Mengintegrasikan Model Pembelajaran Mind Mapping dan Contextual Teaching and Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di Kelas V SDS IT Mutiara Duri Tahun Pelajaran 2012/ 2013.

0
238

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan moral di dunia, sekolah menjadi bagian terpenting bagi penanaman akhlak seorang siswa didalam menciptakan iklim yang beraklhakul kharimah disekolah. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, kepala sekolah, guru dan masyarakat.Dalam proses pendidikan di sekolah terjadi interaksi antara guru dan siswa. Untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah keterlibatan guru dan siswa sangat menentukan. Pendekatan proses belajar mengajar yang menekankan kepada aktivitas siswa dikenal terhadap istilah-istilah student activity learning. Namun demikian peranan guru agama tetap diperlukan sebagai motivator dan fasilitator dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang meliputi berbagai mata pelajaran.

Pada proses pembelajaran terjadi interaksi antara guru dengan peserta didik sekaligus peserta didik dengan peserta didik lainnya. Interaksi ini terjadi secara efektif dan efisien. Ada beberapa hal yang cenderung diabaikan oleh penulis selama PBM terkait kompetensi dasar “pesawat sederhana“ tidak menggunakan model pembelajaran lebih banyak ceramah dan adanya keterbatasan terhadap sarana dan prasarana seperti laboratorium yang belum ada. Banyak aspek pada diri siswa yang ikut mempengaruhi keberhasilan dalam pembelajaran IPA. Dari sekian banyak topik IPA yang diajarkan di sekolah ada yang bersifat mudah sehingga topik tersebut dapat dipahami oleh siswa dengan mendengarkan dan memperhatikan penjelasan serta contoh – contoh dari guru. Sebagian lain topik lainnya akan dipahami jika penyajian disertai ilustrasi dan gambar – gambar. Sementara itu juga untuk memahami topik IPA dengan praktikum di kelas dan laboratorium. .

Kesuksesan dalam pembelajaran IPA juga dipengaruhi oleh kemampuan yang ada pada diri siswa sendiri . Menurut Gardner (2003 ) dalam Misfawati (2010 ) mengemukakan bahwa ada 9 kecerdasan yang dimiliki seorang individu yang mempengaruhi kesuksesan belajar salah satunya berupa taraf intelegency yang tinggi.

Kenyataan yang terjadi di SDS IT Mutiara Duri padatnya kurikulum muatan lokal sekolah dan ditambah muatan wajib membuat siswa merasa jenuh dan bosan untuk memahami pelajaran yang bersifat hafalan. Berdasarkan kondisi itu guru dituntut untuk dapat menggunakan model yang tepat di kelas. Dengan begitu padatnya materi IPA di kelas V tidak memungkinkan siswa belajar dengan cara menghafal. Sebagian besar siswa mempunyai berlembar – lembar catatan dalam buku namun seringkali lupa dengan setiap hal yang dicatat. Karena catatan itu begitu membosankan dan memusingkan ketika membaca dan memandangnya, barangkali siswa membuka catatan ketika memang betul – betul membutuhkan, hal ini terjadi karena hanya didominasi oleh kerja otak kiri yaitu menyusun huruf- huruf yang teratur rapi yang saling berbaris – baris memenuhi buku, karena tidak ada aktifitas kerja belahan otak kanan di sana. (Sukardi,2004: 88)

Untuk memahami konsep pelajaran IPA dengan mudah, asyik, kreatif dan menyenangkan yang bisa mengkaitkan kerja sinergi otak kiri dan otak kanan, maka diperlukan model Pembelajaran. Dengan menggunakan model pembelajaran, proses PBM lebih bermakna jika dibandingkan dengan guru berceramah atau berdiskusi di dalam kelas karena siswa secara konkret memahami konsep IPA sambil bermain dengan warna dan symbol serta keterkaitan materi dan keteraturan dalam mencatat setiap materi yang ada. Sehingga pembelajaran tidak menimbulkan beban psikologis yang berat untuk memahami konsep IPA, dengan demikian hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.  Berbagai macam model pembelajaran yang ada antara lain adalah model Mapping, jiqsaw, example non example, picture and picture, numbered heads together, Contextual Teaching and Learning ,dll (Gistituati, 2012: 11)

Berdasarkan model pembelajaran yang ada maka penulis memilih dan mengintegrasikan model pembelajaran yang memudahkan siswa dalam menghubungkan konsep dengan konteksnya ( suasana yang mudah dipahami siswa sehingga siswa memperoleh belajar bermakna berupa pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya adalah model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Mapping.

Menyadari hal ini penulis akan mencoba menggunakan  model pembelajaran CTL dan Mapping. Maka penulis mengangkat judul yaitu“Mengintegrasikan Model Pembelajaran Mind Mapping dan Contextual Teaching and Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di Kelas V SDS IT Mutiara Duri  Tahun Pelajaran 2012/ 2013.

 

  1. Rumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan  sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah Peningkatan Hasil Belajar IPA dengan mengintegrasikan Model pembelajaran  Mapping dan CTL  di Kelas V SDS IT Mutiara Duri  Tahun Pelajaran 2012/ 2013.
  2. Bagaimanakah Peningkatan hasil belajar dengan mengintegrasikan model pembelajaran Mapping dan  CTL  di Kelas V SDS IT Mutiara Duri  Tahun Pelajaran 2012/ 2013 pada Kompetensi Dasar “Pesawat Sederhana”.

 

  1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian adalah mendeskripsikan :

  1. Peningkatan hasil belajar IPA mengintegrasikan model pembelajaran mapping dan CTL di kelas V SDS IT Mutiara membuka kemudahan bagi siswa untuk memahami konsep IPA dalam kehidupan sehari –hari.
  2. Peningkatan hasil belajar pada Kompetensi Dasar “Pesawat Sederhana” dengan mengintegrasikan Model pembelajaran Mapping dan CTL Siswa Kelas V SDS IT Mutiara Duri  Tahun Pelajaran 2012/ 2013
  3. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah :

  1. Siswa

Meningkatkan hasil belajar siswa dengan Mengintegrasikan Model Pembelajaran Mapping dan CTL  Siswa Kelas V SDS IT Mutiara Duri  Tahun Pelajaran 2012/ 2013.

Meningkatkan aktivitas siswa dengan Mengintegrasikan Model Pembelajaran CTL Siswa Kelas V SDS IT Mutiara Duri Tahun Pelajaran 2012/ 2013

Agar memiliki tanggung jawab terhadap siswa yang lain

Guru

  1. Meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran “Pesawat sederhana” dengan Mengintegrasikan Model pembelajaran Mapping dan CTL Siswa Kelas V SDS IT Mutiara Duri Tahun Pelajaran 2012/ 2013
  2. Untuk mengetahui kendala– kendala apa saja yang dihadapi guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
  3. Sekolah
    1. Meningkatkan mutu pendidikan SDS IT Mutiara Duri
    2. Menjadikan manusia yang berprilaku luhur dan berakhlak mulia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

  1. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar

Belajar adalah suatu proses yang melibatkan terjadinya perubahan pada seseorang yang sedang belajar. Menurut Skinner dan Suwito (2009), belajar adalah suatu prilaku pada saat orang belajar maka responnya menjadi lebih baik, sebaliknya bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Konsep belajar menurut Hunter (1976) dalam (Gustiati, 2012: 3) adalah segala perubahan tingkah laku pada organisme yang bukan disebabkan karena kematangan. Menurut Hergehm (1976 ) dalam ( Gustiati, 2012: 3) belajar adalah perubahan tingkah laku yang sifatnya relatif menetap.

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu proses perubahan yang melibatkan terjadinya perubahan yang melibatkan terjadinya perubahan pada seseorang yang belajar, perubahan yang terjadi akan memberikan aspek yang terarah yaitu kadang menimbulkan perubahan cita-cita , mengubah cara berpikir maka akan melibatkan perubahan dalam tujuan dan arah kehidupan.

Hasil belajar menurut Gagne dalam (Dimyati dan Mudjiono ,2006 : 7), terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap dan siasat kognitif. Hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa yang telah mengikuti proses pembelajaran dan hasil belajar adalah istilah yang menunjukkan tingkat keberhasilan seseorang setelah melakukan sesuatu. Menurut Soedijarto dalam (Masnaini,2003: 6) menyatakan hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar dalam kerangka studi meliputi kawasan kognitif, afektif dan psikomotor.

Hasil belajar sebenarnya berasal dari dua faktor yaitu factor siswa sendiri atau dari lingkungannya. Hasil belajar siswa dapat diukur dengan menggunakan alat evaluasi yang disebut tes hasil belajar.

  1. Model Pembelajaran Teknik MIND Mapping

Dalam pembelajaran kooperatif guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran dan memotivasi siswa dalam belajar, guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi , lewat bacaan, guru membimbing siswa dalam kelompok belajar dan mengevaluasi hasil belajar siswa.

Model pembelajaran Mind Mapping dikembangkan oleh Tim KPI (2004). Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencatat dengan peta pikiran yang dikelaborasikan terkait antara kerja otak kiri dan otak kanan. Dalam mencatat materi IPA siswa mengembangkan peta pikiran dengan menggunakan  berbagai warna, symbol, keterkaitan isi materi dan keteraturan materi yang dicatat.

Dengan menggunakan teknik mapping ini siswa dapat menguasai dan memahami materi IPA dalam jangka waktu yang lama, meningkatan pemahaman, meningkatkan daya ingat serta meningkatkan kreativitas siswa.

Terdapat beberapa langkah pelaksanaan teknik Mapping ini antara lain Mulai dari tengah dengan membuat simbol yang melingkupi tema utama.

  1. Tarik cabang dari tema utama beri ketebalan, beri ketebalan tertentu pada cabang, tulis gagasan utamanya.
  2. Lengkapi dengan symbol setiap kata kuncinya
  3. Tarik ranting dari cabang yang ada dan tuliskan detail untuk setiap ranting yang dibuat.
  4. Landasan Filosofi Contextual Teaching and Learning (CTL )

Landasan filosofi CTL adalah konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruktisikan pengetahuannya. Menurut pandangan konstruktivistik bahwa perolehan pengalaman seseorang itu dari asimilasi dan akomodasi sehingga pengalaman sesuai dengan skema yang ada pada benak siswa.

Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan pendekatan yang menghubungkan konsep dengan konteksnya      (suasana yang mudah dipahami siswa ) sehingga siswa memperoleh belajar bermakna berupa pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.Adapun 7 prinsip yang mendasari CTL adalah :(Masniladevi, 2012 : 9 )

  1. Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan kontekstual. Pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit melalui pengalaman nyata.
  2. Bertanya : pengetahuan yang dimiliki seseorang dimulai dari bertanya, karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis kontekstual.
  3. Menemukan merupakan bagian inti pendekatan pembelajaran konstektual, pengetahuan siswa diharapkan dari menemukan sendiri.
  4. Masyarakat belajar merupakan membiasakan siswa untuk melakukan kerjasama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman – teman belajarnya.
  5. Permodelan dijadikan alternatif mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan siswa secara menyeluruh.
  6. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang diterimanya.
  7. Authentic assessment

 

  1. Definisi Contextual Teaching and Learning

 

Pembelajaran konstektual adalah terjemahan dari istilah Contextual Teaching and Learning. Kata contextual berasal dari kata contex yang berarti hubungan, konteks atau suasana atau keadaan. Dengan demikian contextual diartikan yang dihubungkan dengan suasana (konteks ). Sehingga  CTL dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. (Johnson, 2002: 12)

Pembelajaran konstektual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916)yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari adalah apa yang telah dia ketahui dan kegiatan sesuai dengan peristiwa yang ada di sekelilingnya. Contextual Teaching and Learning merupakan proses pembelajaran yang holistic dan bertujuan membantu siswa memahami makna materi ajar dengan mengaitkan pada konteks kehidupan sehari – hari (konteks pribadi, social, dan cultural )

CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan  mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari – hari.                (Johnson , 2002:24)

 

  1. Komponen Contextual Teaching and Learning

Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama dari pembelajaran produktif yaitu konstruktivisme, membentuk grup belajar yang saling membantu, menemukan, bertanya, pemodelan, refleksi dan penilaian yang sebenarnya (Masniladevi, 2012: 3).

  1. konstruktivisme,Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna jika ia diberi kesempatan untuk bekerja, menemukan, dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan baru.
  2. Membentuk masyarakat belajar yang saling tergantung agar hasil pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain, maka pembelajaran hendaknya dilaksanakan dalam kelompok – kelompok belajar.
  3. Memfasilitasi kegiatan penemuan yaitu agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri ( bukan hasil mengingat).
  4. Mengembangkan sifat ingin tahu melalui pengajuan pertanyaan. Bertanya bagi siswa untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahuinya.
  5. Pemodelan maksudnya model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
  6. Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang apa – apa yang telah kita lakukan dimasa yang lalu.
  7. Penilaian sesungguhnya adalah proses pengumpulan berbagai data. Kemajuan belajar siswa dinilai dari proses, salah satunya dengan melakukan tes. Karakteristiknya :
    1. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran
    2. Bisa digunakan untuk formatif dan sumatif
    3. Yang diukur keterampilan
    4. Berkesinambungan
    5. Terintegrasi
    6. Dapat digunakan sebagai feed back.

 

  1. Kelebihan Model Pembelajaran Contextual Taching and Learning

 

  1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata. Bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajari akan tertanam erat dalam memori siswa sehingga tidak akan mudah dilupakan. (Rusman,2011: 56)
  2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep pada siswa karena model CTL menganut aliran konstruktivisme dimana seorang siswa dituntut untuk menemukan pengetahuannya sendiri melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui “mengalami “ bukan menghafal (Rusman, 2011: 57)

 

  1. Hubungan Hasil Belajar IPA dengan Mengintegrasikan Model Pembelajaran Mapping dan Contextual Teaching and Learning

 

Siswa belajar harus menggunakan berbagai cara pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang diinginkan tercapai. Guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang merangsang minat siswa. Model pembelajaran kooperatif Mapping dan CTL mendorong semua siswa berusaha mempelajari materi yang diajarkan dan memotivasi siswa untuk menjadi aktif dalam pembelajaran. Dengan aktifitasnya siswa dalam belajar maka akan dapat meningkatkan hasil belajar. Hasil belajar yang diperoleh dengan pembelajaran kooperatif Mapping dan CTL akan lebih bermakna dibandingkan siswa belajar secara individu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. Setting Penelitian
    1. Tempat dan Waktu Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan di SDS IT MUtiara Duri bulan Desember 2012- Januari  tahun  2013 di kelas V

  1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDS IT Mutiara Duri T.P 2012 / 2013 dan guru yang mengajar di kelas V SDS IT Mutiara

  1. Rancangan Penelitaian
  2. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran dengan mengintegrasikan model pembelajaran kooperatif Mapping dan  CTL di kelas V SDS IT Mutiara Duri T.P 2012 / 2013.

2.Siklus

Penelitian ini direncanakan menggunakan 2 Siklus.

3.Tahap perencanaan

  1. Menetapkan kelas penelitian yaitu kelas V SDS IT Mutiara.
  2.    Menetapkan jadwal penelitian yaitu bulan Desember 2012 minggu ketiga sampai bulan Januari 2013
  3. Menetapkan materi.

 

  1. Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari :
  2. Silabus
  3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
  4. Lembaran observasi aktivitas siswa
  5. Alat evaluasi yang terdiri dari soal – soal objektif untuk tes hasil belajar yang berupa tes tertulis pada akhir pertemuan (post tes) dan ulangan harian setiap akhir siklus.

e.Membentuk kelompok belajar sesuai dengan model pembelajaran Mapping dan  CTL

  1. Ukuran keberhasilan penelitian adalah tercapainya materi dengan tingkat ketuntasan (KKM) adalah 7,5
  2. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap ini dilaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Mapping dan CTL melalui tahap sebagai berikut : (terlampir dalam RPP)

  1. konstruktivisme,Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna jika ia diberi kesempatan untuk bekerja, menemukan, dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan baru.
  2. Membentuk masyarakat belajar yang saling tergantung agar hasil pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain, maka pembelajaran hendaknya dilaksanakan dalam kelompok – kelompok belajar.
  3. Memfasilitasi kegiatan penemuan yaitu agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri ( bukan hasil mengingat).
  4. Mengembangkan sifat ingin tahu melalui pengajuan pertanyaan. Bertanya bagi siswa untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahuinya.
  5. Pemodelan maksudnya model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
  6. Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang apa – apa yang telah kita lakukan dimasa yang lalu.
  7. Penilaian sesungguhnya adalah proses pengumpulan berbagai data. Kemajuan belajar siswa dinilai dari proses, salah satunya dengan melakukan tes. Karakteristiknya :
    1. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran
    2. Bisa digunakan untuk formatif dan sumatif
    3. Yang diukur keterampilan
    4. Berkesinambungan
    5. Terintegrasi
    6. Dapat digunakan sebagai feed back.
  8. Tahap Observasi

Observasi dilakukan bersama dengan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang dilakukan oleh 1 orang observer. Observer mengisi lembar observasi dan memberikan masukan terhadap pelaksanaan penelitian.

  1. Tahap Refleksi

Perenungan hasil penelitian, Perenungan dilakukan dengan teman sejawat yang melakukan observasi. Data yang diperoleh dari kegiatan observasi dan hasil observasi belajar dianalisa,  kemudian dijadikan pedoman untuk siklus  pertemuan berikutnya.

 

  1. Data dan Sumber Data
  2. Instrumen
    1. Lembar observasi untuk kegiatan guru
    2. Lembar observasi untuk kegiatan siswa
    3. Lembar penilaian kognitif, afektif, psikomotor
  3. Teknik Pengumpulan Data
    1. Observasi
    2. Data ini dikumpulkan dengan cara memberikan tes hasil belajar pada siswa kelas V SDS IT Mutiara . Pemberian tes hasil belajar diberikan sebanyak 2 post tes dan 2 ulangan harian pada konsep materi Pesawat Sederhana. Untuk aktivitas siswa dengan cara observasi langsung menggunakan lembaran observasi serta penilaian hasil tes siswa
  4. Teknik Analisa Data

Pada tahap ini dilakukan analisa terhadap data kuantitatif

  1. Daya serap

Untuk mengetahui daya serap dari hasil belajar siswa dapat diperoleh dengan menggunakan rumus sesuai dengan yang ditetapkan oleh Nurkencana (1999) dalam Suwito ( hal. 15, 2009 ) yaitu :

S = R – W  X 100 %

R

S = Skor yang diperoleh

R = Jumlah soal

W = Jawaban yang salah

Kriteria keberhasilan ditetapkan dengan kategori penilaian berdasarkan hasil      belajar diatas yaitu :

Tabel 2. Interval dari kategori hasil belajar

% Interval Kategori
90 – 100 Sangat tinggi
70 – 89 Tinggi
50 – 69 Sedang
30 – 49 Rendah
10 – 29 Sangat Rendah

 

b.Ketuntasan Belajar Siswa

  1. Ketuntasan Individu

Seorang siswa dikatakan tuntas dalam belajar apabila mencapai minimal 7,5. Ini diambil berdasarkan KKM SDS IT Mutiara pada bidang studi IPA adalah 7,5. Ketuntasan belajar individu dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

KL       = SS     X 100%

SM

KL       = Ketuntasan belajar siswa

SS       = Skor yang diperoleh siswa

SM      = Skor maksimal

  1. Aktivitas Siswa

Data yang diperoleh diolah dan dianalisis ditentukan berdasarkan kriteria sebagai berikut : ( Sudjono dalam Suwito hal. 17, 2009 )

P    =         X 100 %

N

P         = persentase aktivitas siswa

F          = Frekuensi aktivitas siswa

N         = Banyak Individu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. Deskripsi Pelaksanaan Tindakan

 

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas V semester II tahun pelajaran  2012/ 2013 di SDS IT Mutiara pada konsep Pesawat Sederhana, penelitian ini memfokuskan tentang hasil belajar siswa dengan mengintegrasikan model pembelajaran Mapping dan CTL . Pelaksanaan penelitian ini pada tanggal 2 Januari 2013 yang terdiri dari 2 pertemuan untuk dua siklus.

 

  1. Pelaksanaan tindakan kelas siklus I
  2. Pertemuan 1 dilaksanakan pada hari kamis tanggal 4 Januari Pada pertemuan ini diawali dengan Kompetensi Dasar Pesawat Sedehana pada RPP 1,  selama 2 jam pelajaran. Siswa yang hadir 28 orang.
  3. Pertemuan II dilaksanakan pada hari Senin tanggal 7 Januari 2013. Pada pertemuan ini yang dengan kompetensi dasar Pesawat sederhana. pelaksanaan postes 1.
  4. Pengamatan siklus I

Observasi dilakukan dengan cara langsung oleh teman sejawat dengan instrument yang telah disediakan. Dari catatan – catatan penting semua kejadian selama proses pembelajaran dapat disimpulkan :

3.1 Guru sudah melakukan appersepsi dengan bagus

  • Uraian guru masih sulit dipahami
  • Pelaksanaan berjalan apa adanya tanpa tertata dengan baik
  • Media pembelajaran masih sedikit dan kurang menarik.
  • Isi lembaran kerja masih sedikit dikerjakan siswa
  • Tidak ada penguatan dan pujian.
  • Refleksi siklus I

Adapun refleksi siklus I adalah :

  • Guru menggunakan appersepsi yang bagus.
  • Konsep yang ditanamkan hendaknya tidak terlalu luas
  • Guru hendaknya lebih melibatkan siswa dalam diskusi
  • Kesimpulan hendaknya disampaikan dengan tegas

 

 

b.Pelaksanaan tindakan kelas siklus II

  1. Pertemuan III dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 9 Januari 2013.
  2. Pengamatan pada siklus II

Hasil evaluasi belajar siswa dan observasi teman sejawat adalah sebagai berikut :

  • Appersepsi dilaksanakan dengan tepat pada pokok materi

2.2 Guru menyampaikan materi dengan media pembelajaran dengan   optimal

  • Kegiatan berjalan dengan sistematik dan ada bimbingan guru
  • Hasil belajar siswa baik dengan indikator tuntas

 

B.Analisa Deskripsi Hasil Belajar.

 

Hasil belajar siswa berdasarkan post tes dan ulangan harian melalui pembelajaran kooperatif Mapping dan CTL dapat dilihat lampiran 2 dan 3 dengan menganalisa daya serap, ketuntasan belajar  dan aktivitas siswa.

a.Daya Serap Siswa

Berdasarkan data lampiran 2 dan  daya serap siswa terhadap konsep Pesawat sederhana  dengan mengintegrasikan model pembelajaran Mapping dan CTL dapat dijelaskan pada table berikut ini :

Table 5. Daya Serap siswa terhadap konsep Pesawat Sederhana dengan mengintegratifkan model pembelajaran Mapping dan CTL

NO % Interval Kategori Post tes I Post test II UH I UH II
1 90 – 100 ST 2 10 18 22
2 70 – 89 T 26 18 10 6
3 50 – 69 S
4 30 – 49 R
5 10 – 29 SR
Siswa 28 28 28 28
Kategori

 

Keterangan :

ST       = Sangat Tinggi

T          = Tinggi

S         = Sedang

R         = Rendah

SR      = Sangat Rendah

            Dari tabel diatas dapat dijelaskan daya serap siswa proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran Mapping dan CTL meningkat. Pada siklus I post tes I rata – rata daya serap 76,43 kategori tinggi, pada ulangan harian I rata – rata daya serap 85,36 .kategori sangat tinggi. Pada siklus II post tes II daya serap siswa 83, 21 kategori sangat tinggi,dan rata – rata UH2 89,11. Pada pertemuan ini siswa sudah dapat mengadakan penyesuaian dengan pembelajaran yang ditetapkan.

Kurangnya daya serap pada pertemuan I diduga siswa belum terbiasa dengan pengintegratifan model pembelajaran Mapping dan CTL. Guru dan siswa masih dalam tahap penyesuaian. Tetapi pada pertemuan berikutnya siswa sudah mulai memahami cara belajar dengan mengintegratifkan model pembelajaran mapping dan CTL. Ini terbukti pada setiap pertemuan siswa begitu semangat dan aktif membaca buku pegangan, mengerjakan Mapping, bekerjasama dalam kelompok, bertanya kepada teman dan guru dan membuat kesimpulan dari kegiatan berkaitan dengan materi pelajaran dan anggota kelompoknya benar – benar bekerja sama dan berusaha mencari jawaban yang benar.

Bila ada diantara kelompok yang tidak mengerti maka anggota kelompok lain akan menjelaskan sesuai dengan pernyataan. Dengan adanya aktivitas siswa maka siswa termotivasi untuk memahami dan dapat melaporkan hasil kelompoknya sehingga pada pertemuan berikutnya daya serap siswa sudah dikategorikan baik.

Tingginya daya serap siswa pada ulangan harian II disebabkan karena siswa sudah mulai menyukai model pembelajaran Mapping dan CTL dan juga siswa mau bekerjasama serta mau membantu teman yang memiliki prestasi rendah sehingga siswa dalam kelompok menemukan dan membangun sendiri pengetahuan, karena keaktifan siswa dalam berdiskusi sesame temannya. Menurut Slavin dalam Misfawati ( hal. 5, 2009 ) bahwa dalam pembelajaran Kooperatif siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep – konsep yang sulit apabila mereka saling mendiskusikan.

Daya serap siswa sebelum menggunakan model pembelajaran Mapping dan CTL daya serap siswa rata – rata 76,25 kategori tinggi. Setelah menggunakan pengintegratifan model pembelajaran Mapping dan CTL pada ulangan harian I rata – rata 85,36.kategori sangat tinggi dan pada ulangan harian II rata – rata menjadi 89,11 kategori sangat tinggi. Dengan demikian penerapan model pembelajaran dengan mengintegratifkan model pembelajaran Mapping dan CTL dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

 

b.Ketuntasan Belajar Siswa

 

Hasil analisa menentukan ketuntasan belajar siswa kelas V SDS IT MUtiara dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe example non example berdasarkan tabel 7 dan 8 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 6. Persentase ketuntasan  hasil belajar siswa berdasarkan  ulangan harian

Pertemuan Jumlah siswa yang hadir Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang tidak tuntas Persentase ketuntasan belajar
UH I 28 24 4 85,71%
UH II 28 26 2 92,85 %

 

Dari tabel diatas dapat dilihat ketuntasan belajar siswa baru tercapai pada pertemuan II siswa sudah paham dan mengerti serta termotivasi untuk belajar dengan model pembelajaran kooperatif Mapping dan CTL serta didukung oleh aktivitas guru yang sangat baik. Dengan tercapainya ketuntasan belajar maka hasil belajar siswa dapat meningkat karena konsep yang diberikan dapat dikuasai oleh siswa.

Ketuntasan belajar IPA berdasarkan nilai ulangan harian dari 28 orang siswa terdapat 26 orang yang tuntas dan 2 orang siswa yang dinyatakan tidak tuntas. Berdasarkan teori belajar dilihat dengan nilai ulangan harian dalam konsep Pesawat Sederhana sudah tercapai ketuntasannya. Hal ini berdasarkan standar penilaian jika telah mencapai 85 % dari jumlah siswa maka kelas dinyatakan tuntas walaupun ada siswa yang belum tuntas. Bagi siswa yang belum tuntas maka diberi program perbaikan sampai mencapai nilai KKM 7,5.

C.Analisa Deskriptif Aktivitas Siswa Dalam Kelompok

Hasil pengamatan aktivitas siswa kelas V SDS IT Mutiara dengan penerapan model ini dapat dilihat pada lampiran 4 dan 5 , berdasarkan lampiran  , rata – rata persentasi aktivitas belajar siswa dalam kelompok selama pembelajaran dapat dilihat tabel berikut :

Tabel 7. Rata – rata persentase aktivitas siswa kelas V dengan mengintegrasikan model pembelajaran Mapping dan CTL pada konsep Pesawat Sederhana.

 No aktivitas Siswa aktivitas belajar tiap pertemuan
siklus I siklus II
I II Rerata III Rerata
N % N % N % N % N %
1 Mengerjakan Mapping 18 (64,28) 21 (75) 69,64 27

(96,42

96,42
2 Menggunakan buku ajar  20 (71,42)  28

(100)

 85,71 28

(100)

100
3 bekerja dalam kelompok  14

(50)

26

(92,85)

 71,42 22

(78,57)

78,57
4 bertanya pada guru  15 (53,57) 18

(64,28)

 49,99  20

(71,42)

71,42
5 Bertanya pada teman 18 (64,28) 20

(71,42)

62,49 24

(85,71)

85,71
6 membuat kesimpulan 18 (64,28)  22

(78,57)

71,42  28

(100)

100
siswa hadir  28 28 28 28  28
rata –  rata  72,02 80.35 68,44 88,68 88,68
Kategori  B BS B BS BS

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata – rata aktivitas siswa dalam kelompok selama proses belajar mengajar pada setiap pertemuan mengalami peningkatan. Pada pertemuan I rata – rata aktivitas siswa adalah  72,02 % dengan kategori baik, pertemuan II rata – rata aktivitas siswa adalah 80,35 % kategori baik sekali, pada pertemuan III rata – rata aktivitas siswa adalah 88,68 % kategori baik sekali. Dan rata – rata aktivitas siswa pada siklus I adalah 68,44 % dengan kategori baik, rata – rata aktivitas siswa pada siklus II adalah 88,68 % dengan kategori baik sekali.

Meningkatnya aktivitas siswa seiring dengan semakin mengerti dan tertariknya siswa dengan model pembelaran yang digunakan serta semakin mengertinya siswa dengan materi yang diberikan dengan menerapkan aktivitas siswa dengan mengintegratifkan model pembelajaran Mapping dan CTL .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

      BAB V

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan mengintegrasikan model pembelajaran Mapping dan CTL dapat melatih siswa memahami konsep – komsep IPA dengan mudah, asyik dan menyenangkan. Selama proses pembelajaran berlangsung guru memperhatikan, mengamati serta membantu siswa yang mengalami kesulitan selama proses pembelajaran berlangsung.

  1. Pengintegrasikan Model Pembelajaran Mapping dan CTL dapat meningkatkan hasil belajar siswa .
  2. Pengintegrasikan model pembelajaran Mapping dan CTL dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan dalam memahami konsep – konsep IPA di SD
  3. Pengintegrasikan model pembelajaran Mapping dan CTL dapat meningkatkan kemampuan guru menemukan solusi terbaik dalam proses pembelajaran.
  4. Saran
  5. Pengintegrasikan model pembelajaran Mapping dan CTL cukup efektif dalam memahami dan menghafal konsep – konsep IPA pada siswa kelas V sehingga diharapkan guru mau menggunakan teknik ini.
  6. Bimbingan guru sangat diharapkan selama proses pembelajaran sangat membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menerapkan model pembelajaran ini.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Diknas Pendidikan, 2003, Pemerintah propinsi, Sumatera Barat, Buku Panduan. Padang
  2. Hasibuan, 1998, Proses Belajar Mengajar. Bandung. Remaja Karya
  3. Johnson, 2002, Contextual Teaching and Learning.
  4. Mulayasa, 2005, Menjadi guru Proesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan menyenangkan. Rosda
  5. Masnaisi, 2003, Model Pembelajaran CTL. Jakarta
  6. Masniladevi, 2012, Model Pembelajaran, Padang
  7. Misfawati, 2009, Peningkatan Hasil Belajar Organ Pernafasan Manusia dengan Model Make and Match di kelas V SDS IT Mutiara Duri T.P 2009/ 2010. Riau
  8. Nurhizrah Gistituati, 2012, Model Pembelajara Padang
  9. Rustam, 2011, Model – Model Pembelajaran, Mengembangkan Profesional Guru. Rajawali
  10. Sukardi, 2004, Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara
  11. Suwito, 2009, Peningkatan Hasil Belajar IPA dengan model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada SD Negeri 003 Bukit Kapur Kota Dumai. Dumai
  12. Wardhani, dkk, 2007, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta . Universitas Terbuka
  13. Yunus, Mohamad dkk, 2002, Keterampilan Menulis. Jakarta. Universitas Terbuka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Views All Time
Views All Time
362
Views Today
Views Today
1

LEAVE A REPLY