MENGUATKAN KOMUNIKASI, MENYATUKAN PERSEPSI

0
74

Kehidupan anak dalam lingkungan  keluarga dan di sekolah selama ini masih belum terjalin komunikasi yang baik dalam tataran formal maupun nonformal. Kondisi ini terjadi dan terpola dalam kurun waktu yang relatif lama, baik di tingkat pendidikan dasar maupun menengah. Komunikasi orangtua anak dengan pihak sekolah terbangun relatif baik pada saat si anak masih duduk di taman kanak-kanak. Hal tersebut terjadi karena orangtua pada umumnya masih menunggu anak mereka selama kegiatan pembelajaran di taman kanak-kanak tersebut. Selanjutnya, ketika anak mereka masuk SD , kehadiran dan komunikasi orangtua dengan pihak sekolah mulai berkurang seiring dengan bertambahnya  usia dan kemandirian anak dalam mengikuti pembelajara. Demikian seterusnya, makin tinggi jenjang sekolah si anak, maka semakin berkurang peran dan intensitas orangtua ke sekolah anaknya, bahkan ada orangtua yang tidak pernah mengunjungi sekolah anaknya lagi setelah mengantarkan anaknya pada masuk mendaftar di sekolah tersebut.

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara Pemerintah, orangtua/keluarga, dan masyarakat. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang pada umumnya milik Pemerintah, melaksanakan tugas mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanah Pembukaan UUD 1945. Sekolah memerlukan dukungan dan sokongan semua pihak, terutama orangtua peserta didik,  agar amanah tersebut dapat dilaksanakan dengan sebaik-baik.  Dukungan orangtua peserta didik kepada sekolah tidak hanya dimaknai dengan dukungan dana atau materi semata, tetapi dalam bentuk yang lebih luas. Peran orangtua peserta didik terhadap  sekolah dapat dimaknai dengan kepedulian  kepada sekolah dalam arti luas, baik masalah  sarana dan prasarana, kegiatan pembelajaran,  kegiatan ekstrakurikuler, kebersihan lingkungan, dan sebagainya. Pada sisi lain,  kepedulian orangtua peserta didik terhadap sekolah dimana anaknya mengikuti pendidikan adalah dengan sering mengunjungi dan berkomunikasi dengan pihak sekolah, khususnya dengan kepala sekolah atau guru, bukan sekedar hanya pada saat mengambil rapot atau kelulusan anaknya saja.

Kominikasi dan silaturrahmi yang terjalin erat antara orangtua dengan pihak sekolah dapat memberikan semangat dan motivasi positif bagi percepatan kemajuan dan keberhasilan sekolah. Sekolah tidak dapat berbuat banyak dalam meningkatkan kemajuan dan keberhasilan sekolah apabila tidak mendapat dukungan semua pihak terkait, terutama pihak orangtua peserta didik. Meskipun selama ini di sekolah ada Komite Sekolah yang merupakan lembaga mandiri dengan keanggotan unsur masyarakat yang peduli pendidikan dan orangtua peserta didik, akan tetapi peran orangtua peserta didik secara langsung dengan pihak sekolah  masih sangat penting bagi kemajuan dan keberhasilan sekolah.

Komite Sekolah yang selama ini menjadi penghubung antara orangtua dengan pihak sekolah juga dapat mengambil peran penting untuk menjembatani kepentingan kedua belah pihak sehingga dapat lebih memperat dan memperkuat komunikasi orangtua dengan sekolah. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 75 tahun 2016, tentang Komite Sekolah disebutkan bahwa Komite Sekolah  bertugas antara lain memberikan pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan terkait: (1) kebijakan dan program Sekolah; (2) Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah/Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (RAPBS/RKAS); (3) kriteria kinerja Sekolah; (4) kriteria fasilitas pendidikan di Sekolah; dan (5) kriteria kerjasama Sekolah dengan pihak lain. Selanjutnya Komite Sekolah menggalang dana dan sumber daya pendidikan lainnya dari masyarakat baik perorangan/organisasi/dunia usaha/dunia industri maupun pemangku kepentingan lainnya melalui upaya kreatif dan inovatif; mengawasi pelayanan pendidikan di Sekolah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan menindaklanjuti keluhan, saran, kritik, dan aspirasi dari peserta didik, orangtua/wali, dan masyarakat serta hasil pengamatan Komite Sekolah atas kinerja Sekolah.

Dengan demikian, secara jelas peran Komite Sekolah memiliki tugas yang lebih banyak menyangkut hal-hal teknis dalam kerangka pengelolaan sekolah dan terkesan formal. Sementara itu, orangtua peserta didik mengmbil peran yang bersifat nonformal dalam hubungan dan komunikasi dengan sekolah. Peran orangtua peserta didik menyangkut pada tataran komunikasi dan menyatukan persepsi dalam rangka pengembangan kemampuan peserta didik secara lebih baik lagi. Sekolah menjadi tempat bagi anak untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, bimbingan  dan pendidikan budi pekerti, dan sebagainya.. Sedangkan keluarga merupakan tempat dimana anak  tumbuh dan berkembang serta melakukan berbagai aktivitas sosial lainnya.  Komunikasi dan kerjsama orangtua dengan pihak sekolah dalam kerangka mewujudkan kebersamaan  untuk membangun sinergi yang positif bagi kemajuan peserta didik dalam berbagai aspeknya, baik aspek kognitif, afektif, psikomorik maupun kehidupan sosialnya.

Terjalinnya hubungan yang harmonis antara orangtua atau keluarga dengan sekolah yang  dapat memberikan dampak positif bagi  perkembangan dan kemajuan peserta didik. Banyak hal yang dapat dikomunikasikan antara orangtua dengan sekolah terkait peserta didik, seperti masalah hasil belajar, kehidupan sosial, pengaruh pergaulan, pengaruh IT, dan sebagainya. Ketika permasalahan tersebut dapat dikomunikasi dengan baik antara orangtua dengan sekolah, dan kemudian dapat menyatukan persepsi bagaimana kedua belah pihak mengambil posisi dan peran untuk membantu anak dalam menghadapi permasalahan yang dihadapinya, maka berbagai permasalahan yang dihadapi oleh anak akan segara dapat dibantu dan diatasi oleh kedua belah pihak, yaitu keluarga dan sekolah.  Keharmonisan dan komunikasi yang baik antara orangtua atau keluarga dengan sekolah merupakan salah satu kunci mengatasi berbagai permasalahan yang menyangkut peserta didik di sekolah

Views All Time
Views All Time
160
Views Today
Views Today
1
Previous articleKETIKA LEMBAGA PENDIDIKAN TAK RAMAH LAGI
Next articleMENINGKATKAN KOMPETENSI DAN PROFESIONAL GURU
Lahir dari keluarga petani dan sederhana di Martapura (Banjar) Kalsel, 5 Nopember 1963. Kini menjalani profesi sebagai guru sejak tahun 1988. Mata pelajaran PPKn/PKn. Saat ini (2017) bertugas di SMPN 4 Pelaihari Kab.Tanah Laut Kalsel. Mulai menulis artikel tentang pendidikan secara rutin sejak tahun 2013. Tulisan artikel banyak dikirim dan terbit pada koran lokal, Banjarmasin Post dan Radar Banjarmasin. Tahun 2015, penulis membukukan artikel-artikel yang pernah terbit pada koran lokal dalam sebuah buku "OPINI SANG GURU" (edisi pertama,2015) lalu buku " OPINI SANG GURU "Edisi Kedua (2017),dan insyaallah akan dilanjutkan dengan buku "OPINI SANG GURU" edisi ketiga ,dan seterusnya.Dalam bentuk tulisan ilmiah, penulis bersama dengan guru-guru Kalsel yang pernah mengikuiti Lomba Inovasi Pembelajaran Kemdikbud tahun 2015, 2016,dan 2017, sedang menyusun dan menerbitkan buku " INOVASI PEMBELAJARAN' ,yang akan diterbitkan dalam beberapa edisi. Setiap edisi terbit diisi oleh 5-6 guru penulis. Buku "INOVASI PEMBELAJARAN" berisi naskah karya tulis inovasi pembelajaran yang pernah masuk worshop dan finalis Lomba Inovasi Pembelajaran, rencananya akan diterbitkan pada akhir tahun 2017 untuk edisi pertama, dan awal tahun 2018 untuk edisi kedua... dan seterusnya. Penulis, bertindak sebagai koordinator pengumpulan naskah tulisan,mengedit, dan mengirimkannya ke penerbit buku di Kalsel. Semoga buku " INOVASI PEMBELAJARAN' karya guru 'Banua' untuk Indonesia akan dapat menginspirasi guru untuk membuat inovasi pembelajaran, menulis, dan membukukannya. Semoga.

LEAVE A REPLY