MENGEMBALIKAN TAMAN KOTA YANG HILANG (Bagian II)

0
118

Kondisi propinsi Riau khususnya, dan Indonesia pada umumnya telah membuat para siswa di sekolah-sekolah negeri maupun swasta agak kesulitan membawa anak-anak didik mereka mencari tempat sumber belajar yang nyata dalam lingkungan sekitar. Kurikulum baru 2013 menuntut guru maupun tanaga pendidik lainnya untuk senantiasa mengajarkan kepada anak didik agar cinta terhadap lingkungannya. Baik cinta terhadap kebersihan, cinta terhadap alam maupun cinta terhadap kondisi lingkungan sekitar mereka. Namun, kondisi real yang terjadi di lapangan justru kurang mendukung proses pembelajaran ini. Perencanaan tata ruang di Propinsi Riau belum mampu meredam atau mempercepat penyelesaian pemanfaatan lahan terutama lahan yang diperuntukkan untuk taman kota. Hal tersebut terbukti dari pemanfaatan lahan seperti taman-taman di Rumbai. Banyak lahan-lahan taman seperti lahan taman Politehnik Caltex Riau, lahan taman PON yang hingga kini tidak terurus dengan baik. Padahal dengan sedikit sentuhan saja, penggalakan program penghijauan, dan pelestarian sumber daya alam, justru manfaatnya akan terasa lebih besar bagi warga, anak-anak maupun masyarakat dapat menghirup udara segar, apalagi akhir-akhir ini kondisi udara di kota Rumbai khususnya dan propinsi Riau pada umumnya selalu dirudung asap.
Seandainya saja kita boleh bermimpi, menciptakan sebuah lingkungan yang hijau, yang diiringi nyanyian merdu berbagai jenis burung di dalamnya, tempat anak-anak bermain dan berolah raga, yang berada di daerah perkotaan seperti Rumbai, barangkali kita sebagai warga masyarakat dan anak-anak bisa berpergian untuk refreshing ke sana. Lebih dari sekedar tempat wisata ataupun refreshing, taman kota bisa juga dijadikan sebagai sarana tempat sumber belajar. Adanya sambungan benang merah yang kuat antara proses pembelajaran di sekolah dengan program pemerintah yang mau mencerdaskan anak bangsa yang peduli terhadap lingkungannya.
Sudah selayaknya kita bercermin dari Negara-negara maju dalam merencanakan penataan kota-kotanya. Contohnya seperti Negara Jepang. Kebijakan penataan ruang di Jepang menggunakan pendekatan pengklasifikasian tata ruang menjadi hanya dua kelompok besar kawasan yaitu kawasan untuk direncanakan masa sekarang dan kawasan yang diperuntukan untuk masa depan. Kebijakan penataan ruang ini dikuti oleh kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang melalui mekanisme perizinan pemanfaatan ruang. Jadi jangan harap pemerintah mengabulkan permohonan izin lokasi atau izin bangunan untuk lokasi yang peruntukannya untuk masa depan. Tata ruang di Jepang menyiapkan lahan untuk peruntukan generasi yang akan datang. Mereka telah memikirkan jauh ke depan manfaat yang bisa diambil bagi generasi masa depan. Sedangkan Negara Amerika walaupun belum mempunyai tradisi yang kuat dalam penataan ruang, akan tetapi setiap negara bagian di Negara tersebut sudah mempunyai peraturan yang ketat tentang Sistem Penataan ruang dan Lingkungan. Penataan ruang didasarkan kepada zona-zona yang dibuat oleh pemerintah. Pengaturan, pengendalian dan pengawasan terhadap kawasan konservasi lingkungan hidup dan area-area perlindungan sumber-sumber daya alam dan keindahan pemandangan merupakan kewenangan pemerintah negara bagian sepenuhnya. Hal ini bisa kita saksikan sendiri di acara-acara televisi, bagaimana bersih, teratur, indah dan hijaunya kota-kota Negara maju tersebut, bahkan negara Singapura yang luasnya hanya 581.5 m² saja mau menyediakan lahan yang cukup luas sebagai tempat pelestarian alam, seperti Singapura Zoo yang luasnya mencapai 30 ha. (Wikipedia).
Bisa jadi masalah penataan taman-taman kota di area Rumbai muncul akibat pengelolaan tata ruang setiap aktor pembangunan belum menyadari tentang adanya perubahan-perubahan yang fundamental, yang menuntut perlunya perubahan dalam pola pikir, pola hubungan, dan pola tindakannya terhadap sesama pelaku, masyarakat, dan lingkungannya. Dalam kaitannya dengan penataan ruang, pada masa kini pola pemanfaatan ruang lebih ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor pasar, dan semakin berkurangnya peran kebijaksanaan dan strategi yang ditetapkan melalui mekanisme pemerintahan. Keberadaan penataan ruang yang diharapkan sebagai media untuk mengatur dan mengelola sumber daya alam yang ada barangkali juga belum sepenuhnya dapat diimplementasikan. Sehingga taman-taman yang terletak di kawasan kota tidak tertata dan terjaga dengan baik.

Views All Time
Views All Time
218
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY