MENGAPA BUDAYA GURU MENULIS LEMAH?

0
53

Bagi banyak guru   budaya menulis masih sangat lemah, terlebih menulis yang namanya karya ilmiah, padahal kita semua mengetahui bahwa yang namanya’guru’ adalah seorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan daya kemampuan intelektual yang  berada di atas  rata-rata orang awam  pada umumnya, khususnya terhadap para siswa yang diempunya. Lemahnya budaya menulis di kalangan guru ini sebenarnya bukan karena kurangnya ilmu, pengetahuan, atau pengalaman, demikian pula bahan bacaan ,seperti buku, majalah, koran, dll di rumah atau sekolah relatif sudah banyak, tetapi lebih kepada jiwa dan kepribadian yang suka dan gemar menerima yang’ instant’ dan tidak mau bersusah payah untuk menulis atau membuat sendiri. Buktinya dan fakta berbicara banyak guru sekarang ini, baik sudah bersertifasi maupun yang belum,  perangkat pembelajaran atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan hasil karya orang lain alias “copy-paste” dari internet, flasdisk, atau karya  orang lain. Bahkan saking ‘cerobohnya’ masih ada dalam RPP guru tersebut nama sekolah asalnya, atau nama kepala sekolahnya. Kemajuan IPTEK, khususnya  komputer atau laptop, hanya digunakan untuk memudahkan para guru yang  senang dan gemar menerima yang ‘instant’ untuk semakin melemahkan budaya menulis sehingga timbulnya karya ilmiah guru ‘aspal’ asli tapi palsu.

Budaya menulis yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan guru yang profesional karena  setiap hari guru menemukan berbagai kejadian dan permasalahan dalam kegiatan profesionalnya, yaitu mendidik dan mengajar. Ada seribu satu macam kejadian dan masalah yang ditemukan dalam proses pendidikan di sekolah, termasuk di kelas. Kejadian dan masalah itu ada yang berkaitan dengan siswa, materi pelajaran, metode, media, evaluasi, dan sebagainya. Semua itu dapat  menjadi bahan yang aktual dan faktual yang ditemui guru dimanapun ia bertugas sebagai guru, apakah di sekolah yang maju dan lengkap sarana dan prasarana , atau di sekolah yang ‘terkebelakang’ dengan sarana dan prasarana yang sangat terbatas dan serba kekurangan. Dengan demikian, kejadian dan masalah yang terjadi di dalam ruang lingkup pekerjaan atau profesi sebagai guru tersebut menjadi sumber informasi dan bahan yang sangat berharga dan bermanfaat ditangan  guru yang kreatif dan profesional  untuk  dituangkan dalam karya ilmiah, baik namanya  PTK (penelitian tindakan kelas) PTS (penelitian tindakan sekolah) ,artikel, dan sebagainya.

Lemahnya budaya menulis tidak terlepas pula dari pola, atau budaya dan  kebiasaan guru mengajar sehari-hari. Guru yang kokoh memegang paradigma  sebagai ‘harat’ di depan kelas yang dengan metode “ceramah-melulu’ dalam setiap kegiatan pembelajaran sangat kuat berakar dalam kehidupannya, sehingga  untuk mencatat dipapan tulis diserahkan kepada siswa  dengan metode “CBSA: catat buku sampai abis”.  Apa yang dilakukan oleh guru dengan motede “ceramah-melulu” dan “CBSA: catat buku sampai abis” tentunya sangat tidak sesuai dengan paradigma pembelajaran yang modern. Paradigma pembelajaran yang modern pembelajaran berpusat pada siswa, bukan pada guru.  Dari sinilah bagi para guru yang profesional menuangkan ide, gagasan, dan pemikirannya untuk memberikan pembelajaran terbaik kepada siswa dengan menerapkan dalam pembelajaran dengan  berbagai metode pembelajaran yang variatif, kreatif dan  inovatif dan kemudian  menuangkannya dalam bentuk karya ilmiah , baik itu berupa PTK, artikel, dan sebagainya.

 

Dalam suatu data yang dikutip Amich Alhumami (2008) menyebutkan bahwa berdasarkan Thomson Scientifics Web of Scien yang menghimpun sekitar 8.700 jurnal, monograf dan proceding conference, Indonesia berada di bawah Turki, Mesir, Iran, Arab Saudi, Malaysia, Moroko, Nigeria, Pakistan, Yordania, Kuwait, dan Lebanon. Indonesia masih berada di bawah negara –negara berkembang tersebut dalam hal kreativitas menulis. Hal ini menunjukkan betapa rendahnya posisi Indonesia dalam menyumbangkan gagasan, ide,pemikiran, dan sebagainya melalui buku atau tulisan pada level internasional. Semua ini juga tidak terlepas dari rendahnya kesadaran menulis di kalangan guru dan dosen.

Guru masih terpaku  dengan tugas mengajarnya dan  hanya mencukupkan diri sebagai konsumen dan pembagi ilmu pengetahuan kepada siswanya, tanpa berpikir bagaimana memproduksi ilmu pengetahuan itu sendiri melalui ide dan gagasan inovatif dan kreatifitasnya. Kemampuan guru menulis untuk menuangkan dan memproduksi ilmu pengetahuan sejatinya sangat terbuka lebar dan peluang menjadi penulis yang kreatif juga sangat memungkinkan. Kreativitas dan kemampuan yang ada dalam diri seorang guru bukan hanya disampaikan  dan dipompakan kepada siswanya saja tetapi juga harus diimplementasi oleh guru tersebut dalam bentuk karya tulis yang nyata dan orisinil.

Mengutip suatu pepatah yang berbunyi “ Segala sesuatu  musnah kecuali perkataan yang tertulis”, maka tentunya budaya menulis perlu ditumbuhkan di kalangan guru agar apa yang dimiliki dan diajarkannya menjadi sesuatu yang ‘abadi’  dan bermanfaat bagi orang lain kelak dikemudian hari. Hal ini sesuai dengan perkataan Imam Ja.far ash-Shadiq yang dikutip  dalam buku Jamal Ma,mur Asmani, yaitu”  Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Menulis sebagai bentuk ekspresi diri dan profesionalisme guru sangat diperlukan agar pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh guru dapat dipelajari dan diimplementasikan oleh guru-guru yang lain, sekecil apapun karya yang dituangkan ke dalam tulisan tersebut.

Peraturan Menteri  Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional  Guru dan Angka Kreditnya  mengisyaratkan  secara jelas perlunya guru membuat karya tulis ilmiah untuk kenaikan pangkatnya. Hal ini memberikan petunjuk yang jelas bahwa secara formal ada ketentuan yang mengikat guru untuk menulis, khususnya karya tulis ilmiah seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTS) ,artikel, dan sebagainya. Kesadaran dan kemauan guru untuk menuangkan berbagai ide, gagasan, dan segala pemikirannya menjadi kata kunci lahirnya budaya menulis di kalangan guru. Peraturan dan ketentuan yang mewajibkan guru menulis karya tulis untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat bagi guru PNS diharapkan mampu menyadarkan dan membangkitkan keinginan kuat bagi guru untuk menulis. Tetapi peraturan dan ketentuan tersebut tidak cukup kuat untuk membangkitkan kesadaran dan kemauan guru untuk menulis karya ilmiah apabila dari dalam diri guru itu sendiri tidak memiliki kesadaran dan kemauan yang kuat.

Menurut Jamal Ma,mur Asmani, penulis Buku Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif,dan Inovatif (2009) menyebutkan bahwa menulis merupakan suatu  keterampilan (skill), sebagaimana lazimnya suatu keterampilan , maka syarat utama adalah latihan terus menerus, tanpa mengenal lelah. Lalu, jadikan aktivitas menulis sebagai profesi.

Views All Time
Views All Time
138
Views Today
Views Today
1
Previous articlePENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI PENGUATAN KURIKULUM PENDIDIKAN NASIONAL
Next articleNASIB GURU, HABIS MANIS SEPAH DIBUANG
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY