MENGGUGAH KESADARAN GURU TERHADAP LITERASI DIGITAL DAN MEMANFAATKAN KEARIFAN LOKAL

1
18

Ada hal menarik dalam dunia pendidikan Indonesia  ketika terjadi pandemi COVID -19 melanda Indonesia. Pembelajaran di sekolah selama bertahun-tahun dilaksanakan secara tatap muka atau ofline, namun secara tiba-tiba proses pembelajaran berubah secara drastis dengan menerapkan pembelajaran daring (dalam jaringan) atau online.  Pada masa pembelajaran secara dalam jaringan (daring) atau online  selama masa pandemi COVID-19 yang berlangsung hampir 2 tahun dilaksanakan, maka pada saat itulah terjadi perubahan siginifikan penggunaan teknologi informasi dan media pembelajaran berbasis internet atau pembelajaran digital secara drastis.

Sekolah, guru, siswa, hingga orang tua menjadi mulai menyadari betapa perlunya teknologi informasi berbasis digital guna menunjung kelancaran dan keberlangsungan proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan menggunakan berbagai aplikasi pembelajaran berbasis internet mulai marak digunakan dalam pembelajaran. Penggunakan telepon genggam canggih atau smartphone, tablet, laptop, dan sebagainya juga semakin banyak digunakan oleh guru, siswa, dan bahkan orangtua atau wali siswa guna mengikuti pembelajaran secara daring.

Kemudian, seiring dengan regulasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah, bahwa siaran televisi yang selama 60 tahun mengudara secara analog akan diganti  dengan siaran televisi digital yang batas akhirnya paling lambat tanggal 22 November 2022.  Perubahan siaran televisi dari sistem analog ke digital ini merupakan suatu lompatan teknologi yang bersejarah dalam dunia pertelevisian di Indonesia, karena mayoritas siaran televisi selama ini ditontom oleh masyarakat di pedesaan atau pingirian kota besar yang belum banyak bersentuhan dengan media digital.

Pemahaman Literasi Digital Bagi  Kalangan Kaum Milenial

Paparan di atas merupakan sekilas gambaran tentang apa yang terjadi di masyarakat dalam menggunakan berbagai teknologi informasi dan komunikasi. Pada awalnya belum banyak yang familiar dan akrab, namun kemudian seakan ‘dipaksakan’ oleh keadaan harus beradaptasi dengan kemajuan dunia digital tersebut. Pengetahuan dan informasi mengenai penggunakan berbagai teknologi informasi dan komunikasi atau media digital selama ini masih belum banyak dipahami secara  mendalam oleh masyarakat, terutama kalangan siswa dan yang merupakan bagian dari kaum milenial. Oleh sebab itu,  literasi digital perlu dikampanyekan kepada siswa, remaja,  dan kaum milenialnya.

Menurut Devri  Suhardi dalam artikel dari Kompas.com, menyatakan bahwa literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, jaringan internet dan lain sebagainya. Kecakapan pengguna dalam litetasi digital mencakup kemampuan untuk menemukan, mengerjakan, mengevaluasi, menggunakan, membuat, serta memanfaatkannya dengan bijak, cerdas serta tepat sesuai kegunaannya.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa siswa merupakan bagian dari kaum milenial yang selama ini sering menggunakan telepon genggam atau gawai lainnya sebagai alat komunikasi. Namun,  dalam menggunakan alat komunikasi tersebut mereka masih belum bijak dalam memanfaatkannya, sehingga menimbulkan berbagai dampak negatif  bagi perkembangan pola pikir dan perilaku mereka. Kemudahan mengakses berbagai konten dengan menggunakan alat komunikasi canggih tersebut membuat sesuatunya menjadi mudah didapatkan, tidak terkecuali berbagai konten negatif yang tidak mendidik.

Sementara itu, kehadiran dan peran orang tua atau orang dewasa guna membantu dan mendampingi siswa dan remaja dalam menggunakan alat komunikasi belum sepenuhnya dapat dilakukan maksimal karena berbagai keterbatasan. Teknologi informasi yang berkembang sangat pesat telah memasuki dan merubah pola kehidupan siswa dan remaja, termasuk dalam pola pikir dan perilaku siswa atau remaja itu sendiri. Internet yang setiap saat mudah mereka akses, dapat memberikan banyak sumber informasi yang tidak tersaring dan cenderung mengarahkan pola pikir dan perilaku mereka  yang negatif.

Perlunya pemahaman literasi digital dikampanyekan kepada kalangan siswa dilakukan, karena beberapa materi pelajaran mulai diberikan dengan menggunakan aplikasi pembelajaran berbasis internet. Paradigma pembelajaran mulai mengalami perubahan seiring dengan mudahnya mengakses internet, meski sudah dapat melaksanakan pembelajaran secara tatap muka atau luring, tetapi juga divariasikan dengan pembelajaran secara daring atau online.

Selain itu, pada buku-buku pelajaran sekarang ini materi atau isinya tidak semata-mata menampilkan tulisan dan gambar ilustrasi semata, namun juga ada yang menambahkannya dengan barcode yang berisi vedio pembelajaran yang dapat diakses dengan mengunjungi laman atau kanal media sosial seperti YouTube, Facebook, Istagram, dan sebagainya.

Konten Pembelajaran Kreatif Berbasis Budaya Lokal

Kehadiran dan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan semesetinya diimbangi dengan kemampuan atau kompetensi guru menguasai teknologi era digital tersebut. Ketika guru tidak mampu mengikuti perkembangan tersebut atau bahkan ‘gagap’ teknologi informasi dan komunikasi,  maka proses pembelajaran tidak seimbang. Siswa ternyata lebih dahulu dan lebih banyak mengetahui ilmu pengetahuan yang sedang disampaikan oleh gurunya di kelas,  karena mereka dapat mengakses terlebih dulu melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Permasalahan mendasar yang dihadapi oleh guru pada masa kemajuan teknologi  informasi dan komunikasi sekarang ini adalah masih banyak guru yang ‘ gaptek’ atau gagap teknologi, seperti tidak mampu menggunakan telepon genggam canggih atau smartphone, laptop/komputer, dan sebagainya. Penguasaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai  media pembelajaran dimasa kini dan mendatang bagi seorang guru merupakan sebuah keniscyaan agar pembelajarannya lebih mudah dipahami dan bermakna.

Perubahan zaman dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi hendaknya menjadi pemicu dan pendorong guru untuk mengembangkan proses pembelajarannya menjadi lebih baik dan tidak terpaku pada pola pembelajaran yang lama. Pandangan yang mengatakan bahwa guru adalah sumber informasi utama bagi siswa hendaknya dibuang jauh-jauh, karena dengan pandangan tersebut seolah-olah guru adalah orang yang serba tahu,  sehingga tertutuplah sumber informasi lain.

Sejatinya, apapun kurikulum yang diberlakukan, guru tetap mampu melaksanakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi siswanya. Guru tetap mampu menjadi ‘sutradara‘ yang merekayasa dan mengatur proses pembelajaran dalam rangka mendidik, mengajar, dan membimbing para siswanya. Guru profesional adalah  guru yang kreatif dan inovatif  sehingga  dapat menyikapi dan segera menyesuaikan dirinya  pada kurikulum yang ada.

Sehubungan dengan masalah kreativitas dan inovasi guru tersebut di atas, penulis mau mengutip sebuah artikel di detikedu, yang berjudul “Pengertian Ekonomi Kreatif, Ciri-ciri, dan Manfaatnya”, yang mengutip dari halaman web Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), ada 18 subsektor dalam ekonomi kreatif, yaitu pengembangan permainan, arsitektur, desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fesyen, kuliner, film, animasi, dan video, fotografi, desain komunikasi visual, televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, dan penerbitan, aplikasi.

Jadi, kreativitas dan inovasi bagi guru dapat menjadi bagian dari 18 subsektor  dalam ekonomi kreatif, antara lain seperti pembuatan film animasi, vedio, penerbitan, seni pertunjukan, aplikasi yang dapat berfungsi sebagai media pembelajaran terlepas apapun mata pelajaran yang diampunya. Pembuatan media pembelajaran selama ini masih didominasi oleh pihak lain yang terkadang tidak sesuai dengan kondisi dimana guru tersebut mengajar, sehingga dalam penggunaan media tersebut masih belum dapat sepenuhnya memudahkan proses pembelajaran tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa di dalam kurikulum sekolah selain terdapat mata pelajaran yang menjadi muatan kurikulum nasional juga ada muatan kurikulum lokal. Misalnya mata pelajaran muatan lokal bahasa atau budaya Banjar (Kalsel). Menjadi suatu keniscayaan bagi guru yang mengajar mata pelajaran muatan lokal tersebut untuk membuat atau menyusun dan menerbitkan buku pelajaran muatan lokal, membuat media pembelajaran (film animasi, vedio, dan sebagainya), atau bahkan  sampai membuat aplikasi pembelajarannya.

Pembuatan bahan ajar atau materi pelajaran muatan lokal tersebut di atas hanya sebatas contoh sederhana yang dapat dilakukan oleh guru di Kalimantan Selatan, karena budaya Banjar dalam bentuk buku pelajaran masih belum banyak yang menulisnya.  Selain membuat dan menerbitkan buku mata pelajaran muatan lokal budaya Banjar, guru juga dapat membuat vedio yang berhubungan dengan materi buku muatan lokal tersebut dan kemudian mengunggahnya ke media sosial miliknya seperti YouTube, Facebook, Istagram, website, blog, dan sebagainya.

Apabila guru mampu  mengemas materi pelajaran dengan memanfaatkan media sosial berbasis digital tersebut, selain menjadikan bermanfaat dalam kegiatan pembelajaranya juga turut andil dalam mengangkat khazanah budaya daerah yang mungkin selama ini mulai menghilang. Dalam masyarakat Banjar mengangkat kembali berbagai tradisi, adat istiadat, dan sebagainya  yang mulai menghilang tersebut dikenal istilah ‘ maangkat batang tarandam’ budaya Banjar, baik dalam bidang seni, kuliner, permainan rakyat, dan sebagainya.

Dengan demikian, melalui menulis, menerbitkan, membuat vedio dan mengunggahnya ke media sosial  tentang budaya  daerah Banjar tersebu, maka guru tersebut  telah mampu berkreasi dan berinovasi dengan memanfaatkan khazanah budaya Banjar di Kalimantan Selatan yang terpendam selama ini. Memang, tidak banyak guru yang memiliki jiwa kreatif dan inovatif tersebut, makanya melalui tulisan ini penulis menggugah para guru agar memiliki jiwa kreatif dan novatif selain kompetensi dan profesionalisme guru.

Sementara itu, bagi guru yang tidak mengajar mata pelajaran muatan lokal budaya Banjar, tidak berarti tertutup peluangnya untuk membuat vedio, film, atau apalikasi pembelajaran yang berlatar atau mengangkat budaya lokal Banjar. Misalnya proses pembuatan kain sasirangan yang memanfaatkan teknologi pewarnaan dari bahan pewarna alami yang dapat diaplikasikan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), sejarah berdirinya Kesultanan Banjar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan sebagainya.

Peluang dan kesempatan bagi guru dengan memberdayakan kreativitas dan inovasinya sangat terbuka diera digital ini, hanya tinggal bagaimana guru tersebut dapat menyikapi dan memanfaatkan kondisi dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang yang sangat pesat dewasa ini. Selain itu, sekarang ini mulai dikembangkan program digitalisasi sekolah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui Program Sekolah Penggerak (PSP)  sebagaimana tercantum dalam salah satu “Karakteristik Program Sekolah Penggerak “ yang berisi “ Intervensi dilakukan secara holistik, mulai dari SDM sekolah, pembelajaran, perencanaan, digitalisasi, dan pendampingan Pemerintah Daerah”.

Dalam upaya mewujudkan menjadi bangsa yang maju dan modern tidak terlepas dari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satunya teknologi informasi dan komunikasi. Pendidikan merupakan pilar utama dalam meraih kemajuan bangsa di masa depan, tidak terlepas bagi bangsa dan negara  Indonesia yang kita cintai ini. Guru merupakan ujung tombak dunia pendidikan guna menumbuhkan dan membangun sumber daya manusia (SDM) yang mampu menciptakan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sosok guru merupakan figur yang semestinya dapat menginspirasi dan memotivasi siswa dalam banyak hal positif. Beranjak dari hal tersebut guru harus memiliki kesadaran dan pemahaman terhadap literasi digital, melek teknlogi informasi dan komunikasi,  dan mampu memanfaatkan kearifan budaya lokal dalam membuat media pembelajaran berbasis digital. Harapan ini sesuai dengan perkembangan zaman guna menyiapkan generasi bangsa dalam menyonsong dan mengisi era revolusi industri 4.0.  Semoga.

 

 

 

 

Views All Time
Views All Time
17
Views Today
Views Today
1
Previous articleMENGAPA GURU HARUS MENULIS ?
Next articleMENDAPATKAN PENCERAHAN KEPENULISAN DARI ‘SUHU’ PENULIS KALSEL
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY