebat jika anak didiknya berhasil mendapatkan nilai bagus di kelas. Namun, seorang guru yang baik selalu dituntut mampu melahirkan manusia-manusia yang baik, bukan sekedar pintar. Guru dituntut tidak hanya mampu ’menggarap’ kognisi (rasio-logika) tetapi juga bidang afeksi (rasa, cipta, karsa dan sikap).

Oleh karena itu, dalam sejarah kesadaran dan ekspektasi manusia, seorang guru harus mampu mengajarkan bagaimana melahirkan dan menjadikan generasi yang baik, mampu memberikan suri keteladanan pada anak didiknya. Itu pula kiranya yang menyebabkan di sini guru (pernah) diposisikan sebagai ’manusia suci’, semacam resi yang selain pintar juga punya laku tulus nan asketis. Wujud kepribadian guru tersebut diimplementasikan dalam bentuk rasa cinta kasih kepada para siswanya sebagaimana dikutip pada awal tulisan ini.

Kita punya para guru hebat. Yang mampu melejitkan siswa berbakat merebut trofi juara di kancah dunia dalam olympiade sains dan matematika, serta melahirkan anak-anak dengan otak super. Guru-guru tahu bahwa mereka mampu mengajarkan ilmu pengetahuan (transfer knowledge) dengan target kurikulum yang sudah ditetapkan untuk mendapatkan nilai Ujian Nasional yang bagus-bagus. Dan mereka pun sambil ajarkan para anak didiknya tentang ajaran moralitas kejujuran, kerja keras, komitmen dan kekhusyuan doa agar mendapatkan kesuksesan. Ajarkan cinta di hati mereka!

Bahkan, seorang siswa Sekolah Dasar di negara Chad, bernama Fatmoumata berusia 11 tahun, ketika ditanya tentang guru yang bagaimana yang mereka inginkan, ia menuturkan, “Guru yang baik akan memperlakukan siswanya seperti anaknya sendiri. Dia akan menjawab semua pertanyaan meskipun pertanyaan bodoh.” Ini adalah salah satu gambaran kejujuran dan kepolosan dari anak didik yang mewakili sekian ratus siswa tentang sosok guru yang diidamkannya. Guru penyayang layaknya orang tuanya sendiri.

Kita tahu, anak didik keletihan dan kelelahan memamah ilmu dari sejumlah pelajaran. Ditambah juga dengan rentang panjangnya waktu belajar, sedari pagi hingga ditambah senja. Sambil bawa beban buku di pundaknya dan jalan tertatih-tatih, apa kita masih yakin bahwa sekolahnya dapat menyenangkan? Kehadiran guru yang menyejukan adalah sebuah keniscayaan yang menghantarkan mereka pada kesalehan.

Mengajar dengan cinta dari seorang guru akan membawa kekuatan para anak didik untuk mengenali dirinya, intelektualnya, bahkan mengobati kegersangan jiwanya. Dani Ronnie M (2009) dalam bukunya The Power of Emotional and Adversity Quotient for Teacher menuliskan bahwa kasih sayang yang ikhlas dari sang guru kepada para anak didiknya akan menyebar dan gaungnya akan terasa sampai ke jiwa. Kekuatan kasih sayang dan cinta guru, sungguh akan mampu meluluhkan segala kebekuan, sanggup menyembuhkan semua rasa sakit serta ia akan menyejukan rongga-rongga kegersangan rohaniah anak didik.

Cinta merupakan salah satu penting dari tiga syarat penting dalam proses mendidik dan mengajar. Pertama adalah cinta, kedua adalah kepercayaan, dan ketiga adalah kewibawaan. Cinta akan menimbulkan kepercayaan. Seorang ibu menyusui anaknya dengan rasa cinta. Seorang bapak menimang-nimang anaknya dengan rasa cinta. Mengapa sang anak tidak takut jatuh? Karena sang anak memiliki kepercayaan kepada sang bapak. Sang anak percaya bahwa bapaknya tidak akan menjatuhkannya. Seterusnya, kepercayaan sang anak inilah yang menghadirkan kewibawaan bagi sang bapak. Kewibawaan adalah kemampuan untuk dapat mempengaruhi orang lain. Kewibawaan akan lahir jika ada kepercayaan. Anak akan menurut atau mengikuti perintah dan arahan dari bapak karena adanya kepercayaan kepada sang bapak, atau dalam hal ini guru akan diikuti perintahnya oleh peserta didik jika peserta didik menaruh kepercayaan kepada gurunya.

Ada cerita tersebutlah di sebuah hutan belantara, ada sebuah gubuk yang terdapat seribu cermin di dalamnya. Pada suatu hari datanglah seekor serigala hutan ke gubuk tersebut. Betapa terkejutnya ia, melihat begitu banyak serigala di dalam gubuk yang kecil itu. Dia menggeram dengan buasnya ke serigala-serigala itu, lalu serigala-serigala yang ada di hadapannya pun turut menggeram tak kalah buasnya, karena jumlahnya jauh lebih banyak, ciutlah nyali serigala lalu dia melompat keluar dan bersumpah tak akan pernah datang lagi ke gubuk itu.

Tak berapa lama berselang, datanglah serigala yang lain menghampiri dan masuk ke gubuk tersebut. Betapa senangnya ia melihat begitu banyak kawan berkerumun di sana. Kemudian serigala ini menggoyang-goyangkan ekornya dan menjulur-julurkan lidahnya sebagai tanda persahabatan. Mereka pun demikian terhadapnya. Semua serigala dihadapannya bersikap yang sama. Jiwa sang serigala ini berbunga-bunga saking gembiranya, lalu dia keluar dengan rasa senang dan berjanji untuk mampir lagi ke gubuk itu suatu saat nanti.

Moral yang bisa didapatkan dari cerita di atas, jelas, ada sinergisme dan keselerasan antara kita dengan alam sekitar kita. Bila kita memiliki cinta dan menaburnya, maka kita juga akan menuainya. Kita, para guru, memiliki kesempatan yang luar biasa banyak untuk mengirimkan getar-getar cinta yang tulus kepada para anak didik. Pada akhrirnya, harapan anak didik yang cerdas dan berbudi luhur yang kita rindukan akan terwujud. Ajarkan sesuatu dengan cinta. Dengan cinta yang tulus, anak-anak kita akan menaruh kepercayaan kepada gurunya, dan dengan kepercayaan itu, sang guru akan menjadi guru yang berwibawa di mata murid-muridnya.

Terinspirasi dari Kahlil Gibran, sebagai penutup tulisan ini, ijikan saya merangkai kata-kata seperti yang ditulis Dani Ronnie:

Janganlah ada tujuan lain dari kasih sayang,

kecuali saling memperkaya jiwa,

sebab kasih yang mengandung pamrih

di luar misterinya sendiri,

bukanlah kasih,

namun jaring yang ditebarkan

hanya menangkap apa yang

tak diharapkan.

 

Views All Time
Views All Time
271
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY